Kementan Dorong Pemanfaatan Limbah Kulit Buah untuk Kosmetik dan Pupuk Organik
The Agricultural Library Support Indonesian Farmers in Achieving Food Self-sufficiency
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Kota Bogor, Jabar (B2B) - Limbah kulit buah yang kerap dianggap sampah ternyata bisa diolah menjadi produk bernilai guna. Ide sederhana tersebut diperkenalkan oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui ´Workshop Mengolah Limbah Kulit Buah di Taman Baca Pustaka Dramaga pada Senin (09/03).
Kegiatan workshop mengajak masyarakat, khususnya ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Beta Meca, Kader PKK, kader Posyandu dan ibu rumah tangga di sekitar Taman Baca Pustaka, untuk belajar memanfaatkan limbah organik menjadi produk bernilai guna.
Melalui workshop ini, pengetahuan yang diperoleh dari aktivitas membaca tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga diwujudkan dalam keterampilan praktis yang bermanfaat bagi rumah tangga sekaligus mendukung pengelolaan pertanian yang berkelanjutan.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kebijakan strategis dan berkelanjutan merupakan kunci utama dalam membangun sektor pertanian Indonesia.
"Kebijakan pertanian memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan masa depan sektor agrikultur di seluruh Indonesia," katanya.
Kebijakan yang tepat, ungkap Mentan, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani, sementara kebijakan yang keliru justru dapat menyulitkan jutaan rakyat.
Sementara, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan bahwa untuk mengembangkan usaha tani perlu ekosistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Ruang Belajar
Mewakili Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP, Ketua Tim Kerja Layanan Perpustakaan, Sutarsyah menyampaikan bahwa perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, juga dapat menjadi ruang belajar bersama untuk meningkatkan keterampilan masyarakat.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menunjukkan bahwa informasi dan pengetahuan yang diperoleh dari perpustakaan dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam memanfaatkan limbah organik yang sering dianggap tidak berguna,” ujarnya.
Materi workshop disampaikan oleh pengelola Perpustakaan Desa Benteng sekaligus Pengurus Bank Sampah Asri Mandiri Ciampea Bogor, Siti Maryam yang menyatakan bahwa pentingnya pemanfaatan limbah organik rumah tangga, khususnya kulit buah, yang dapat diolah menjadi ecoenzyme.
"Ecoenzyme merupakan cairan alami serbaguna yang dihasilkan dari proses fermentasi molase, kulit buah, dan air," katanya.
Cairan ini memiliki berbagai manfaat, antara lain sebagai pembersih alami untuk pakaian, peralatan dapur, dan lantai, serta dapat dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik alami seperti face mist, penghilang flek dan jerawat, obat kumur, deodorant hingga pupuk tanaman.
Menurutnya, pemanfaatan limbah organik tidak hanya bermanfaat bagi rumah tangga, juga bagi kelestarian lingkungan.
Selanjutnya, dia menyampaikan pesan kunci dalam kegiatan ini dengan mengajak masyarakat untuk mulai mengubah cara pandang terhadap sampah organik. “Kita jaga alam, alam jaga kita."
Praktik Langsung
Para peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan ecoenzyme. Bahan dan alat yang digunakan meliputi molase, kulit aneka buah, air, toples plastik, talenan, pisau, spatula, timbangan, dan wadah takar.
Proses pembuatannya dimulai dengan mencuci dan mencacah kulit buah, kemudian mencampurkan air dan molase di dalam toples, dilanjutkan dengan memasukkan potongan kulit buah.
Campuran tersebut kemudian ditutup rapat dan difermentasi selama sekitar 90 hari di tempat yang kering dan teduh hingga ecoenzyme siap dipanen.
Melalui praktik ini, peserta dapat secara langsung memahami proses pengolahan limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna. proses fermentasi ecoenzyme yang akan dipanen setelah sekitar 90 hari.
Suasana workshop berlangsung hangat dan interaktif, terutama saat sesi diskusi dan tanya jawab, di mana para peserta antusias mengajukan berbagai pertanyaan terkait pemanfaatan ecoenzyme dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan adanya kegiatan ini, BB Pustaka dapat memberikan edukasi kepada masyarakat agar dapat semakin memahami bahwa pengetahuan yang diperoleh dari membaca dapat diimplementasikan menjadi keterampilan praktis yang bermanfaat, baik untuk lingkungan maupun peningkatan kualitas hidup keluarga. [Ira Dwi/Shinta/timhumas BB Pustaka]
Bogor City of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
