Kerja dari Rumah

AWR KostraTani Perekat Petani dan Penyuluh Bekerja untuk Indonesia


Kerja dari Rumah

 

M. ACHSAN ATJO
Wartawan

 

TUJUAN BESAR, harus ditempuh dengan melalui tahapan target. Analogi sederhananya, para pendaki gunung cukup dimotivasi oleh keberadaan pos satu, pos dua dan seterusnya hingga mencapai puncak gunung. Hal itu sangat membantu, karena jika tidak, kelelahan dan kebosanan akan meruntuhkan semangatnya untuk mencapai ketinggian.

Begitu pula dengan Agriculture War Room [AWR] dikembangkan oleh Kementerian Pertanian RI untuk mendukung Komando Strategis Pembangunan Pertanian [AWR - KostraTani]. Meskipun ada pihak-pihak yang merespon gagasan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo sebagai hal yang berlebihan, lantaran sektor pertanian is business as usual.

Benarkah demikian? Sektor pertanian tidak memerlukan fasilitas teknologi informasi era 4.0? Seperti halnya Traffic Management Center [TMC] dari Kepolisian RI [Polri]; Area Traffic Control System [ATCS] dari dinas perhubungan [Dishub]. Semua fasilitas canggih tersebut bertujuan menciptakan keteraturan dan stabilitas peran dan fungsi masing-masing. Tujuan serupa sebiduk sehaluan dengan war room dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana [BNPB] dan Badan Metrologi, Klimatologi dan Geofisika [BMKG]. Tugasnya memantau, menganalisa dan mengatasi kondisi darurat. 

Lantas pertanian tidak membutuhkan keteraturan dan solusi ketika terjadi anomali? Distribusi pangan tidak merata memicu gejolak harga. Kekeringan dan banjir menekan hasil produksi pertanian, dan sederet kendala lapangan di sektor pertanian.

"Pembangunan sektor pertanian jalan terus setiap hari. Tidak boleh berhenti meskipun ada pandemi global COVID-19. Ingat jaga jarak dan hindari kerumunan serta sering cuci tangan. Kalau pun besok kiamat, kita harus tetap olah lahan dan olah tanam. Meskipun besok mati, kita harus tetap menanam padi dan lain-lain. Tanam .... tanam ... tanam ..... Petani tetap gas pol tanam. Pangan harus selalu tersedia. Tidak boleh ditunda apalagi dihentikan," kata Kepala BPPSDMP Kementan, Prof Dedi Nursyamsi via AWR KostraTani, Jumat pagi [20/3] untuk memberi semangat pada petani dan penyuluh tetap bekerja, seraya mensosialisasikan Protokol Kewaspadaan di tengah ancaman wabah virus Corona 

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, penyuluh pertanian di Sabang, Aceh dapat komunikasi tatap muka [telekonferensi] dengan koleganya di Merauke, Papua secara real time. Mereka terpisah jarak 5,245 km dan perbedaan waktu dua jam. Sekitar 1.851 km jarak antara Miangas di Sulawesi Utara dengan Pulau Rote di Nusa Tenggara Timur [NTT]. Kecanggihan IT era 4.0 menyatukan mereka dalam ruangan yang sama bernama AWR KostraTani.

Sebagaimana diketahui KostraTani adalah ´nama digital´ untuk BPP selaku locust pembangunan pertanian yang didukung oleh 16 fungsional di BPP di antaranya Analisis Ketahanan Pangan, Pengawas Alsintan dan Medik Veteriner. Artinya, KostraTani bukan hanya tanggung jawab penyuluh pertanian di kecamatan, namun didukung penuh oleh seluruh unit kerja eselon satu Kementerian Pertanian RI melalui fungsionalnya di BPP. Sementara AWR adalah ´jalan tol´ yang dapat digunakan 16 jabatan fungsional di BPP melaksanakan tugas, peran dan fungsinya mendukung pembangunan pertanian.

Belum genap 100 hari diresmikan oleh Mentan SYL melalui soft launching pada awal Februari 2020, AWR KostraTani mulai menunjukkan manfaat dan kemampuannya sebagai ´mesin penggerak´ pembangunan pertanian Indonesia.

Hari-hari ini di tengah kekhawatiran publik terhadap virus Corona, pemicu pandemi global COVID-19, AWR KostraTani menunjukkan taji sebagai bukti kecanggihan teknologi era 4.0 menembus ruang dan waktu.

Hal itu pula yang memudahkan Kepala BPPSDMP Prof Dedi Nursyamsi, Jumat pagi [20/3] melakukan koordinasi dan sinkronisasi kepada petani, penyuluh pertanian, peneliti dan widyaiswara tetap bekerja keras di tengah ancaman virus Corona yang mematikan melalui AWR KostraTani.

