Takalar Didorong jadi Motor Produksi, Kementan Percepat Luas Tambah Tanam

Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Takalar Didorong jadi Motor Produksi, Kementan Percepat Luas Tambah Tanam
BBPP BATANGKALUKU: Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani [duduk, ke-2 kiri] pada Rakor LTT Kabupaten Takalar, yang dibuka oleh PJ LTT Sulsel, Muhammad Taufiq Ratule di kantor Dinas TPHP Takalar.

 

Takalar, Sulsel (B2B) - Upaya percepatan peningkatan produksi pertanian terus diperkuat oleh Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Rapat Koordinasi (Rakor) Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) di Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Jumat (10/4).

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani selaku Penanggung Jawab (PJ) LTT Takalar mengatakan Rakor yang digelar di kantor Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHP) Pemkab Takalar, yang dipimpin oleh Muhammad Taufiq Ratule selaku PJ LTT Sulsel.

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, percepatan tanam merupakan faktor krusial menghadapi tantangan perubahan iklim yang dapat menekan produksi.

“Kalau kita lambat tanam, kita berisiko kehilangan produksi. Karena itu harus serentak, masif, dan tidak boleh terlambat,” katanya.

Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya peran penyuluh memastikan keberhasilan program di lapangan.

“Penyuluh harus memastikan tanam berjalan tepat waktu dan sesuai rekomendasi. Ini bukan sekadar tanam, tapi memastikan produksi benar-benar terjaga,” katanya.

BBPP Batangkaluku

Kepala BBPP Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani mengatakan Rakor LTT Sulsel di Takalar melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Mulai dari jajaran Kementan, pemerintah daerah hingga penyuluh pertanian di Kabupaten Takalar.

Muhammad Taufiq Ratule yang juga Dirjen Hortikultura Kementan menegaskan, peningkatan LTT harus terus dijaga untuk mempertahankan capaian swasembada pangan.

Dia mengungkapkan, produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,6 juta ton, melampaui rata-rata produksi sebelumnya, di angka 31 juta ton.

“Swasembada tidak hanya untuk satu tahun, tetapi harus berkelanjutan. Ke depan, kita tidak hanya menargetkan swasembada, juga ekspor beras sebagai kontribusi Indonesia bagi dunia,” katanya.

Jamaluddin Al Afgani selaku PJ LTT Takalar menegaskan komitmennya memperkuat kapasitas penyuluh sebagai ujung tombak di lapangan.

"Kementan telah menyiapkan program pelatihan dan sertifikasi bagi 80 penyuluh di wilayah Sulawesi, termasuk satu angkatan khusus untuk Kabupaten Takalar," katanya.

Kementan memastikan penyuluh tetap mendapatkan dukungan penuh, ungkap Jamaluddin Al Afgani, tugas kami adalah meningkatkan kompetensi mereka agar mampu menjalankan peran secara optimal di lapangan.

Dia menambahkan, LTT menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan serta mempercepat musim tanam guna menjaga target produksi dan ketahanan pangan nasional.

"Melalui Rakor, diharapkan percepatan tanam di Kabupaten Takalar berjalan efektif dan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi pangan nasional secara berkelanjutan," ungkap Jamaluddin Al Afgani. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]

 

 

 

 

 

Gowa of South Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.