Partisipasi UPT Kementan pada Forum BRIN–FAO, Dorong Transformasi Industri Peternakan Berkelanjutan
West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Jakarta (B2B) - Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Pertanian RI (Kementan) menunjukkan komitmen kuat mendorong transformasi sektor peternakan berkelanjutan melalui partisipasi aktif pada forum internasional.
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty bersama sejumlah Widyaiswara menghadiri ´International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation´ yang digelar oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Badan Pangan Dunia/Food and Agriculture Organization (FAO).
Kegiatan berlangsung di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, pada 27 - 28 Maret 2026 yang dihadiri oleh ilmuwan, pembuat kebijakan, pelaku usaha, serta mitra pembangunan dari 33 negara.
Forum BRIN - FAO sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya kolaborasi global dalam menghadapi tantangan pangan dan peternakan ke depan.
“Transformasi industri peternakan tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan sinergi lintas sektor dan lintas negara untuk mewujudkan sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan,” katanya.
Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa penguatan kapasitas SDM menjadi faktor kunci mendorong transformasi sektor peternakan.
“SDM pertanian harus adaptif pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mampu mengimplementasikan praktik peternakan berkelanjutan berbasis sains,” katanya.
BBPKH Cinagara
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan Forum BRIN - FAO menjadi wadah strategis, untuk memperkuat kolaborasi global dalam mendorong transformasi industri peternakan berbasis sains dan inovasi teknologi.
Dalam kegiatan tersebut, Inneke Kusumawaty didampingi oleh Widyaiswara BBPKH Cinagara yakni Heris Kustiningsih dan Ristaqul Husna Belgania.
"Kehadiran delegasi BBPKH Cinagara cerminkan upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia peternakan nasional sekaligus adopsi praktik terbaik global," katanya.
Forum BRIN - FAO, tambah Inneke Kusumawaty, membahas berbagai isu strategis terkait transisi hijau sektor peternakan.
"Salah satu agenda utama adalah Paris Declaration on Sustainable Dairy Development yang tekankan penguatan pasokan susu lokal melalui inovasi, efisiensi produksi, serta kolaborasi lintas sektor," ungkapnya.
Selain itu, kata Inneke Kusumawaty, diskusi juga mengangkat topik Global South Low-Carbon Agricultural Food Systems guna mengeksplorasi penerapan teknologi adaptif pada sistem pertanian di negara berkembang.
Dia menambahkan, partisipasi dalam forum tersebut memberikan pemahaman komprehensif terkait pentingnya transformasi industri peternakan berbasis sains.
Penguatan Peran
Inneke Kusumawaty menyoroti sejumlah pendekatan penting seperti Life Cycle Assessment (LCA), penghitungan jejak karbon, serta pedoman FAO Livestock Environmental Assessment and Performance Partnership dalam menilai kinerja lingkungan sektor peternakan.
"Sektor peternakan harus dipandang sebagai bagian dari rantai nilai industri yang terintegrasi. Mulai dari penyediaan pakan, pengolahan hasil, pemanfaatan teknologi digital, manajemen rantai dingin hingga aspek keberlanjutan lingkungan," katanya lagi.
Lebih lanjut, Inneke Kusumawaty menyebutkan bahwa forum membuka peluang kerja sama yang lebih luas, baik dengan mitra nasional maupun internasional, guna mempercepat transformasi sektor peternakan Indonesia.
Melalui partisipasi ini, BBPKH Cinagara diharapkan semakin memperkuat perannya sebagai UPT pengembangan SDM peternakan dan kesehatan hewan yang adaptif terhadap dinamika global, serta mampu mendorong terwujudnya sistem peternakan modern, efisien, dan berdaya saing global. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]
Jakarta [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
