Irigasi Sumsel, Kementan Identifikasi Jaringan Suplai Air Musirawas yang Perlu Rehabilitasi

West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Irigasi Sumsel, Kementan Identifikasi Jaringan Suplai Air Musirawas yang Perlu Rehabilitasi
BBPKH CINAGARA: Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty selaku PJ Brigade Pangan Sumsel mendampingi kunjungan kerja TA Mentan, Hendri Sosiawan meninjau kondisi fisik jaringan irigasi di Kabupaten Musi Rawas, Sumsel seraya dialog dengan sejumlah pihak terkait.

 

Musirawas, Sumsel (B2B) - Pemerintah meninjau kondisi jaringan irigasi di Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), untuk memastikan ketersediaan dan distribusi air bagi lahan pertanian. Peninjauan dilakukan oleh Tenaga Ahli Menteri Pertanian (TA Mentan) Bidang Teknologi Pengelolaan Irigasi, Hendri Sosiawan, Rabu (19/8).

Dalam kunjungan tersebut, TA Mentan didampingi Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Inneke Kusumawaty, serta jajaran terkait. Peninjauan fokus pada kondisi jaringan irigasi, suplai air, serta sejumlah saluran yang dinilai membutuhkan perbaikan dan rehabilitasi.

Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty selaku Penanggung Jawab (PJ) Brigade Pangan Sumsel mengatakan, jaringan irigasi di Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Musi Rawas mengairi lahan pertanian lima desa yakni Tanah Priuk, Air Satan, Satan Indah Jaya, Air Lesing, dan Suro. 

Penanganan irigasi menjadi bagian penting dari agenda pemerintah memperkuat produksi pangan nasional, seperti dikemukakan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa ketersediaan air merupakan salah satu faktor utama meningkatkan produktivitas pertanian.

“Kalau air tersedia, produksi akan meningkat. Karena itu, irigasi menjadi salah satu kunci dalam memperkuat produksi pangan nasional,” katanya.

Pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur pertanian perlu dilakukan secara terintegrasi dengan dukungan sarana produksi, teknologi dan SDM pertanian. Sinergi pemerintah pusat dan daerah diperlukan agar intervensi pembangunan memberikan dampak langsung bagi petani.

"Dalam pelaksanaannya, penyuluh memiliki peran penting untuk memastikan kebijakan dan program pemerintah dapat diterjemahkan sesuai kondisi di lapangan," ungkap Mentan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan penyuluh merupakan salah satu mata rantai penting dalam pembangunan pertanian.

“Penyuluh memiliki posisi strategis karena berada langsung bersama petani. Informasi mengenai kondisi di lapangan, termasuk persoalan irigasi, harus dapat disampaikan secara cepat sehingga menjadi bahan bagi pemerintah mengambil keputusan,” katanya.

BBPKH Cinagara
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty selaku PJ Brigade Pangan Sumsel mengatakan, selain meninjau kondisi fisik jaringan, rombongan berdialog dengan Koordinator Penyuluh (Korluh), penyuluh pertanian, petugas PUPR dan petani penerima manfaat.

"Dialog dengan para pengguna jaringan irigasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai pola distribusi air dan kendala yang dihadapi petani," katanya. 

Inneke Kusumawaty menambahkan, temuan di lapangan menjadi bahan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk menentukan langkah penanganan sesuai kebutuhan lapangan.

TA Mentan Hendri Sosiawan mengatakan, peninjauan lapangan diperlukan agar penanganan jaringan irigasi dilakukan berdasarkan kondisi aktual dan kebutuhan petani.

“Yang kita lihat bukan hanya kondisi fisik saluran, juga bagaimana air didistribusikan sampai ke lahan petani. Titik-titik yang mengalami kendala harus diidentifikasi secara jelas agar penanganannya tepat sasaran,” katanya.

Pusat dan Daerah
Hendri Sosiawan menilai, persoalan irigasi tidak dapat ditangani secara parsial. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, instansi teknis, penyuluh, dan petani diperlukan untuk memastikan jaringan irigasi berfungsi optimal.

“Koordinasi akan terus dilakukan untuk mendorong percepatan penanganan jaringan yang membutuhkan rehabilitasi. Infrastruktur irigasi harus mampu memberikan manfaat nyata bagi petani dan mendukung peningkatan produktivitas pertanian,” ujarnya.

Hendri Sosiawan menambahkan, penguatan kapasitas penyuluh dan koordinasi dengan para pemangku kepentingan diperlukan, agar program pembangunan pertanian berjalan efektif dan sesuai dengan kebutuhan petani.

Tingkatkan Produksi
Inneke Kusumawaty mengatakan pendampingan dalam kunjungan kerja TA Mentan merupakan bagian dari upaya memperkuat koordinasi program pertanian berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

“Peninjauan langsung memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai persoalan yang dihadapi petani. Sinergi pemerintah pusat dan daerah, petugas teknis, penyuluh dan petani, diharapkan langkah penanganan dapat lebih cepat, tepat dan sesuai kebutuhan,” katanya.

Inneke Kusumawaty menilai, jaringan irigasi yang berfungsi optimal dan distribusi air yang lebih terjamin, produktivitas lahan diharapkan meningkat. 

"Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan mendukung pencapaian swasembada pangan nasional. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]

 

 

 

 

Musi Rawas of South Sumatera [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.