Panen Tak Lagi Dijual Mentah! Kementan & ATR/BPN Cetak Petani Muda jadi Agripreneur

West Java`s Lembang Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Panen Tak Lagi Dijual Mentah! Kementan & ATR/BPN Cetak Petani Muda jadi Agripreneur
BBPP LEMBANG: Plt Kepala BBPP Lembang, Adi Destriadi Sutisna mengatakan Peserta pelatihan diajak memahami pentingnya kewirausahaan, mengenali peluang usaha berbasis komoditas lokal hingga strategi membangun usaha yang berkelanjutan.

 

Bandung Barat, Jabar (B2B) - Kementerian Pertanian RI melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) terus memperkuat pemberdayaan petani muda melalui pelatihan pengolahan hasil pertanian berbasis agribisnis. 

Plt Kepala BBPP Lembang, Adi Destriadi Sutisna mengatakan kolaborasi kedua kementerian diwujudkan pada ´Pelatihan Petani Muda´ yang diikuti 26 peserta dari kelompok binaan Program Akses Reforma Agraria Tahun 2026 di BBPP Lembang - Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat (Jabar) pada Selasa (14/7).

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa hilirisasi merupakan strategi penting meningkatkan nilai ekonomi sektor pertanian.

"Komoditas pertanian tidak boleh hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Melalui pengolahan, petani dapat memperoleh nilai tambah lebih tinggi sehingga pendapatan dan kesejahteraan mereka ikut meningkat," katanya.

Senada hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa transformasi pertanian harus diawali peningkatan kapasitas SDM yang inovatif dan adaptif terhadap perkembangan pasar.

"Pelatihan menjadi instrumen penting untuk mencetak SDM pertanian yang mampu menciptakan produk bernilai tambah, mengembangkan usaha, dan menjadi agripreneur yang berdaya saing," katanya.

BBPP Lembang
Plt Kepala BBPP Lembang, Adi Destriadi Sutisna mengatakan peserta pelatihan berasal dari Kelompok Masjid Al Hidayah (Pasir Biru), Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (Cipadung), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (Lengkong), Kelompok Pisang Linting dan perwakilan Seksi Penataan dan Pemberdayaan Kantor Pertanahan Kota Bandung.

"Pelatihan menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya petani muda yang tidak hanya mampu membudidayakan komoditas pertanian, juga mengolahnya menjadi produk bernilai tambah sehingga mampu meningkatkan daya saing usaha dan kesejahteraan petani," katanya.

Dalam pelatihan tersebut, Widyaiswara Ahli Madya BBPP Lembang, Elsy Lediana, membawakan materi bertajuk ´Dari Panen Menjadi Penghasilan: Membangun Jiwa Usaha Melalui Nilai Tambah Produk Pertanian´. 

Peserta pelatihan diajak memahami pentingnya kewirausahaan, mengenali peluang usaha berbasis komoditas lokal hingga strategi membangun usaha yang berkelanjutan.

Menurut Elsy, keberhasilan petani saat ini tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, juga kemampuan mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

"Bersama petani, kita membangun usaha pertanian yang bernilai tambah, berdaya saing dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Produk Inovatif
Adi Destriadi Sutisna mengatakan, peserta tidak hanya mendapatkan teori, juga mengikuti praktik di Laboratorium Pengolahan Hasil BBPP Lembang. 

"Mereka belajar mengolah komoditas pakcoy dan jamur menjadi berbagai produk inovatif seperti nugget jamur, jamur krispi dan sorbet pakcoy," katanya.

Selain mempraktikkan proses produksi, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai standar pengolahan, pengemasan, hingga peluang pemasaran sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan komoditas segar.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif mengikuti setiap tahapan praktik dengan pendampingan widyaiswara dan instruktur BBPP Lembang, mulai pengolahan bahan baku hingga menghasilkan produk siap jual.

Sebagai pelengkap pembelajaran, peserta diajak mengunjungi Inkubator Agribisnis BBPP Lembang untuk melihat secara langsung penerapan teknologi budidaya modern, termasuk pengembangan tanaman hias dan screen house melon. 

Kunjungan tersebut memberikan gambaran nyata mengenai integrasi budidaya, pengolahan hasil, hingga pengembangan bisnis pertanian modern.

Melalui sinergi Kementerian Pertanian dan ATR/BPN, pelatihan ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak petani muda yang tidak hanya piawai bertani, juga mampu mengembangkan usaha berbasis hilirisasi, menciptakan produk bernilai tambah, serta membuka peluang usaha baru yang mendukung ketahanan pangan dan pertumbuhan ekonomi daerah. [afriski/chetty/timhumas bbpplembang]

 

 

 

 

West Bandung of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.

Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.