Solar Tracker, Solusi Cerdas Efisiensi Energi Surya di Lahan Pertanian Off-Grid

Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s Polbangtan Bogor

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Solar Tracker, Solusi Cerdas Efisiensi Energi Surya di Lahan Pertanian Off-Grid
POLBANGTAN BOGOR: Direktur Yoyon Haryanto mengatakan Polbangtan Bogor berkomitmen mencetak SDM pertanian yang adaptif dan inovatif. Inovasi Solar Tracker menjadi bukti konkret bahwa mahasiswa mampu mendukung pertanian berbasis energi terbarukan.

 

Kota Bogor, Jabar (B2B) -  Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan dorongan kuat terhadap pemanfaatan energi terbarukan, sebuah inovasi sederhana namun berdampak besar hadir dari tangan kreatif generasi muda. 

Teknologi solar tracker berbasis Real Time Clock (RTC) menjadi jawaban atas tantangan rendahnya efisiensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) konvensional, khususnya pada lahan off-grid, lahan pertanian di daera terpencil yang tidak terhubung dengan jaringan listrik PLN.

Inovasi PLTS berbasis RTC dikembangkan oleh Wendy Saputra, mahasiswa program studi Teknologi Mekanisasi Pertanian pada Polbangtan Bogor. Tujuannya, optimalkan penyerapan energi matahari melalui sistem pelacakan otomatis yang mampu menyesuaikan posisi panel surya sepanjang hari. 

Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengapresiasi inovasi Wendy Saputra, karena PLTS berbasis RTC berbeda dengan panel statis, yang hanya menangkap sinar matahari dari satu arah, sedangkan sistem yang dikembangkan Wendy Saputra memastikan panel selalu menghadap posisi matahari secara presisi.

Inovasi mahasiswa Polbangtan Bogor sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa inovasi tersebut sangat mendukung arah pembangunan pertanian modern yang berkelanjutan. 

“Pemanfaatan energi terbarukan di sektor pertanian menjadi langkah strategis meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Inovasi Solar Tracker membuktikan bahwa generasi muda kita mampu menghadirkan solusi nyata bagi ketahanan energi sekaligus ketahanan pangan nasional,” katanya.

Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian RI (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menilai inovasi tersebut sebagai bagian penting dari transformasi pertanian berbasis teknologi. 

“Kami terus mendorong lahirnya inovasi-inovasi terapan seperti ini. Solar Tracker berbasis RTC tidak hanya meningkatkan efisiensi energi, juga menjadi sarana pembelajaran bagi petani dan generasi muda mengadopsi teknologi modern,” katanya.

Polbangtan Bogor
Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Yoyon Haryanto mengapresiasi PLTS berbasis RTC, merupakan wujud nyata dari sinergi pendidikan vokasi dan kebutuhan lapangan. 

“Polbangtan Bogor berkomitmen mencetak SDM pertanian yang adaptif dan inovatif. Teknologi ini menjadi contoh konkret bagaimana mahasiswa mampu menjawab tantangan riil di lapangan, khususnya dalam mendukung pertanian berbasis energi terbarukan,” katanya.

Kehadiran solar tracker berbasis RTC, ungkap Yoyon Haryanto, menjadi bukti bahwa inovasi lokal mampu menjawab tantangan global. 

"Di tangan generasi muda, energi matahari tidak hanya menjadi sumber cahaya, juga harapan baru bagi kemandirian energi dan masa depan pertanian Indonesia," katanya.

Meski memiliki keunggulan dalam efisiensi dan presisi, teknologi ini tetap memiliki tantangan, seperti biaya awal yang relatif lebih tinggi serta kebutuhan pemeliharaan berkala. Namun, dengan manfaat jangka panjang yang ditawarkan, investasi ini dinilai sangat layak, terutama bagi pengembangan energi di wilayah off-grid.

Dampak Signifikan
Wendy Saputra mengatakan karya inovasinya mengandalkan integrasi teknologi mekanik dan elektronik. Sistem ini menggunakan motor aktuator linier, modul RTC DS3231, serta layar LCD I2C yang dikontrol melalui perangkat lunak. 

"Penyesuaian sudut panel dilakukan secara berkala, dimulai dari sudut awal 25 derajat dan bertambah setiap jam mengikuti pergerakan matahari," katanya.

Hasilnya pun tidak main-main. Dari serangkaian uji coba, inovasi tersebut mampu meningkatkan daya output hingga 28% dan arus listrik hingga 23% dibandingkan panel surya statis. 

Peningkatan tersebut menjadi bukti, inovasi sederhana dapat memberikan dampak signifikan, terutama bagi wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik nasional.

Tak hanya soal teknologi, implementasi sistem tersebut juga dirancang aplikatif. Dimulai dari survei lokasi, perakitan sistem, hingga monitoring dan evaluasi dilakukan secara sistematis. 

Hal ini membuka peluang besar bagi petani maupun masyarakat di daerah terpencil yang termasuk lahan off grid untuk memanfaatkan energi surya secara mandiri.

Sementara Kepala Pusat Pendidikan Pertanian  Muhammad Amin, menekankan pentingnya penguatan ekosistem inovasi di lingkungan pendidikan pertanian. 

“Inovasi seperti solar tracker ini harus terus dikembangkan dan direplikasi. Ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang membangun kemandirian energi di tingkat petani dan memperkuat daya saing sektor pertanian kita,” katanya. [wisda/timhumas polbangtanbogor] 

 

 

 

Bogor City of West Java [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

[B2B] Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.