Gerakan Nasional Kakao Didukung ICCO untuk Tingkatkan Ekspor

National Movement Cocoa Supported ICCO, to Increase Exports

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Gerakan Nasional Kakao Didukung ICCO untuk Tingkatkan Ekspor
Jean-Marc Anga menjawab pertanyaan pers (Foto: ado.ci)

Kuta (B2B) - Dewan Kakao Internasional (International Cocoa Council/ICCO) mendukung Gerakan Nasional (Gernas) Kakao Indonesia. ICCO mengakui, persoalan yang dihadapi negara-negara produsen kakao adalah rendahnya produktivitas tanaman lantaran suplai belum mampu memenuhi tingginya permintaan pasar.

"Dilihat dari sisi permintaan dan penawaran, ada defisit suplai kakao secara global sebanyak 45 ribu ton pada 2012/2013. ICCO mendukung negara-negara produsen yang terus meningkatkan penanaman kakao," kata Executive Director ICCO Jean-Marc Anga usai pembukaan Pertemuan Dewan Kakao Internasional ke-87 yang dibuka Menteri Pertanian Suswono di Kuta, Bali, Senin (18/3).

Konsumen kakao saat ini, tambah Jean-Marc Anga, lebih menyukai produk coklat yang kandungan kakaonya mencapai 90%, padahal sekitar 10 tahun hingga 15 tahun lalu konsumen menyukai kandungan coklat maksimal 35%.

"Hal itu berarti ada tuntutan dari konsumen atas suplai kakao yang besar dan ini prospek yang sangat menjanjikan. ICCO optimis, pasar kakao semakin besar karena tingginya permintaan," katanya lagi.

ICCO
ICCO merupakan organisasi kerja sama antara pemerintah dan sekretariatnya berkedudukan di London, Inggris. Anggota ICCO terdiri atas negara-negara produsen dan negara-negara importir kakao. Negara produsen di antaranya Pantai Gading, Ghana, Indonesia, Nigeria, Papua Nugini, Malaysia, Brazil dan Ekuador. Sementara negara importir antara lain Belanda, Inggris, Jerman, Swiss dan Rusia.

Pertemuan negara-negara anggota ICCO diselenggarakan secara tetap, dua kali setahun yakni di London, Inggris dan di salah satu negara anggota ICCO secara bergantian.

"Pertemuan membahas berbagai aspek yang terkait dengan pengembangan industri kakao di negara-negara anggota meliputi hulu-hilir serta berbagai program kerja sama teknis untuk mengatasi masalah dan meningkatkan pengembangan sektor kakao di negara-negara anggota ICCO," kata Jean-Marc Anga.

Kuta (B2B) - International Cocoa Council (International Cocoa Council / ICCO) to support the National Movement (Gernas) Indonesian Cocoa. ICCO acknowledged, the problems faced by cocoa producing countries is the low productivity of the plant because the supply has not been able to meet the high market demand.

"In terms of demand and supply, there is a deficit in the global cocoa supply 45 thousand tons in 2012/2013. ICCO supports the producer countries that continue to enhance the cultivation of cocoa," said the ICCO Executive Director, Jean-Marc Anga in the International Cocoa Council Meeting to-87 were opened by the Minister of Agriculture Suswono in Kuta, Bali, on Monday (18/3).

Consumers currently cocoa added Jean-Marc Anga, more liked cocoa content chocolate products reached 90%, whereas about 10 years until 15 years ago, consumers liked cocoa content up to 35%.

"That means there is a demand from consumers for the supply of cocoa and this is a very promising prospect. ICCO optimistic, cocoa market increased due to high demand," he said.

ICCO
ICCO is the organization of cooperation between the government and the secretariat is based in London, England. ICCO members consist of the producer countries and importing countries cocoa. Producing countries include the Ivory Coast, Ghana, Indonesia, Nigeria, Papua New Guinea, Malaysia, Brazil and Ecuador. While importing countries such as the Netherlands, England, Germany, Switzerland and Russia.

Meeting ICCO member countries held regularly, twice a year ie, in London, UK and one of the ICCO member in turn.

"The meeting discussed various aspects related to the development of the cocoa industry in the member countries include the upstream-downstream and various technical cooperation programs to solve problems and enhance the development of the cocoa sector in ICCO member countries," said Jean-Marc Anga.