El Nino 2015 Lebih Kuat dari 1997-1998, Opsi Impor Beras Dikaji Kementan

Indonesian Minister Admits El Nino in 2015 is Stronger than 1997-1998

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


El Nino 2015 Lebih Kuat dari 1997-1998, Opsi Impor Beras Dikaji Kementan
Pusat Prediksi Iklim dan Cuaca AS memperkirakan El Nino akan berlanjut hingga musim salju 2015 di sebagian wilayah dunia yang terdampak fenomena El Nino (Peta & Data: MailOnline)

Jakarta (B2B) - Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman mengakui dampak El Nino 2015 lebih kuat dari 1997, sehingga Kementerian Pertanian RI (Kementan) terus memantau produksi beras sebelum memutuskan opsi impor beras.

"El Nino 2015 lebih kuat dari 1997-1998 dan pemerintah saat itu terpaksa impor beras hingga 7,1 juta ton," kata Mentan Amran Sulaiman yang ditemui di kantornya pada Senin (21/9).

Dia menambahkan, Kementan berupaya menjaga produksi beras nasional agar tidak impor mengacu pada perkiraan produksi 75,55 juta ton gabah kering giling sesuai angka ramalan Badan Pusat Statistik pada awal Juli lalu.

Mentan tidak menampik dampak dari El Nino yang mengakibatkan lebih dari 100.000  hektar sawah mengalami puso, sementara ancaman kekeringan telah diantisipasi dengan mendistribusikan 20.000 pompa air kepada petani.

Sebagaimana diberitakan B2B mengutip MailOnline pada (4/9), kondisi cuaca saat ini memiliki kemiripan dengan peristiwa El Nino besar pada 1997-1998. Prakiraan cuaca menyatakan kondisi El Nino cenderung bertahan sampai Januari 2016.

Fenomena cuaca El Nino saat ini diperkirakan akan mencapai puncaknya antara Oktober 2015 hingga  Januari 2016 dan dapat berubah menjadi salah satu yang terkuat sesuai hasil penelitian, peringatan tersebut dilontarkan oleh para ahli dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO).

Para pakar iklim memperkirakan permukaan air di bagian timur-tengah Samudera Pasifik cenderung meningkat lebih dari dua derajat lebih panas dari suhu rata-rata, yang berpotensi memicu El Nino saat ini menjadi salah satu yang terkuat selama ini.

Biasanya, udara hangat di atas Pasifik timur yang menyebabkan peningkatan curah hujan di atas pantai barat Amerika Selatan dan kondisi kering di kawasan Australia/Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, kata Maxx Dilley, Direktur Prediksi Iklim dan Adaptasi WMO, seperti dilansir MailOnline.

Dilley mengatakan: ´kami mendapatkan El Nino saat ini di luar perkiraan kami, dan petani, petugas penyelamatan bencana dan operator waduk bakal kelabakan mengatasi masalah iklim ini.´

Jakarta (B2B) - Indonesian Agriculture Minister, Andi Amran Sulaiman admits El Nino in 2015 are stronger than in 1997-98, and his ministry continues to monitor the production of rice before deciding rice import options.

"El Nino 2015 stronger than 1997-98 and the government at that time was forced to import up to 7.1 million tonnes of rice," Mr Sulaiman told reporters
who met at his office here on Monday (21/9).

He added that the ministry he leads continue to maintain rice production in order not to import refers to the estimated production of 75.55 million tons of dry milled grain accordance forecast figures Central Statistics Agency in early July.

Minister Sulaiman did not dismiss the impact of El Nino which resulted in over 100,000 hectares of rice fields damaged, while drought has been anticipated by distributing 20,000 water pumps to the farmers.

As reported by the B2B at 4/9, quoting MailOnline conditions bear a resemblance to the huge El Nino event of 1997-98. Forecast says El Nino conditions are likely to last until January.  

The current El Nino weather phenomenon is expected to peak between October and January and could turn into one of the strongest on record, experts from the World Meteorological Organization have warned.

Climate models and experts suggest surface waters in the east-central Pacific Ocean are likely to be more than 2 degrees hotter than average, potentially making this El Nino one of the strongest ever.

Typically, the warm air above the eastern Pacific is causing increased precipitation over the west coast of South America and dry conditions over the Australia/Indonesia archipelago and the Southeast Asia region, said Maxx Dilley, director of the WMO´s Climate Prediction and Adaptation Branch.

Dilley said: ´we have a well-established El Nino event under way,´ and farmers, rescue officials and reservoir operators would be among officials bracing for its rise.´