Gertam Serempak 70 Ribu Ha, Kementan Kawal Swasembada Pangan Sultra
Sulawesi`s Batangkaluku Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Konawe, Sultra (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) terus mempercepat peningkatan produksi pangan melalui Gerakan Tanam (Gertam) Serempak dengan target tanam nasional mencapai 70.000 hektar. Kegiatan berlangsung serentak pada 25 provinsi, Senin (31/8) yang juga digelar di Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Batangkaluku, Jamaluddin Al Afgani selaku Penanggung Jawab (PJ) Swasembada Pangan Sultra hadir di Konawe, Sultra, mengawal Gertam Serempak via daring dengan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti memimpin Gertam Serempak di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Jamaluddin Al Afgani mengatakan, Gertam Serempak Sultra menjadi bagian dari upaya memperkuat produksi pangan daerah sekaligus mendukung pencapaian swasembada pangan nasional.
Program diarahkan untuk mengoptimalkan lahan yang telah mendapatkan dukungan pemerintah melalui Optimalisasi Lahan (Oplah) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR), sekaligus meningkatkan frekuensi tanam agar lahan dapat dimanfaatkan secara lebih produktif.
Jamaluddin Al Afgani menegaskan, percepatan tanam membutuhkan sinergi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, penyuluh pertanian, Brigade Pangan, hingga petani.
BBPP Batangkaluku
Pengawalan di lapangan diperlukan untuk memastikan lahan yang telah siap segera ditanami dan dikelola secara optimal sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi pangan.
“Percepatan tanam harus dilakukan melalui sinergi seluruh pihak. Lahan yang telah siap harus segera dimanfaatkan dan dikawal agar mampu menghasilkan produksi yang berdampak nyata terhadap ketersediaan pangan di Sulawesi Tenggara,” ujar Jamaluddin.
Menurutnya, Gertam Serempak juga menjadi momentum untuk meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) di berbagai wilayah Sulawesi Tenggara. Dengan peningkatan IP, lahan pertanian diharapkan dapat dimanfaatkan hingga dua bahkan tiga kali musim tanam dalam setahun.
Peningkatan frekuensi tanam tidak hanya berpotensi meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan petani.
Untuk mendukung hal tersebut, penyuluh memiliki peran strategis mendampingi petani, mulai dari persiapan lahan, penerapan teknologi budidaya, pengelolaan air, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Arahan Mentan
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa percepatan tanam merupakan bagian penting dari strategi pemerintah menjaga stabilitas produksi pangan sekaligus memperkuat fondasi swasembada pangan nasional.
“Setiap lahan yang telah mendapatkan dukungan program pemerintah harus segera dimanfaatkan secara optimal agar mampu menghasilkan produksi yang berdampak langsung terhadap ketersediaan pangan nasional,” tegasnya.
Gertam Serempak tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan penanaman bersama-sama, juga sebagai gerakan nasional untuk meningkatkan indeks pertanaman, memperluas areal tanam, dan mempercepat produksi pangan melalui kolaborasi lintas sektor.
Dalam pelaksanaannya, Kementan juga memperkuat langkah mitigasi terhadap potensi dampak El Niño melalui pompanisasi dan irigasi perpompaan (Irpom).
Dukungan tersebut diperlukan untuk menjaga ketersediaan air sehingga kegiatan budidaya dapat tetap berlangsung, terutama di wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan.
Pengelolaan Air
Di Sultra, pengelolaan air menjadi salah satu bagian penting dalam pengawalan swasembada pangan. Penyuluh dan Brigade Pangan didorong memastikan pemanfaatan sarana pengairan dan penerapan teknologi budidaya dilakukan secara tepat sesuai kondisi wilayah dan kebutuhan pertanaman.
"Dari Kabupaten Konawe, pengawalan Gerakan Tanam Serempak dilakukan melalui koordinasi dan konsolidasi bersama jajaran pertanian di daerah," kata Jamaluddin Al Afgani.
Pengawalan tersebut, ungkapnya, mencakup pemantauan realisasi tanam, identifikasi kendala di lapangan dan penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah, penyuluh, Brigade Pangan, dan petani.
Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Konawe, Camat Wonggeduku, kepala desa, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), penyuluh pertanian tingkat provinsi, Babinsa, penyuluh pertanian, petani, serta Brigade Pangan.
"Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya kolaborasi dalam mengawal percepatan tanam dan memastikan program pemerintah dapat diimplementasikan secara efektif di tingkat lapangan," ungkapnya lagi.
Menurutnya, melalui Gertam Serempak 70.000 hektare, Kementan terus mendorong optimalisasi lahan, peningkatan indeks pertanaman, dan percepatan produksi pangan.
Dengan pengawalan yang konsisten serta sinergi seluruh pemangku kepentingan, Sultra diharapkan semakin kuat memberikan kontribusi terhadap terwujudnya swasembada pangan nasional yang berkelanjutan. [ilham/timhumas bbppbatangkaluku]
Konawe of Southeast Sulawesi [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
