184 Tahun Balai Besar Pustaka
Melestarikan Peradaban Pertanian dan Menumbuhkan Pengetahuan
HERYATI SURYANTINI
Pustakawan
Balai Besar Perpustakaan & Literasi Pertanian
Kementerian Pertanian RI
DI JALAN protokol Kota Bogor di Provinsi Jawa Barat berdiri kokoh sebuah bangunan yang menyimpan sejarah panjang peradaban pertanian Indonesia.
Mei 1842. Tepat 184 silam, atas inisiatif Dr. Justus Karl Hasskarl, Asisten Hortulanus dan Diard sekaligus anggota Natuurkundige Commissie, mengajukan usul kepada Johannes Elias Teijsmann, Direktur Kebun Raya Bogor, 1830 hingga 1869, untuk membeli dua puluh lima buku milik Jacques Pierot.
Pembelian buku tersebut menjadi cikal bakal terbentuknya sebuah perpustakaan yang memiliki fungsi menyediakan literatur terutama dalam bidang botani bagi para ilmuwan dunia.
Lembaga tersebut dahulu dikenal sebagai Bibliotheek ‘S Lands Plantetuin te Buitenzorg dan kemudian Bibliotheca Bogoriensis ini berkembang menjadi pusat dokumentasi ilmu pengetahuan alam, khususnya pertanian, biologi, perikanan, kedokteran hewan, dan kimia.
Selama 184 tahun, kini Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pustaka, terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman, hingga saat ini menjadi pusat pengetahuan pertanian berbasis digital.
Selain itu, BB Pustaka menjadi perpustakaan pertanian tertua di Indonesia.
Perjalanan panjang tersebut menunjukkan kemampuan lembaga untuk bertahan dan beradaptasi di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat.
Perpustakaan tidak lagi hanya diukur dari jumlah koleksi fisiknya, juga dari kemampuan menyediakan akses pengetahuan yang berdampak nyata bagi pembangunan pertanian dan peningkatan literasi masyarakat.
Tumbuh dan Adaptif
Sejatinya perpustakaan adalah suatu kelembagaan yang bertumbuh (living organism) sebagaimana dikemukakan oleh S.R. Ranganathan yang menyatakan bahwa perpustakaan adalah sebuah organisme yang hidup (the library is a living organism).
Demikian pula dengan BB Pustaka, perpustakaan ini berkembang, terus tumbuh, dan beradaptasi. Sejak berdiri sebagai perpustakaan kecil untuk mendukung penelitian botani kolonial, lembaga ini mengalami berbagai perubahan nama, struktur, dan mandat kerja.
Perubahan tersebut mencerminkan perluasan fungsi dari sekadar pengelola koleksi menjadi pusat pengelolaan pengetahuan pertanian nasional.
Transformasi kelembagaan tersebut berlangsung beberapa kali mulai dari Bibliotheca Bogoriensis menjadi Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian, kemudian berkembang menjadi Pusat Perpustakaan dan Literasi Pertanian hingga akhirnya menjadi Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian pada 2025.
Kini, BB Pustaka tidak hanya menyediakan literatur, juga mengembangkan pengelolaan pengetahuan berbasis teknologi informasi, standardisasi perpustakaan pertanian, serta diseminasi inovasi pertanian.
Di era digital, BB Pustaka mengintegrasikan jurnal elektronik, repositori digital, dan teknologi kecerdasan buatan untuk memperluas akses informasi.
Perannya pun bergeser, tidak hanya sekadar tempat penyimpanan buku melainkan bertranformasi menjadi agriculture knowledge center yang mendukung literasi pertanian dan pembangunan pertanian berkelanjutan.
Manuskrip hingga Big Data
Pengembangan koleksi menjadi fondasi utama keberadaan BB Pustaka. Pada awalnya, koleksi didominasi oleh laporan penelitian botani dan jurnal berbahasa Belanda.
Seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna, kebijakan pengembangan koleksi berubah menjadi lebih modern dan digital.
Koleksi diperoleh melalui pembelian, pertukaran publikasi, hibah, dan kewajiban serah simpan karya cetak maupun digital dari unit kerja lingkup Kementerian Pertanian.
BB Pustaka juga melanggan berbagai basis data jurnal internasional, di antaranya ScienceDirect, SpringerLink, dan ProQuest untuk memperluas akses informasi ilmiah.
Sebagai pusat deposit publikasi pertanian nasional, BB Pustaka menghimpun berbagai karya ilmiah dan publikasi digital melalui Repositori Pertanian.
Selain itu, perpustakaan memanfaatkan sumber informasi open access untuk memperkaya koleksi sehingga informasi pertanian mutakhir dapat diakses lebih cepat dan luas.
BB Pustaka memiliki ribuan koleksi antikuariat yang bernilai sejarah tinggi, termasuk buku botani tertua terbitan tahun 1586. Koleksi-koleksi tersebut rentan rusak sehingga diperlukan strategi pelestarian yang terencana.
Pelestarian dilakukan melalui pendekatan preventif dan kuratif dengan konservasi, restorasi, serta digitalisasi koleksi.
