Pacu Produksi Pangan, BBPP Batangkaluku Dukung Kementan gelar Gertam Serempak
Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Nganjuk, Jatim (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) menggelar Gerakan Tanam (Gertam) Serempak pada 26 provinsi, sebagai langkah percepatan peningkatan produksi pangan nasional serta memperkuat capaian Swasembada Pangan. Gertam Serempak fokus untuk mempercepat pemanfaatan lahan Program Optimalisasi Lahan (Oplah) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR) agar segera berproduksi dan meningkatkan luas tanam pada sejumlah sentra produksi.
Gertam Serempak dipusatkan di Desa Gemenggeng, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur pada Sabtu (18/7) yang dilaksanakan pada lahan Oplah Tahun 2024 - 2025 serta CSR Tahun 2025.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah mempercepat peningkatan indeks pertanaman dan produktivitas lahan, sebagai fondasi menjaga ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan percepatan tanam merupakan strategi penting untuk menjaga momentum peningkatan produksi pangan nasional.
"Percepatan tanam dilakukan agar kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi sekaligus memastikan lahan-lahan yang telah mendapat dukungan pemerintah segera berproduksi dan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi pangan nasional," katanya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan Gertam Serempak bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan gerakan nasional untuk meningkatkan luas tanam, mempercepat peningkatan Indeks Pertanaman (IP) serta mendorong produksi pangan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
"Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan kuat. Penyuluh bersama petani menjadi ujung tombak, untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan menghasilkan produksi yang optimal," katanya.
Menurut Kabadan SDM, Kementan menargetkan IP mencapai 200 pada akhir Juli 2026 sebagai salah satu indikator peningkatan produktivitas lahan.
"Tujuan kita adalah meningkatkan indeks pertanaman. Tantangan tentu ada, tetapi dengan kerja keras dan kolaborasi semua pihak saya yakin target tersebut dapat tercapai," ungkap Idha Widi Arsanti yang akrab disapa Santi.
Cadangan Beras Pemerintah
Keberhasilan Swasembada Pangan yang telah diumumkan Presiden RI Prabowo Subianto merupakan hasil kerja bersama seluruh insan pertanian, mulai dari petani, penyuluh, pemerintah daerah hingga pemerintah pusat.
Capaian tersebut, lanjut Santi, tercermin dari meningkatnya Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog hingga sekitar 5,2 juta ton pada pertengahan Juli 2026, atau menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Sementara itu, serapan beras dalam negeri telah mencapai sekitar 3,4 juta ton setara beras.
"Hal itu menunjukkan berbagai program peningkatan produksi yang dijalankan pemerintah mulai memberikan hasil nyata dan menjadi modal penting menjaga stabilitas pangan nasional," jelasnya.
Selain meningkatkan produktivitas, Kementan juga terus memperluas areal pertanian melalui program ekstensifikasi yang didukung penerapan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS).
Program PM-AAS
Kabadan Santi menambahkan, Program PM-AAS mengintegrasikan mekanisasi, konsolidasi lahan, dan pengelolaan usaha tani modern guna meningkatkan efisiensi sekaligus produktivitas pertanian.
"PM-AAS menjadi salah satu langkah penting dalam mempercepat transformasi menuju pertanian modern yang lebih maju, efisien, dan berkelanjutan," katanya.
Gertam Serempak melibatkan pemerintah daerah, penyuluh, Brigade Pangan, TNI-Polri dan petani di seluruh lokasi pelaksanaan.
Melalui percepatan tanam di lahan Oplah dan CSR, Kementan berharap peningkatan luas tanam dan produktivitas dapat terus terjaga sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mempertahankan capaian swasembada pangan nasional secara berkelanjutan. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]
Nganjuk of East Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
