Mahasiswa Faperta Unila Uraikan Inovasi Hortikultura Modern BBPP Lembang
West Java`s Lembang Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Bandung Barat, Jabar (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang menggelar ´Seminar Hasil Praktik Kerja Lapangan (PKL) Mahasiswa Universitas Lampung (Unila)´ di BBPP Lembang, Kabupaten Bandung Barat di Provinsi Jawa Barat (Jabar) pada pada Kamis (30/7).
Plt Kepala BBPP Lembang, P. Adi Destriadi Sutisna mengatakan kegiatan PKL dari mahasiswa Unila menghasilkan sejumlah penelitian terapan yang dipresentasikan pada Seminar Hasil PKL.
Kegiatan tersebut sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kolaborasi antara Kementan dan perguruan tinggi merupakan langkah strategis mempercepat transformasi pertanian Indonesia.
"Sinergi dunia pendidikan dan sektor pertanian menjadi fondasi penting dalam mencetak sumber daya manusia pertanian yang unggul, inovatif, serta mampu mempercepat modernisasi pertanian menuju swasembada pangan yang berkelanjutan," katanya.
Senada hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Idha Widi Arsanti menekankan bahwa pembelajaran berbasis praktik menjadi bagian penting mencetak generasi muda pertanian yang profesional.
"Mahasiswa harus memperoleh pengalaman belajar yang nyata melalui penerapan inovasi dan teknologi di lapangan sehingga mampu menjadi SDM pertanian yang adaptif, kompeten, dan siap menjawab tantangan pembangunan pertanian masa depan," katanya.
BBPP Lembang
Plt Kepala BBPP Lembang, P. Adi Destriadi Sutisna mengatakan, selama 40 hari pelaksanaan PKL di BBPP Lembang, mahasiswa Fakultas Pertanian (Faperta) Unila untuk Prodi Teknik Pertanian terlibat berbagai kegiatan budidaya hortikultura modern di Inkubator Agribisnis BBPP Lembang.
Eka Wulandari mempresentasikan penelitian berjudul ´Proses Pembuatan Sorbet Cabai (Capsicum annuum L.) dengan Variasi Perbandingan Cabai Merah Tanjung dan Cabai Merah Keriting´ di BBPP Lembang.
Penelitian tersebut menunjukkan, diversifikasi cabai menjadi produk sorbet yang berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas hortikultura, memperpanjang umur simpan hasil panen serta menjadi alternatif pengolahan pascapanen untuk mengurangi kerugian akibat fluktuasi harga dan sifat cabai yang mudah rusak.
Selain itu, variasi penggunaan cabai merah tanjung dan cabai merah keriting mampu menghasilkan karakteristik rasa, warna, aroma, dan tekstur yang dapat diterima konsumen.
Irigasi Tetes
Selanjutnya, Heni Kurniawati memaparkan penelitian berjudul ´Penerapan Sistem Irigasi Tetes dalam Budidaya Melon (Cucumis melo L.) di Screen House´ BBPP Lembang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem irigasi tetes mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air dan nutrisi melalui sistem fertigasi, menjaga kestabilan pH dan Electrical Conductivity (EC) larutan nutrisi serta mendukung pertumbuhan tanaman hingga menghasilkan buah melon yang berkualitas.
Teknologi tersebut juga menjadi salah satu model budidaya hortikultura modern yang efisien, hemat air, dan berkelanjutan.
Sementara itu, Amelia Ayu Larasati mempresentasikan penelitian berjudul "Budidaya Kentang (Solanum tuberosum L.) G0 Varietas Granola dengan Sistem Aeroponik di Screen House Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang."
Lingkungan Budidaya
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa teknologi aeroponik mampu menciptakan lingkungan budidaya yang lebih terkontrol melalui pengelolaan nutrisi, sanitasi, dan pemeliharaan instalasi sehingga menghasilkan benih kentang G0 yang sehat, seragam, dan bermutu tinggi.
Sistem tersebut juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi benih sekaligus meminimalkan risiko serangan penyakit pada tanaman.
Seminar berlangsung interaktif melalui sesi diskusi antara mahasiswa, pembimbing lapangan, dan Widyaiswara BBPP Lembang.
Sejumlah masukan diberikan menjadi penyempurna laporan PKL sekaligus mendorong pengembangan hasil penelitian agar dapat diterapkan lebih luas di sektor pertanian.
Seminar Hasil
Plt. Kepala BBPP Lembang, P. Adi Destriadi Sutisna mengatakan Seminar Hasil PKL menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mempresentasikan hasil penelitian sekaligus memperkuat sinergi perguruan tinggi dengan Kementan mendorong lahirnya inovasi pertanian berbasis teknologi.
"Melalui PKL, mahasiswa memperoleh kesempatan belajar langsung di lapangan, mengintegrasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik pertanian modern, serta menghasilkan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi pengembangan sektor pertanian nasional," katanya.
Melalui pelaksanaan PKL dan Seminar Hasil, BBPP Lembang bersama Unila terus memperkuat sinergi dunia pendidikan tinggi dan Kementan, untuk menghasilkan inovasi, meningkatkan kualitas SDM pertanian, mendukung percepatan transformasi menuju pertanian Indonesia yang maju, modern, dan berkelanjutan. [chetty/afriski/timhumas bbpplembang]
West Bandung of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