"Apabila situasinya tidak memungkinkan untuk kunjungan langsung kepada petani, kegiatan penyuluhan tidak boleh terhenti. Apalagi saat ini, banyak petani yang memiliki smartphone berbasis Android untuk mengakses informasi pertanian secara online," kata Prof Dedi Nursyamsi menyampaikan arahan Mentan SYL.

Dia mengingatkan penyuluh yang tersebar di seluruh Indonesia mengikuti kebijakan pemerintah daerah masing-masing, terutama kebijakan bekerja di rumah [working from home/WFH]. Kendati begitu, penyuluh pertanian harus tetap bekerja produktif menyesuaikan kebijakan pemerintah daerah. Sedangkan kegiatan yang sifatnya kerumunan dan mengundang orang banyak untuk dikurangi, namun untuk kunjungan ke petani diperkirakan lebih aman.

"Apabila tidak memungkinkan kunjungan ke petani, kegiatan penyuluhan bisa dilakukan secara online. Penyuluhan bisa tetap dilakukan melalui Kostratani melalui telekonferensi, karena itulah inti pembangunan pertanian di era 4.0," kata Prof Dedi Nursyamsi didampingi Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian [Pusluhtan] Leli Nuryati dan dipandu Kasubbid Informasi dan Materi Penyuluhan - Pusluhtan, Septalina Pradini.

Saat ini jumlah penyuluh pertanian mencapai 40 ribu orang lebih. Jumah penyuluh pertanian yang ASN sekitar 30 ribu orang dan Tenaga Harian Lepas Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) sekitar 12 ribu orang. Sementara jumlah BPP sekitar 5.646 unit di tingkat kecamatan, sementara jumlah total kecamatan adalah 7.136 atau 1.490 kecamatan belum didukung oleh BPP, sehingga ada sekitar 120 BPP yang membina petani di lebih dari satu kecamatan.

Kepala Pusluhtan, Leli Nuryati menambahkan kegiatan penyuluhan harus tetap dilaksanakan dengan memanfaatkan informasi teknologi. Bahkan Pusluhtan BPPSDMP sudah menugaskan para penyuluh membuat materi penyuluhan untuk kegiatan telekonferensi dengan Konstratani di daerah.

“Seluruh penyuluh sudah kami minta membuat infografis yang akan ditampilkan di KostraTani agar mudah dipahami daerah. Kami juga mendorong untuk video conference. Tiap hari sudah kita jadwalkan untuk masing-masing daerah,” tuturnya.

Menurutnya, dalam waktu dekat, Pusluhtan BPPSDMP berencana melakukan kerjasama dengan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan untuk sosialisasi program ProPaktani di Kostrada dan Kostrawil. “Jadi nanti tiap program dikaitkan dengan masing-masing direktoratnya. Ini kita lakukan untuk mengurangi tatap muka langsung.”

Dedi Nursyamsi selaku profesor riset dan ahli tanah memperkirakan wilayah pedesaan cenderung lebih aman dari wabah Corona, yang digolongkan sebagai ´zona hijau´ karena jarang dikunjungi orang dari luar pedesaan apalagi warga negara asing. "Sebaiknya petani dan warga desa mengurangi dulu perjalanan ke kota. Lebih baik diam saja di desa menggarap sawah dan ladang."

Dia mengingatkan, kelompok tani [Poktan] dan Gapoktan tetap bekerja keras mendukung peningkatan produksi pertanian. "Jangan biarkan sejengkal tanah di lahan pertanian tidak ditanami. Setelah panen tanam lagi. Tanam ... tanam ... tanam ..."

Prof Dedi Nursyamsi menambahkan agar petani jangan lupa konsultasi dan koordinasi dengan penyuluh pertanian, yang berperan membimbing, mengawal dan mendampingi petani untuk menghasilkan produksi berkualitas, dengan menerapkan good agriculture practises [GAP]. Gunakan pupuk berimbang, mekanisasi pertanian, pengendalian hama dan penanggulangan hama secara ramah lingkungan.

 

Keterangan Foto: Kasubbid Sistem Jaringan Komputer - Pusdatin, Eko Nugroho [ke-3 kiri] dan Kasubbid Informasi dan Materi Penyuluhan - Pusluhtan, Septalina Pradini [ke-4 kanan] bersama sebagian Tim AWR KostraTani [Foto: Tim AWR]

 

Disclaimer : B2B adalah bilingual News, dan opini tanpa terjemahan inggris karena bukan tergolong berita melainkan pendapat mewakili individu dan/atau institusi. Setiap opini menjadi tanggung jawab Penulis