Pertama di Sangihe, Tanam Cabai di Bawah Kelapa Dibiayai Dana Desa

Indonesian Agriculture Anticipate Covid-19 by Weaker Health Systems

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Pertama di Sangihe, Tanam Cabai di Bawah Kelapa Dibiayai Dana Desa
Sukses Costerman tak terlepas dari andil Ellen, penyuluh pertanian BPP Tahuna Barat sebagai KostraTani, yang aktif terjun ke lapangan mendampingi petani binaannya [Foto: istimewa]

Sangihe, Sulut - Lahan kosong di bawah pohon kelapa selama ini diabaikan potensinya untuk bercocok tanam begitu pula halnya di Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Adalah Costerman Yermias, petani muda berinisiatif membudidayakan 2.000 tanaman cabai di bawah pohon kelapa membuatnya meraup panen 1,2 ton dalam satu musim tanam dengan omset Rp72 juta. 

Terobosan Costerman, anggota kelompok tani [Poktan] Tani Berkat di Kelurahan Angges, Kecamatan Tahuna Barat berhasil memotivasi petani setempat. Saat ini petani yang menanam cabai di Poktan Tani Berkat bertambah menjadi delapan orang.

Sukses Costerman tak terlepas dari andil Ellen, penyuluh pertanian BPP Tahuna Barat sebagai KostraTani, yang aktif terjun ke lapangan mendampingi petani binaannya.

Kendati begitu, inisiatif Bupati Jabes Esar Gaghana yang menjadi pangkal keberhasilan setelah menggerakkan warganya untuk wajib menanam melalui program padat karya dari memanfaatkan dana desa. Tujuannya, menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan menjaga stabilitas ekonomi daerah melalui Instruksi Bupati No 521/26/1120 tentang Padat Karya Pertanian.

Alternatif kegiatan yang disodorkan adalah mendorong Bumdes menggelar kegiatan usaha pertanian; memberi bantuan bibit, pupuk dan peralatan kepada petani untuk menanam di pekarangan atau kebun masing-masing; dan membuat rumah pembibitan dan penyemaian bibit tanaman pangan yang hasilnya dibagikan untuk ditanam di pekarangan atau kebun milik warga.

Inisiasi Bupati Jabes EG sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo menggerakkan potensi desa dan masyarakat pedesaan bertani mendukung ketersediaan pangan. Tentunya, tanpa mengabaikan Protokol Kesehatan WHO. "Jaga jarak. Jangan berkerumun. Kenakan masker. Rajin cuci tangan dengan sabun di air yang mengalir."

Sementara Kepala BPPSDMP Prof Dedi Nursyamsi mengaku happy karena penyuluh setia mendampingi petani. petani,.“Lahan pertanian umumnya berada di zona aman atau zona hijau. Limpahan sinar matahari di lahan pertanian akan membuat virus mati." [Liene]

Sangihe of Nort Sulawesi [B2B] - Indonesia´s Agriculture Ministry is in intensive care after testing positive for the novel coronavirus, as civil servants in head office and across the country were ordered to close over the health threat. The World Health Organization has said it is particularly concerned about high-risk nations with weaker health systems, which who may lack the facilities to identify cases, according to senior official of Indonesian Agriculture Ministry.