Kementan Percepat Tanam Oplah dan CSR untuk Jaga Produksi Pangan
Indonesian Govt Increase of Rice Production across the Country
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Sukabumi, Jabar (B2B) - Dalam rangka mendukung Program Ketahanan Pangan melalui pencapaian swasembada pangan nasional berkelanjutan, Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) melaksanakan Gerakan Tanam Serempak, Jumat (22/5/2026).
Kegiatan tanam dipusatkan di Desa Bojonglegok, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, serta dilaksanakan serentak di berbagai wilayah Indonesia pada lokasi Optimalisasi Lahan (Oplah) Tahun 2024 dan 2025, serta lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun 2025.
Hadir di lokasi kegiatan di Sukabumi antara lain Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, Bupati Sukabumi, yang diwakili Staf Ahli Bupati, Tri Romadhono beserta jajaran pemerintah daerah.
Secara nasional, gerakan tanam serentak ini dilaksanakan di 26 provinsi dengan target tanam sekitar 50 ribu hektare. Kegiatan mencakup lokasi Optimalisasi Lahan (Oplah) Tahun 2024 seluas 21.093 hektare, Oplah 2025 seluas 27.472 hektare, serta Cetak Sawah Rakyat (CSR) Tahun 2025 seluas 1.700 hektare.
Provinsi yang berpartisipasi dalam kegiatan ini antara lain Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Papua, Papua Selatan, dan Papua Barat Daya, serta sejumlah wilayah lainnya.
Gerakan ini menjadi langkah konkret Kementerian Pertanian dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan produktif guna memperkuat ketahanan pangan nasional dan mendukung tercapainya swasembada padi secara berkelanjutan.
Selain itu, percepatan tanam juga menjadi strategi antisipasi terhadap dampak perubahan iklim, termasuk potensi El Nino, yang berisiko menurunkan produksi pangan akibat berkurangnya ketersediaan air dan mundurnya musim tanam.
Langkah Strategis
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa percepatan tanam serentak menjadi langkah strategis dalam menjaga stabilitas produksi nasional di tengah tantangan global dan iklim.
Percepatan tanam dilakukan untuk menjaga momentum produksi nasional agar kebutuhan pangan tetap terpenuhi di tengah ancaman kekeringan dan perubahan iklim.
Menteri Pertanian juga telah menerbitkan surat edaran kepada kepala daerah sebagai langkah mitigasi dan antisipasi musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus mendatang.
Dalam surat edaran tersebut, pemerintah daerah diminta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kekeringan melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, pendataan potensi sumber air, serta optimalisasi indeks pertanaman di wilayah masing-masing.
Selain itu, langkah mitigasi juga dilakukan melalui percepatan tanam, pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, penggunaan benih tahan kekeringan, serta pembangunan infrastruktur air seperti embung, long storage, dan sumur bor guna menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
Indeks Pertanaman
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa keberhasilan gerakan tanam serentak sangat ditentukan oleh pengawalan di lapangan, khususnya oleh penyuluh pertanian bersama petani.
“Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat di lapangan. Penyuluh bersama petani menjadi kunci untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan memberikan hasil optimal,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa gerakan tanam serentak yang kembali dilaksanakan untuk keenam kalinya menjadi upaya percepatan peningkatan indeks pertanaman di berbagai wilayah.
“Kami kembali melaksanakan Gerakan Tanam Serentak untuk keenam kalinya yang dipusatkan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dan diikuti 25 provinsi di seluruh Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Alhamdulillah, lebih dari 50 ribu hektare lahan telah kembali tertanami,” ujarnya.
“Gerakan ini menjadi akselerator untuk mendorong petani terus melakukan tanam setelah panen, sehingga produktivitas dan indeks pertanaman dapat meningkat, dari satu kali tanam menjadi dua hingga tiga kali tanam dalam setahun,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan bahwa percepatan tanam perlu dilakukan dengan memanfaatkan sisa air pada penghujung musim hujan agar tanaman dapat tumbuh optimal sebelum memasuki periode kering.
“Penggunaan alat dan mesin pertanian seperti rice transplanter, drone pertanian, dan dukungan teknologi lainnya akan mempercepat proses tanam, meningkatkan efisiensi, serta membantu petani dalam menghadapi keterbatasan tenaga kerja,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan agar kegiatan tanam tidak hanya dilakukan saat gerakan tanam serentak, tetapi terus berlanjut secara konsisten di lapangan.
“Tanam harus terus berjalan setiap hari, tidak hanya saat gerakan tanam serentak saja. Penyuluh juga harus tetap semangat mendampingi petani dalam kegiatan pertanaman di wilayah masing-masing,” tegasnya.
Antusias Daerah
Dalam sesi dialog, Bupati Mesuji, Hj. Elfianah Khamamik, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan Kementerian Pertanian dalam meningkatkan indeks pertanaman di Kabupaten Mesuji.
Apresiasi terhadap pelaksanaan gerakan tanam serentak juga disampaikan oleh Bupati Aceh Besar, Muharram Idris; Bupati Pohuwato, Saipul A. Mbuinga; Bupati Deli Serdang, Asri Ludin Tambunan; Sekretaris Daerah Pinrang, Andi Calo Kerrang; serta Staf Ahli Bupati Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Andrianto Wicaksono.
Mereka menilai gerakan tanam serentak memberikan dampak positif terhadap peningkatan produktivitas pertanian di wilayah masing-masing.
Menanggapi berbagai kebutuhan yang disampaikan daerah, Kepala BPPSDMP menyampaikan apresiasi atas partisipasi aktif seluruh pemerintah daerah dan menegaskan bahwa kebutuhan pendukung pertanian dapat diusulkan melalui mekanisme yang berlaku.
“Untuk kebutuhan alsintan, benih, jalan usaha tani, dan kebutuhan pendukung lainnya dapat segera diusulkan sesuai mekanisme yang ada agar dapat segera ditindaklanjuti,” ujarnya.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP), Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), pemerintah daerah, hingga penyuluh pertanian dan petani di lokasi pelaksanaan.
Gerakan tanam serentak juga menjadi bagian dari upaya modernisasi pertanian dan regenerasi petani melalui pelibatan generasi muda dalam pembangunan sektor pertanian nasional. [esap/timhumas bppsdmpkementan]
Sukabumi of West Java [B2B] - The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
