Kementan Percepat Pengembangan Benih Kelapa Enggano Kualitas Unggul

West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Kementan Percepat Pengembangan Benih Kelapa Enggano Kualitas Unggul
BBPKH CINAGARA: Tenaga Ahli (TA) Mentan Bidang Teknologi Pengelolaan Irigasi Pertanian, Hendri Sosiawan [tengah] didampingi Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty [kemeja hitam] pada kegiatan Monev Program Perbenihan Kelapa seluas 3.000 hektar di Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.

 

Bengkulu Utara, Bengkulu (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) terus bergerak cepat memastikan keberlanjutan sektor perkebunan nasional melalui penguatan komoditas strategis. Langkah nyata ditunjukkan melalui kegiatan ´Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Perbenihan Kelapa seluas 3.000 hektare´ yang berpusat di Desa Banjar Sari, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu pada Rabu (15/7).

Hadir langsung memimpin jalannya pemantauan lapangan, Tenaga Ahli (TA) Menteri Pertanian Bidang Teknologi Pengelolaan Irigasi Pertanian, Hendri Sosiawan. Dalam kunjungan strategis tersebut, hadir mendampingi Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Inneke Kusumawaty.

Ditemui secara terpisah di Jakarta, Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penguatan sektor hulu perkebunan melalui penyediaan benih berkualitas tinggi merupakan komitmen mutlak Kementan mewujudkan swasembada dan kemandirian ekonomi sektor pertanian.

"Kita tidak boleh hanya berfokus pada hasil panen, melainkan harus memperkuat fondasinya sejak dari benih. Kolaborasi yang kuat dan berkesinambungan, pengembangan komoditas kelapa tidak hanya untuk memenuhi pasar domestik, juga diarahkan mampu memberikan nilai tambah ekonomi tinggi demi kesejahteraan masyarakat serta petani di daerah," katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyambut baik langkah Monev tersebut, yang menekankan bahwa implementasi teknologi canggih di Kebun Induk Kelapa menuntut kesiapan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.

"Teknologi modern dan luasnya lahan perbenihan tidak akan berdampak optimal tanpa transformasi SDM. Oleh karena itu, jajaran BPPSDMP bergerak simultan guna melatih, mengedukasi, dan mendampingi para petani lokal agar siap mengadopsi pertanian modern berbasis digital dan berkelanjutan," katanya.

BBPKH Cinagara
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan kegiatan Monev pada pulau terluar Provinsi Bengkulu menjadi langkah krusial mengawal peta jalan pengembangan komoditas kelapa nasional agar berjalan optimal. 

Fokus utama pemantauan meliputi peningkatan kualitas benih unggul, pengelolaan kebun induk yang berbasis teknologi modern, hingga penguatan sistem pengembangan perkebunan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Hendri Sosiawan, menyatakan bahwa aspek pengelolaan air dan teknologi irigasi pertanian memegang peranan vital memastikan tanaman kelapa pada fase perbenihan ini dapat tumbuh dengan produktivitas maksimal.

“Di kawasan pesisir dan kepulauan seperti Enggano, manajemen air harus dilakukan secara presisi dengan sentuhan teknologi pengelolaan irigasi yang adaptif," katanya di sela peninjauan lapangan.

Sinergi antara ketersediaan benih berkualitas dan tata kelola air yang tepat menjadi kunci utama keberhasilan program perbenihan kelapa seluas 3.000 hektare ini agar target kebun induk modern bisa tercapai.

Penguatan Sinergi
Inneke Kusumawati selaku pimpinan Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup BPPSDMP Kementan, yang mendampingi langsung jalannya Monev, menegaskan pentingnya penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengawal proyek strategis ini.

"Selain meninjau langsung kondisi riil di lapangan, momentum ini menjadi wadah krusial untuk mempererat sinergi antara pusat dan daerah membangun sektor perkebunan yang adaptif terhadap tantangan modern" katanya.

Inneke Kusumawati menambahkan, melalui kolaborasi lintas sektor yang kuat tersebut, program perbenihan di Enggano diharapkan tidak hanya mampu menyuplai kebutuhan benih unggul nasional - termasuk mendukung potensi pengembangan komoditas serupa di wilayah sentra lainnya seperti Kalimantan Selatan - juga mampu memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan guna mendongkrak kesejahteraan masyarakat setempat. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]

 

 

 

 

 

North Bengkulu of Bengkulu [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.

Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.