UPT Pelatihan Kementan Asah `Hardskill & Softskill` Gen Z melalui Agroeduwisata
West Java`s Lembang Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Bandung Barat, Jabar (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui UPT Pelatihan, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang mengenalkan ´Edukasi Pertanian´ pada 71 siswa/i SMK Negeri 2 Sukaraja Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang didampingi gurunya pada Kamis (21/5).
Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika mengatakan kegiatan ´Edukasi Pertanian´ dilakukan dalam upaya regenerasi pertanian seraya mengenalkan hardskill dan softskill bidang pertanian.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi bangsa dan membutuhkan peran generasi muda sebagai motor pembangunan.
“Yang bisa mengubah republik ini adalah sektor pertanian. Indonesia memiliki keunggulan komparatif di sektor ini,” katanya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menambahkan bahwa regenerasi pertanian menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya kebutuhan pangan nasional.
“Usia petani saat ini semakin menua, sementara kebutuhan pangan terus meningkat. Keterlibatan generasi muda menjadi sangat penting untuk memastikan keberlanjutan sektor pertanian,” katanya.
BBPP Lembang
Rombongan siswa diterima oleh jajaran manajemen BBPP Lembang mewakili Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika.
Perwakilan guru pendamping, Yeni Yuliani, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi rangkaian kegiatan sekolah, yakni praktik kerja lapangan yang bertujuan memperkenalkan dan membuka wawasan tentang dunia usaha dan dunia industri pada sektor pertanian.
Rombongan beranjak ke Lahan Praktik BBPP Lembang, Inkubator Agribisnis (IA) BBPP Lembang seluas 2,5 hektar.
Siswa-siswi menyimak penjelasan para petugas lapangan tentang kegiatan agribisnis yang ada, dan mengeksplor lebih jauh melalui diskusi lebih detail dengan petugas.
Di screen house tanaman hias, petugas menjelaskan dan mempraktikkan perbanyakan tanaman hias kaktus dengan teknik menempel (grafting).
Rumah Pangan Lestari
Di sudut lain, di kawasan Rumah Pangan Lestari (RPL), petugas menerangkan dengan sederhana konsep RPL mengintegrasikan tanaman, ternak dan ikan.
Petugas BBPP Lembang lainnya, menjelaskan kegiatan budidaya sayuran yang diterapkan baik di lahan, di dalam polybag, dan memanfaatkan teknologi hidroponik sistem deep flow technique dan nutrient film technique.
Beranjak ke lahan praktik lainnya yaitu rumah kompos, murid kelas XI ini diskusi dengan petugas tentang proses pembuatan pupuk organik dan pengaplikasiannya ke tanaman.
Dijelaskan pula pemanfaatan agensia hayati Trichoderma yang mampu menyehatkan tanaman.
Koleksi buah-buahan anggur dan melon yang dibudidayakan di dalam screen juga tak luput dari diskusi petugas lapangan dengah guru dan murid.
Budidaya anggur yang cukup mudah diaplikasikan di pekarangan asalkan kuncinya adalah proses prunning yang tepat maka tanaman anggur akan menghasilkan buah anggur berkualitas.
Green House
Sementara itu melon varietas glamour yang dibudidayakan dengan sistem irigasi tetes di dalam green house juga menjadi bahan diskusi, apalagi sedang masa panen sehingga buah melon yang segar masih menggantung cantik di pohon menjadi bahan diskusi.
Peserta kunjungan juga tampak sumringah saat mencicipi daging buah melon yang rasanya manis karena mencapai brix 16.
Selanjutnya, petugas menjelaskan alur pengolahan biji kopi varietas arabica hingga menjadi secangkir kopi melalui proses pascapanen kopi yang baik, mulai dari panen biji kopi, pencucian dan sortasi, pulping, pengeringan, hulling, dan pengemasan biji kopi.
Kunjungan berakhir di laboratorium pengolahan hasil pertanian. Petugas menjelaskan koleksi olahan pangan yang dihasilkan seperti es krim, sorbet, manisan terung, cabai blok, sistik wortel yang menarik minat siswa dan guru untuk mencicipi rasanya.
Melalui kegiatan ini, Kementan berharap semakin banyak generasi muda, khususnya Gen Z, yang memandang sektor pertanian sebagai bidang yang modern, inovatif, sekaligus menjanjikan sebagai peluang usaha di masa depan. [chetty/afriski/timhumas bbpplembang]
West Bandung of West Java [B2B] - The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
