Songsong Idul Adha, Kementan Edukasi Penanganan Hewan Kurban
The Agricultural Library Support Indonesian Farmers to Attain Food Self-sufficiency
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Kota Bogor, Jabar (B2B) - Menyongsong Hari Raya Idul Adha 1447 H, kebutuhan masyarakat terhadap informasi mengenai penanganan hewan kurban yang aman, sehat dan sesuai syariat semakin meningkat.
Menjawab kebutuhan tersebut, Kementerian Pertanian RI (Kementan) khususnya Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) melaksanakan program Live of Agriculture Virtual Literacy (LOVE) yang disiarkan langsung dari UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) Terpadu Kota Bogor, Rabu (20/5).
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan kegiatan Love mengangkat edukasi bertajuk ´Kupas Tuntas ASUH: Kunci Produk Hewani Aman, Sehat, Halal dan Berkualitas´ yang menjadi upaya nyata meningkatkan literasi masyarakat terkait pentingnya penerapan prinsip ASUH pada produk hewani, khususnya momentum Idul Adha.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan, pengawasan kesehatan hewan menjadi langkah penting menjaga keamanan pangan nasional, terutama menjelang Idul adha saat distribusi ternak meningkat.
"Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi, juga kualitas serta jaminan pangan yang aman, sehat, utuh, dan halal disingkat ASUH. SDM pertanian dan peternakan dituntut profesional dan kompeten mencegah penyebaran penyakit hewan menular maupun zoonosis," katanya.
Hal senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti bahwa penguatan kompetensi SDM melalui pelatihan dan sertifikasi sangat penting.
"Tujuannya, memastikan tenaga di lapangan mampu memberikan edukasi, pengawasan, dan pelayanan terbaik kepada masyarakat menjelang Idul Adha," katanya.
BB Pustaka
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro dalam sambutannya menegaskan bahwa pengelolaan hewan kurban berbasis prinsip ASUH merupakan komitmen berkelanjutan Kementan.
"Momentum Idul Adha menyatukan kepatuhan syariat bagi umat muslim. Melalui literasi ini, kita mengulas kembali bagaimana pengelolaan hewan kurban yang baik dan benar," katanya.
Eko Nugroho DP menambahkan, tantangan mulai dari proses pemilihan hewan kurban dari segi syariat, kesehatan hewan, cara pemotongan yang baik hingga pengelolaan daging kurban yang didistribusikan.
Dari sisi regulasi dan teknis klinis, Erna Tetti Sinaga dari UPTD RPH Terpadu Kota Bogor menjabarkan tentang ketatnya prosedur di RPH yang beroperasi 24 jam.
”Alur pengawasan dimulai dari pemeriksaan dokumen Surat Keterangan Kesehatan Hewan atau (SKKH) untuk melacak zona asal ternak guna mitigasi wabah,” katanya.
Erna menegaskan bahwa petugas medik veteriner melakukan pengawasan ketat melalui dua pilar utama, yaitu pemeriksaan antemortem (sebelum potong) di kandang penampungan untuk mewaspadai penyakit zoonosis berbahaya seperti Antraks, Brucellosis, dan Tuberkulosis serta pemeriksaan postmortem (setelah potong).
Selain itu, RPH menerapkan asas kesejahteraan hewan (Five Freedoms) secara ketat guna memastikan ternak bebas dari stres.
"Sapi wajib diistirahatkan dengan pasokan pakan-minum ad libitum (tidak terbatas), digiring melalui jalur yang aman, dan dieksekusi oleh 10 personel Juru Sembelih Halal (Juleha) resmi yang tersertifikasi di area bersih-kotor yang terzonasi dengan baik," ungkap Erna Tetti Sinaga.
Kualitas Karkas
Penyuluh Pertanian Ahli Muda Kota Bogor, Atep Nurhidayat menyoroti bahwa kualitas karkas kurban dibentuk sejak masa pemeliharaan.
Atep juga apresiasi peningkatan kecerdasan peternak lokal menghindari residu kimia obat-obatan.
"Jika ternak lesu mendekati hari H, peternak kini beralih ke pendekatan alami atau ´bumbu dapur´ berupa jamu tradisional untuk langkah preventif, sehingga aspek keamanan pangan tetap terjaga," ungkapnya.
Bagi wilayah pelosok atau panitia kurban darurat di luar RPH, Atep menekankan pentingnya pendampingan penyuluh agar proses penyembelihan tetap mendekati standar ideal baku.
Langkah Praktis
Ketua Tim Kerja Penyiapan Sampel dan Informasi BPMSP, Wiwit Subiyanti menjelaskan pembahasan dengan mengupas tuntas empat langkah praktis keamanan pangan di hilir dengan membersihkan, memisahkan, mendinginkan dan memasak.
Mengenai pengelolaan pasca-potong oleh panitia lokal, Wiwit mengingatkan larangan keras membuang darah atau mencuci jeroan di sungai.
"Limbah biologis harus ditampung di lubang tanah khusus. Saat proses distribusi, panitia wajib melakukan pemisahan mutlak menggunakan wadah atau plastik berbeda warna antara daging, jeroan merah dan jeroan hijau guna menghindari kontaminasi silang bakteri pembusuk," katanya.
Di tingkat domestik, Wiwit meluruskan mitos seputar pencucian daging bagi rumah tangga (supermom/superdad).
"Pada kondisi normal, jika daging kurban darurat yang diterima tampak kotor karena tidak disembelih dengan sistem gantung, konsumen disarankan mencucinya terlebih dahulu sebelum disimpan," katanya.
Kendati demikian, penyimpanan di dalam freezer disarankan tidak melebihi satu bulan demi menjaga mutu protein. [qornita/shinta/timhumas bbpustaka]
Bogor City of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
