Iptek Pertanian, UPT Kementan Dukung Mahasiswa Unib jadi Petani Modern

West Java`s Lembang Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Iptek Pertanian, UPT Kementan Dukung Mahasiswa Unib jadi Petani Modern
BBPP LEMBANG: Plt Kepala BBPP Lembang, P. Adi Destriadi Sutisna mengatakan kegiatan seminar interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang diikuti Widyaiswara dan mahasiswa PKL. Sejumlah masukan dan saran diberikan sebagai bahan penyempurnaan laporan penelitian.

 

Bandung Barat, Jabar (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) melakukan berbagai upaya mendorong implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) pertanian, di antaranya Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) seperti Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) yang dilakukan tiga mahasiswa Universitas Bengkulu (Unib) selesai PKL di BBPP Lembang.

Plt Kepala BBPP Lembang, P. Adi Destriadi Sutisna mengatakan tiga mahasiswa Fakultas Pertanian (Faperta) Unib Bengkulu untuk Prodi Agroekoteknologi melaksanakan PKL selama satu bulan, 9 Juni hingga 4 Agustus 2026 pada Inkubator Agribisnis BBPP Lembang. 

Kegiatan tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa kolaborasi antara Kementan dengan perguruan tinggi merupakan langkah strategis mempercepat transformasi pertanian nasional.

“Sinergi dengan perguruan tinggi akan mempercepat transformasi pertanian dari sistem tradisional menuju pertanian modern, sekaligus memperkuat fondasi pangan Indoneisa yang berdaulat dan berkelanjutan,” katanya.

Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya pembelajaran berbasis inovasi dan teknologi, untuk mencetak SDM pertanian yang kompeten dan adaptif dan mampu menjawab tantangan pembangunan pertanian masa depan.

BBPP Lembang

Plt. Kepala BBPP Lembang, P. Adi Destriadi Sutisna mengatakan selama kegiatan PKL, ketiga mahasiswa Faperta Unib Bengkulu terlibat langsung sejumlah riset terapan yang mendukung pengembangan teknologi budidaya hortikultura modern.

“Melalui kegiatan PKL, mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman lapangan, juga kesempatan mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan teknologi secara nyata dalam pengembangan pertanian modern,” katanya.

Dalam presentasi hasil PKL yang diuji oleh Widyaiswara BBPP Lembang, Wiraz Dwi Guna mempresentasikan penelitian berjudul ‘Teknik Budidaya Benih Kentang (Solanum tuberosum L. var. Granola) G0 dengan Sistem Aeroponik´ di Inkubator Agribisnis Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang.

Penerapan sistem aeroponik mampu menciptakan lingkungan budidaya yang lebih terkontrol melalui pengaturan nutrisi, pH, sanitasi screenhouse, dan pemeliharaan instalasi sehingga mendukung pertumbuhan tanaman serta menghasilkan benih G0 yang sehat dan bermutu. 

Budidaya Aeroponik

Selama pelaksanaannya Wiraz Dwi Guna masih menemukan beberapa kendala yang dihadapi dalam budidaya secara aeroponic(k). 

Kendati demikian, secara keseluruhan, sistem aeroponik terbukti efektif sebagai teknologi produksi benih kentang G0 karena mampu meningkatkan kualitas benih sekaligus meminimalkan risiko serangan penyakit dan gangguan dari lingkungan.

Sementara itu rekannya, Fellysa Dwi Febriyanti memaparkan penelitian tentang ‘Budidaya Tanaman Melon (Cucunis melo L.) dengan Sistem Irigasi Tetes Di Inkubator Agribisnis´ di BBPP Lembang. 

Proses budidaya meliputi persiapan screenhouse, instalasi fertigasi, persemaian, penanaman, pemeliharaan, panen, hingga pascapanen, yang secara keseluruhan mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal dan menghasilkan buah dengan kualitas baik, seragam, serta memiliki tingkat kemanisan mencapai 16° Brix. 

Selama masa praktiknya Fellysa menemukan beberapa kendala, seperti penyumbatan saluran irigasi akibat lumut dan kotoran, pengaturan regulating stick yang kurang tepat, serangan penyakit bercak daun, hama kutu kebul, infeksi virus gemini, serta gangguan pada sensor suhu screenhouse. 

Irigasi Tetes

Solusi yang Felyssa pelajari adalah melalui pemeriksaan dan pembersihan rutin sistem irigasi, penyetelan kembali komponen instalasi, penerapan sanitasi screenhouse, penggunaan fungisida dan pengendalian hama sesuai kebutuhan, pemusnahan tanaman yang terinfeksi virus, serta perbaikan sistem sensor suhu.

Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan sistem irigasi tetes yang didukung pengelolaan budidaya yang baik mampu meningkatkan efektivitas pemeliharaan tanaman dan menghasilkan produksi melon yang berkualitas.

Muhammad Abi Rosyid mengulas Teknik Budidaya Tomat Beef (Solanum lycopersicum L.) dengan Sistem Irigasi Tetes di Screenhouse Inkubator Agribisnis Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang.

Tahapan penyiapan irigasi tetes yang digunakan adalah melalui sanitasi, penyemaian, penanaman, pemeliharaan, panen, hingga penanganan pascapanen. 

Budidaya di Screenhouse

Pemeliharaan dilakukan melalui pemberian nutrisi AB mix dengan sistem fertigasi, pemasangan tali lanjaran, pewiwilan, seleksi buah, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) secara rutin.

Penerapan sistem irigasi tetes terbukti meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi, menjaga kondisi lingkungan tumbuh tetap optimal, serta menghasilkan pertumbuhan tanaman dan kualitas buah tomat beef yang lebih baik. 

Budidaya dalam screenhouse juga membantu menekan risiko serangan hama dan penyakit sehingga produktivitas tanaman dapat dipertahankan.

Plt Kepala BBPP Lembang, P. Adi Destriadi Sutisna mengatakan kegiatan seminar berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab yang diikuti Widyaiswara dan mahasiswa peserta praktik kerja lainnya.

Berbagai masukan dan saran diberikan sebagai bahan penyempurnaan laporan penelitian sekaligus pengembangan hasil riset agar lebih aplikatif. [afriski/chetty/timhumas bbpplembang]

 

 

 

 

 

 

West Bandung of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.