Kompetensi Penyuluh, Kementan gelar Pelatihan Agribisnis Kakao & Kelapa Dalam

Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Kompetensi Penyuluh, Kementan gelar Pelatihan Agribisnis Kakao & Kelapa Dalam
BBPP BATANGKALUKU: Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani [tengah] pada penutupan pelatihan di Gowa, Sulsel [insert kanan atas]; 36 penyuluh dari sejumlah kabupaten di Sulsel yang dibagi dua kelompok antusias mengikuti pelatihan.

 

Gowa, Sulsel (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku terus mendorong peningkatan kompetensi penyuluh pertanian sebagai garda terdepan dalam mendampingi petani. 

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan upaya tersebut ditempuh BBPP Batangkaluku antara lain melalui ´Pelatihan Agribisnis Kakao dan Kelapa Dalam bagi Penyuluh Pertanian´ yang berlangsung selama lima hari, 24 - 28 Agustus 2026 di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Upaya tersebut sejalan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, keberhasilan hilirisasi harus dimulai dari penguatan sektor hulu, terutama melalui penyediaan benih unggul yang berkualitas dan berkelanjutan.

“Hilirisasi perkebunan merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah, daya saing, dan kesejahteraan pekebun," katanya.

Benih unggul menjadi fondasi utama agar produktivitas meningkat dan hasil perkebunan mampu bersaing di pasar nasional maupun global.

Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti bahwa peningkatan kualitas hasil pertanian dan kesejahteraan petani sangat terkait dengan pengolahan hasil pertanian.

BBPP Batangkaluku

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan, pelatihan dilaksanakan dalam dua kelompok yakni Pelatihan Agribisnis Kakao dan Pelatihan Agribisnis Kelapa Dalam. 

Pada Pelatihan Agribisnis Kakao, peserta terdiri atas 10 orang dari Kabupaten Gowa, 5 orang dari Kabupaten Takalar, dan 3 orang dari Kota Makassar. 

Sementara itu, peserta Pelatihan Agribisnis Kelapa Dalam terdiri atas 12 orang dari Kabupaten Takalar, 3 dari Kabupaten Maros dan 3 dari Provinsi Sulsel.

"Masing-masing pelatihan diikuti oleh 18 orang penyuluh pertanian dari sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan," katanya.

Pada Pelatihan Agribisnis Kakao, kata Jamaluddin Al Afgani, peserta mendapat materi Pengembangan Diri dan Interaksi Sosial, Perencanaan dan Pelaksanaan Budidaya Tanaman Kakao, Pelaksanaan Panen dan Pascapanen, Pengolahan Hasil Kakao, Analisa Usaha Tani dan Pemasaran.

Sementara, pada Pelatihan Agribisnis Kelapa Dalam, peserta dibekali materi Pengembangan diri dan Interaksi Sosial, Perencanaan dan Pelaksanaan Budidaya Tanaman Kelapa, Pelaksanaan Panen dan Pascapanen, Pengelolaan Hasil Kelapa (virgin coconut oil), Analisa Usaha Tani, serta Pemasaran.

Hulu ke Hilir

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan, rangkaian materi dirancang untuk memberikan pemahaman pada penyuluh mengenai pengelolaan komoditas dari hulu hingga hilir.

Dengan demikian, penyuluh diharapkan tidak hanya mampu mendampingi petani meningkatkan produktivitas, juga mendorong terciptanya nilai tambah dari hasil pertanian.

“Kualitas produk pertanian dan peningkatan ekonomi petani sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengolah hasil pertanian sehingga memiliki nilai tambah lebih tinggi,” katanya.

Penguatan kompetensi penyuluh tidak hanya mencakup aspek teknis budidaya, juga perlu diarahkan pada kemampuan mengelola komoditas pertanian secara utuh dari hulu hingga hilir.

Melalui pelatihan ini, BBPP Batangkaluku berharap para penyuluh dapat mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh di wilayah kerja masing-masing. 

Testimoni Peserta

Yaumil Ashari Halim, salah satu peserta pelatihan agribisnis kakao mengungkapkan bahwa materi budidaya kakao menjadi salah satu materi yang menarik selama pelatihan. 

Materi tersebut memberikan wawasan mengenai penerapan metode budidaya terbaru sebagai upaya mengembangkan budidaya kakao dari pola konvensional, termasuk melalui perbanyakan klon dalam satu hamparan.

Hal yang sama juga diungkapkan peserta pelatihan agribisnis kelapa dalam, Darmiati bahwa materi pembuatan virgin coconut oil merupakan materi yang paling berkesan.

"Selama ini petani di wilayah binaannya belum melakukan produksi sampai ke tahap pemurnian minyak," katanya.

Penutupan Pelatihan

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani, pada penutupan pelatihan mengajak penyuluh agar mengedukasi petani untuk memperbaiki kualitas tanah.

"Hal itu sejalan upaya mencapai swasembada pangan dan peningkatan produksi semua tanaman, karena tanah merupakan solusi untuk mendapatkan hasil optimal," katanya.

Penyuluh juga diharapkan mampu menjadi penghubung antara inovasi, teknologi, dan kebutuhan petani sehingga pengembangan agribisnis kakao dan kelapa dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi pelaku utama dan pelaku usaha pertanian. [fauzan/ilham/timhumas bbppbatangkaluku]

 

 

 

 

 

 

Gowa of South Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.