Dari Lahan Kacang Tanah, Inovasi Mekanis Lahirkan Harapan Baru Efisiensi Panen

Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s Polbangtan Bogor

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Dari Lahan Kacang Tanah, Inovasi Mekanis Lahirkan Harapan Baru Efisiensi Panen
POLBANGTAN BOGOR: Direktur Yoyon Haryanto mengatakan inovasi mekanisasi dirancang oleh Irsyad Ginanjar, mahasiswa Prodi Teknologi Mekanisasi Pertanian, dengan hasil uji coba mampu mencapai efisiensi kerja hingga 79%.

 

Kota Bogor, Jabar (B2B) - Di hamparan lahan kacang tanah yang selama ini identik dengan kerja manual dan tenaga besar, sebuah inovasi mulai mengubah cara petani memanen. Bukan lagi sekadar mencabut satu per satu dengan tangan, kini proses panen dapat dilakukan lebih cepat, praktis dan efisien melalui alat panen kacang tanah tipe lifting mekanis.

Inovasi mekanisasi dirancang oleh Irsyad Ginanjar, mahasiswa prodi Teknologi Mekanisasi Pertanian Polbangtan Bogor sebagai jawaban atas rendahnya efisiensi panen kacang tanah di Indonesia. 

Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengatakan bahwa selama ini, proses panen dan perontokan masih dilakukan secara terpisah, memakan waktu, serta membutuhkan banyak tenaga kerja. Melalui alat ini, kedua proses tersebut digabungkan dalam satu sistem terpadu.

Inovasi mekanisasi diapresiasi oleh Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman, yang menjadi kunci dalam mendorong modernisasi pertanian nasional. Transformasi pertanian tidak bisa dilepaskan dari inovasi alat dan mesin pertanian. 

"Kehadiran alat panen kacang tanah menjadi solusi nyata untuk meningkatkan efisiensi, menekan biaya tenaga kerja, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti juga menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam melahirkan inovasi berbasis kebutuhan lapangan. 

“Inovasi menunjukkan bahwa generasi muda pertanian mampu menghadirkan teknologi tepat guna yang langsung bisa dimanfaatkan petani. Ini adalah bagian dari upaya kita membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern,” katanya.

Polbangtan Bogor
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto apresiasi inovasi mekanisasi, yang memanfaatkan komponen mekanis seperti motor 35 watt, sistem puli dan v-belt serta rangka besi yang kokoh, alat ini mampu mengangkat tanaman kacang tanah sekaligus merontokkan hasilnya. 

"Desainnya dirancang menggunakan pendekatan rekayasa teknik modern menjadikan alat ini tidak hanya fungsional, tetapi juga mudah dioperasikan di lapangan," katanya.

Inovasi mekanisasi dirancang oleh Irsyad Ginanjar, mahasiswa Prodi Teknologi Mekanisasi Pertanian Polbangtan Bogor, dengan hasil uji coba menunjukkan mampu mencapai efisiensi kerja hingga 79 persen. 

Angka tersebut menjadi bukti bahwa mekanisasi sederhana dapat memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produktivitas petani.

Di balik angka-angka tersebut, tersimpan cerita tentang bagaimana inovasi lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Proses perancangan dimulai dari desain teknis, pabrikasi alat, hingga pengujian langsung di lahan pertanian. 

Setiap tahap menjadi pembelajaran berharga dalam menciptakan teknologi yang aplikatif dan sesuai kebutuhan petani.

Yoyon Haryanto, menyebut inovasi sebagai bukti keberhasilan pendidikan vokasi dalam menjawab tantangan sektor pertanian. Kementan mendorong mahasiswa untuk tidak hanya belajar teori, tetapi juga menciptakan solusi nyata. 

"Alat ini menjadi contoh konkret bagaimana inovasi lahir dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan petani di lapangan,” katanya.

Sementara Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menekankan bahwa inovasi seperti ini harus terus didorong untuk dikembangkan lebih luas. “Kita perlu memperkuat ekosistem inovasi di bidang pertanian. Teknologi seperti alat panen kacang tanah ini harus direplikasi dan disempurnakan agar semakin banyak petani yang merasakan manfaatnya,” tuturnya.

Meski demikian, inovasi ini masih memiliki ruang untuk pengembangan. Beberapa catatan seperti kestabilan alat dan sistem perontokan yang perlu disempurnakan menjadi tantangan berikutnya. Namun, hal tersebut tidak mengurangi nilai penting dari inovasi ini sebagai langkah awal menuju mekanisasi pertanian yang lebih luas.

Di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan nasional, inovasi sederhana seperti ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil -dari lahan kacang tanah, oleh tangan-tangan kreatif anak bangsa, untuk masa depan pertanian Indonesia yang lebih maju. [wisda/timhumas polbangtanbogor]

 

 

 

Bogor City of West Java [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

[B2B] Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.