Proses digitalisasi memungkinkan koleksi langka tetap dapat diakses masyarakat tanpa merusak dokumen asli.
Dengan demikian, memori kolektif pertanian masa lalu tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan inovasi pertanian masa depan.
Pengolahan Koleksi
Pengolahan koleksi di BB Pustaka mengalami perkembangan panjang dari sistem manual menuju sistem digital terintegrasi.
Pada masa awal, katalog disusun secara manual berdasarkan pengarang, judul, dan nomor kelas. Sejak 1948, BB Pustaka menggunakan Universal Decimal Classification (UDC) untuk mengelompokkan koleksi pertanian secara lebih rinci dan sistematis.
Dalam proses katalogisasi, BB Pustaka menggunakan standar internasional seperti AACR2 dan AGROVOC dari FAO untuk menjaga konsistensi dan akurasi metadata.
Perkembangan teknologi kemudian membawa perpustakaan memasuki era otomasi melalui CDS/ISIS, WinISIS, hingga Simpertan dan INLISLite. Saat ini, pengolahan koleksi tidak lagi hanya berfokus pada buku fisik, juga pada objek digital dan repositori institusi.
Repositori Pertanian menjadi pusat penyimpanan publikasi digital (Kementan) yang memungkinkan akses terbuka terhadap ribuan dokumen ilmiah.
Ekosistem Digital
Layanan BB Pustaka berubah secara drastis dari model layanan pasif menjadi layanan inklusif berbasis digital.
Pada masa lalu, akses informasi hanya dapat dilakukan secara langsung di perpustakaan melalui sistem kartu katalog dan ruang koleksi tertutup.
Memasuki era otomasi dan internet, layanan berkembang menjadi lebih terbuka melalui OPAC, layanan referensi virtual, perpustakaan digital, serta penyediaan informasi melalui media sosial dan aplikasi mobile.
Informasi ilmiah juga dikemas ulang menjadi infografis, video, dan panduan praktis yang lebih mudah dipahami oleh petani dan penyuluh.
Transformasi layanan ini menjadikan BB Pustaka hadir lebih dekat dengan masyarakat melalui pendekatan perpustakaan khusus berbasis inklusi sosial, layanan virtual 24 jam, dan penyediaan akses terbuka terhadap repositori digital.
Perpustakaan kini berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan penguatan literasi pertanian yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Jejaring Kolaborasi
BB Pustaka memiliki peran penting dalam pembangunan jaringan informasi pertanian nasional dan internasional.
Sejak tahun 1970-an, ditunjuk sebagai pusat jaringan informasi pertanian dan biologi Indonesia serta menjadi national center AGRIS/CARIS dan focal point AGLINET FAO.
Kerja sama dengan sistem informasi lain seperti FAO, AIBA, NFIS, ACIAR, dan lembaga penelitian global lainnya dilakukan BB Pustaka dalam pertukaran data bibliografi, dokumentasi hasil penelitian, dan memperkaya koleksi pertanian global.
Di tingkat nasional, kerja sama dilakukan dengan Perpustakaan Nasional, BRIN, perguruan tinggi, dan berbagai kementerian/lembaga.
Jejaring tersebut memperkuat akses informasi ilmiah, mempercepat diseminasi inovasi pertanian, dan mendukung pembangunan kebijakan berbasis data.
Pilar Informasi Pertanian
Di usia ke-184 tahun, BB Pustaka berperan sebagai penyedia informasi strategis bagi pembangunan pertanian berkelanjutan melalui berbagai program inovatif.
Salah satunya, Program Pustaka Bergerak (Puber), BB Pustaka menjalankan pendekatan perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan menjangkau masyarakat secara langsung melalui pelatihan, tutorial, dan pendampingan usaha berbasis pengetahuan pertanian.
BB Pustaka juga aktif mendokumentasikan pengetahuan tacit dari para pejabat fungsional Kementan, penyuluh dan petani menjadi publikasi, video teknologi, dan media informasi lainnya melalui Pertanian Press.
Selain itu, berbagai program literasi digital seperti LOVE (Live of Agricultural Virtual Literacy), Bincang Cerdas Literasi (BCL), info literasi, dan pemanfaatan media sosial menjadi sarana penting memperluas penyebaran pengetahuan pertanian untuk mendukung kedaulatan pangan dan pertanian berkelanjutan.
Melintasi waktu hampir dua abad, BB Pustaka menunjukkan bahwa perpustakaan mampu berkembang dari lembaga penyimpan koleksi menjadi pusat pengetahuan yang adaptif dan inovatif.
BB Pustaka meneguhkan posisinya tidak hanya menjaga warisan intelektual pertanian Indonesia, tetapi juga aktif mengalirkan pengetahuan dan memastikan bahwa penderasan pengetahuan terus berjalan.
Dengan semangat meliterasi negeri, BB Pustaka terus menjadi lumbung ilmu pengetahuan pertanian yang mendukung kedaulatan pangan dan keberlanjutan pertanian Indonesia.
Disclaimer : B2B adalah bilingual News, dan opini tanpa terjemahan inggris karena bukan tergolong berita melainkan pendapat mewakili individu dan/atau institusi. Setiap opini menjadi tanggung jawab Penulis
