Kementan Dorong Peningkatan Nilai Tambah bagi Kemandirian Ekonomi Perempuan

West Java`s Lembang Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Kementan Dorong Peningkatan Nilai Tambah bagi Kemandirian Ekonomi Perempuan
BBPP LEMBANG: Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika [tengah] membuka Bertani on Cloud (BoC) volume 338 bersama Ketua P4S Raja Rasa, Yani Suryani [kiri] dan widyaiswara yang diikuti 500 peserta via zoom meeting dan 1.800 peserta live streaming via YouTube BBPP Lembang.

 

Bandung Barat, Jabar (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) khususnya Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) pada BBPP Lembang kembali menggelar Bertani on Cloud (BoC) belum lama ini. Kegiatan BoC volume 338 menghadirkan narasumber, Yani Suryani, Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Raja Rasa di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika saat membuka BoC menegaskan tema yang diangkat pada volume 338 adalah Penguatan Nilai Tambah Pertanian dan Kemandirian Ekonomi Perempuan. Sebanyak 500 peserta mengakses BoC melalui aplikasi Zoom Meeting dan 1.800 peserta akses live streaming melalui kanal YouTube dari BBPP Lembang.

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengapresiasi peran perempuan dan terus mendorong perannya dalam membangun perekonomian Indonesia. 

“Ada 49 persen perempuan di Indonesia. Kita butuh banyak perempuan pengusaha untuk membangkitkan ekonomi Indonesia. Memberdayakan perempuan berarti pula memberdayakan keluarga dan memberdayakan generasi masa depan Indonesia,” katanya.

Menurutnya, ada 49 persen perempuan di seluruh Indonesia, yang membutuhkan lebih banyak perempuan pengusaha untuk membangkitkan ekonomi Indonesia. 

Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menegaskan pentingnya peran perempuan memperkuat rantai pasok pangan nasional dan mencapai swasembada pangan berkelanjutan.

"Investasi pada teknologi modern, pengolahan hasil dan distribusi yang efisien oleh pengusaha wanita, dapat mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor sehingga dapat meningkatkan produksi pangan lokal," katanya.

BBPP Lembang
Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika saat membuka kegiatan BoC volume 338 mengingatkan tentang pembangunan pertanian nasional saat ini sangat ditentukan oleh kualitas SDM, untuk memasuki transformasi pertanian dari fase tradisional dengan mengintegrasikan teknologi canggih, mekanisasi dan sistem agribisnis modern.

"Tujuannya, untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, daya saing dan kesejahteraan petani, untuk menghadapi tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim,” katanya.

Ajat Jatnika menambahkan, BoC kali ini sejalan dengan arah kebijakan BPPSDMP Kementan untuk memperkuat peran penyuluh, P4S dan kelembagaan petani sebagai penggerak transformasi ekonomi di pedesaan. 

P4S Raja Rasa, katanya lagi, dikelola oleh seorang wanita tangguh. Peran dan tugas tersebut terkait erat dengan isu Gender, Equality, Disabilty and Social Inclusion disingkat GEDSI. 

"Kami berharap kehadirannya menjadi narasumber, tepat untuk berbagi praktik, baik memperkuat kapasitas dan membangun jejaring antar penyuluh, P4S, dan kelompok tani pada berbagai wilayah di seluruh Indonesia," ungkap Ajat Jatnika. 

P4S Raja Rasa
Dipandu Widyaiswara, Ketua P4S Raja Rasa, Yani Suryani mengelaborasi tentang kegiatan permagangan dan bisnis, terkait erat dengan kiprahnya selaku penggiat hilirisasi komoditas pangan,

Paparannya tergolong clean and clear, mengingat kapasitas Yani Suryani, yang aktif pula menjadi penyuluh swadaya, untuk mendorong dan mendampingi petani binaan melakukan usahatani bidang pengolahan hasil pertanian menjadi aneka olahan pangan. 

Diketahui produk unggulan P4S Raja Rasa adalah comring yang berbahan dasar singkong. Produk lainnya bersama anggota kelompok antara lain keripik singkong, keripik pisang dan gula semut.  

Sementara untuk kegiatan permagangan, P4S Raja Rasa yang didirikan pada 2022 hingga saat ini beranggotakan 30 petani. 

P4S Raja Rasa giat melakukan pendampingan pada kelompok tani (Poktan) dan Kelompok Wanita Tani (KWT) mulai dari identifikasi potensi wilayah, menggali permasalahan, mencari solusi dan memberi pelatihan secara swadaya, juga berkomitmen untuk berkontribusi meningkatkan kompetensi SDM pertanian. 

Sejalan dengan GEDSI, P4S Raja Rasa juga melibatkan petani yang memiliki keterbatasan (disabilitas) karena mempercayai bahwa di balik kekurangan ada kelebihan yang bisa bermanfaat untuk diri dan masyarakat. 

Pada sesi praktik, Yani Suryani didukung pengelola P4S Raja Rasa mempraktikkan pembuatan comring mulai dari pengenalan alat dan bahan, proses penghalusan singkong, mencampurkan dengan bahan lainnya dan bumbu, mencetak dan menggorengnya hingga tingkat kematangan tertentu yang menghasilkan tekstur yang renyah.

Analisa Usaha Tani
Yani Suryani mengingatkan tentang analisa usahatani sederhana, dari tiga kilogram singkong seharga Rp3.000/kg dapat menghasilkan 1 kg comring seharga Rp 65.000. 

"Penganan comring dalam kemasan, nilai jualnya meningkat hingga Rp30.000/toples. Sementara P4S Raja Rasa mampu memproduksi hingga 1,5 ton comring per bulan bahkan saat peak season seperti Lebaran bisa produksi 2 ton comring.

Yani Suryani menambahkan, P4S Raja Rasa mengawali bisnis olahan pangan comring dengan membuat business plan yaitu Business Model Canvas (BMC) sehingga dalam pelaksanaannya berjalan baik karena sudah direncanakan dengan matang. 

Sistem pemasaran comring ala P4S Raja Rasa dilakukan secara langsung ke berbagai segmentasi pasar seperti warung, toko oleh-oleh bahkan sampai ke mancanegara sebagai buah tangan. 

Yani Suryani mengungkapkan comring merupakan hasil kerja keras pengelola P4S kolaborasi dengan anggota KWT lainnya dan dinas terkait yakni Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan UMKM, Dinas Kesehatan, Salman ITB. Tak pelak, kemasannya dilengkapi keterangan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), logo Halal, nilai gizi dan nomor telepon pengelola P4S Raja Rasa.

"Informasi pada kemasan, menjadi sarana promosi yang ampuh untuk menarik minat pembeli membeli dan terus membeli produk comring produksi P4S Raja Rasa," katanya. 

Yani juga membagikan tips tentang pengembangan olahan comring karena terus upgrade diri dengan belajar, mengikuti berbagai forum komunikasi, mengelola media sosial untuk sarana promosi, komunikasi dan update perkembangan teknologi terkini. 

Menurutnya, penguatan nilai tambah menjadi pintu strategis bagi kemandirian ekonomi perempuan melalui praktik nyata dan pengalaman di lapangan. 

"Perempuan bisa menjadi penggerak ekonomi, pencipta inovasi dan penguatan kelembagaan. Pendekatan inklusif mampu memberi dampak ekomoni yang nyata bagi keluarga dan masyarakat sekitar," pungkas Yani Suryani. [yoko/chetty/timhumas bbpplembang]

 

 

 

Bandung Barat of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.