Strategi Akses Modal, Kunci Sukses Brigade Pangan Peroleh Kredit KUR
The Agricultural Library Support Indonesian Farmers to Attain Food Self-sufficiency
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Pandeglang, Banten (B2B) - Tak Hanya teori, penguatan kapasitas pelaku usaha pertanian juga butuh praktik langsung di lapangan. Berangkat dari semangat itu, Kementerian Pertanian RI khususnya Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) melalui Pertanian Press menggelar kegiatan Tektokan edisi kedua pada Kamis (2/4) di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan, kegiatan tersebut menjadi ruang belajar yang menggabungkan literasi dan aksi nyata, agar pelaku usaha pertanian semakin siap berkembang dan memanfaatkan berbagai peluang usaha.
Mengusung tema ´Strategi Akses Modal Brigade Pangan´, Tektokan kali ini mengangkat buku ´Akses Modal Antigagal Untuk Brigade Pangan´ sebagai rujukan utama.
Buku yang baru dirilis oleh Pertanian Press tersebut ditulis oleh Rizky Permana dari Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBMPKP) Ciawi.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung petani dan pelaku usaha pertanian melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Program ini bukan sekadar kebijakan, tetapi wujud nyata upaya mempercepat tercapainya swasembada pangan.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengapresiasi antusiasme tinggi para penyuluh dan petani dalam kegiatan tersebut.
Dia menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara petani, penyuluh, dan narasumber agar akses pembiayaan dapat tepat sasaran serta berdampak langsung pada peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.
BB Pustaka
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP mengatakan Tektokan yang digelar merupakan lanjutan dari Tektokan edisi pertama yang telah menyedot perhatian para petani dan penyuluh.
Tektokan edisi kedua ini menghadirkan narasumber penulis buku Helmi Wijayadi, Kepala Cabang BRI BO Pandeglang, serta Pranata Bagus Kristanto, Analis PSP Pertama.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Kelompok Substansi Penerbitan, Eni Kustanti, yang menegaskan bahwa Tektokan hadir sebagai ruang temu antara penulis dan pelaku utama sektor pertanian. Diharapkan terjadi transfer pengetahuan yang aplikatif dan mudah diterapkan di lapangan.
"Harapannya inspirasi, ide, dan gagasan penulis yang dituangkan dalam bukunya tersampaikan dengan baik," kata Eni.
Sementara itu Nofri, Ketua Kelompok Substansi Penerapan Modernisasi Pertanian BRMP Banten menyambut positif kegiatan Tektokan.
Menurutnya, Brigade Pangan memiliki peran strategis dalam mendorong peningkatan produktivitas pertanian nasional.
"Bisa meningkatkan indeks pertanaman yang tadinya dua kali setahun, kita harapkan dengan adanya Brigade Pangan ini bisa masuk di musim tanam berikutnya", kata Nofri.
Tantangan Utama
Kemudian pada sesi pemaparan materi, Pranata Bagus Kristanto menjelaskan berbagai tantangan utama dalam usaha pertanian yang selama ini dihadapi pelaku usaha.
“Tantangan tersebut meliputi keterbatasan akses permodalan, inovasi dan teknologi, distribusi dan akses pasar, ketergantungan terhadap musim, ketersediaan dan kualitas lahan, serta regenerasi petani.” Ujarnya
Kendala petani melakukan bisnis pertanian, yang pertama akses terhadap permodalan, kedua adalah keterbatasan inovasi dan teknologi, yang ketiga distribusi dan akses pasar.
Keempat, ketergantungan pada musim. Kelima, ketersediaan dan kualitas lahan, dan keenam regenerasi petani.
Paparan tersebut sejalan dengan fokus utama Tektokan, yakni mengupas strategi membangun usaha pertanian yang sehat melalui pengelolaan keuangan yang tepat, termasuk dalam pengajuan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Dari sisi perbankan, Helmi Wijayadi memberikan sejumlah tips praktis agar pengajuan KUR dapat disetujui. Dia menekankan bahwa kepercayaan bank menjadi kunci utama dalam memperoleh akses pembiayaan, sehingga pelaku usaha perlu memahami dan memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Prinsip 5C
Helmi menjelaskan pentingnya prinsip 5C yang terdiri dari Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition, serta 2P yaitu Purpose dan Payment, sebagai dasar penilaian dalam proses pengajuan kredit.
Sejalan dengan itu, Rizky Permana menegaskan bahwa buku yang ditulisnya diharapkan dapat menjadi panduan praktis bagi pelaku usaha pertanian dalam mengakses modal dan mengelola keuangan usaha secara lebih baik. "Buku itu harapannya bisa jadi guidance teman-teman secara praktis" tambah Rizky.
Ia juga menambahkan bahwa peningkatan literasi keuangan menjadi hal penting agar pelaku usaha memahami aspek dasar yang menentukan kesehatan usaha, mulai dari modal, omzet, keuntungan, hingga arus kas.
Lebih dari 50 peserta yang terdiri atas penyuluh pertanian dan manajer Brigade Pangan di wilayah Pandeglang mengikuti kegiatan ini. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam sesi diskusi yang membahas strategi penguatan usaha pertanian, khususnya dalam hal akses permodalan.
Melalui kegiatan Tektokan ini, diharapkan para penyuluh pertanian dan Brigade Pangan mampu menerapkan strategi akses modal secara efektif, sehingga usaha pertanian dapat menjadi lebih bankable, produktif, dan berkelanjutan. [dimas/shinta/timhumas smkppnbanjarbaru]
Pandeglang of Banten [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
