Gertam PM-AAS Rejang Lebong, Kementan Perkuat Mitigasi Kekeringan Bengkulu

West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Gertam PM-AAS Rejang Lebong, Kementan Perkuat Mitigasi Kekeringan Bengkulu
BBPKH CINAGARA: Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty [ke-2 kanan] mendampingi TA Mentan, Hendri Sosiawan [kemeja hitam] memimpin kegiatan Gertam PM-AAS pada lahan Oplah dan CSR dari KWT Teratai, Desa Air Bening, Kecamatan Bermani Ulu di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

 

Rejang Lebong, Bengkulu (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) menggelar Gerakan Tanam (Gertam) Pertanian Modern -Advanced Agricultural System (PM-AAS) pada lahan Optimalisasi Lahan (Oplah) dan Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, Sabtu (22/8). 

Kegiatan Gertam PM-AAS di Rejang Lebong dipusatkan pada lahan Kelompok Wanita Tani (KWT) Teratai, Desa Air Bening, Kecamatan Bermani Ulu Raya dihadiri Tenaga Ahli Menteri Pertanian RI (Mentan) Bidang Teknologi Inovasi Pengelolaan Irigasi, Hendri Sosiawan didampingi Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Inneke Kusumawaty.

Inneke Kusumawaty mengatakan kegiatan Gertam PM-AAS menjadi bagian dari pengawalan program Swasembada Pangan, sekaligus upaya memastikan lahan pertanian tetap produktif di tengah potensi kekeringan.

Langkah tersebut sejalan kebijakan Kementerian Pertanian RI (Kementan) menghadapi musim kemarau 2026. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak boleh menunggu hingga kekeringan terjadi, tetapi harus melakukan mitigasi sejak dini melalui penguatan infrastruktur dan pengelolaan sumber air.

“Kita tidak boleh membiarkan petani kehilangan musim tanam karena kekurangan air. Air harus tersedia. Irigasi harus berfungsi. Petani harus tetap bisa menanam,” katanya.

SDM Pertanian
Dari sisi sumber daya manusia (SDM), keberhasilan percepatan tanam juga bergantung pada pengawalan tingkat lapangan. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menegaskan pentingnya peran penyuluh dan Brigade Pangan, memastikan lahan yang telah siap segera ditanami dan terus didampingi.

“Gerakan tanam bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi bagian dari gerakan untuk meningkatkan luas tanam, mempercepat indeks pertanaman, dan mendorong produksi pangan melalui kolaborasi seluruh pihak,” katanya.

Penyuluh di daerah, ungkap Kabadan, didorong memperkuat pendampingan pada petani, termasuk memastikan kesiapan lahan, penerapan teknologi dan pelaksanaan budidaya sesuai kondisi setempat.

Kegiatan Gertam PM-AAS di Rejang Lebong dihadiri Kepala Dinas TPHP Provinsi Bengkulu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bengkulu, Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Rejang Lebong, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Rejang Lebong, Dandim 0409 Rejang Lebong, Kapolres Rejang Lebong, Camat Bermani Ulu Raya, KTNA, Tim Kerja Penyuluh, Koordinator Penyuluh dan penyuluh pertanian, kepala desa, Brigade Pangan Raja Bermano dan Caping Muda Bersatu, serta kelompok tani Desa Air Bening.

BBPKH Cinagara
Pada kegiatan Gertam Rejang Lebong, BBPKH Cinagara turut memperkuat pengawalan melalui pendampingan kepada penyuluh dan Brigade Pangan. Pengawalan di lapangan harus memastikan seluruh unsur bergerak bersama.

Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan pengawalan diperlukan agar program pemerintah di tingkat lapangan dapat berjalan sesuai kebutuhan dan memberikan dampak terhadap peningkatan produksi.

“Penyuluh dan Brigade Pangan perlu diperkuat agar mampu mengoptimalkan dukungan pemerintah, mempercepat tanam, serta memastikan pengelolaan program berjalan secara tertib dan akuntabel,” katanya.

Menurut Inneke Kusumawaty, sinergi antara aspek teknis irigasi, teknologi budidaya, pendampingan penyuluh dan penguatan Brigade Pangan menjadi satu kesatuan mendukung optimalisasi lahan Oplah dan CSR.

Kesiapan Lahan
TA Mentan, Hendri Sosiawan mengatakan, pelaksanaan Gertam PM-AAS tidak hanya diarahkan untuk mempercepat tanam, juga menjadi bagian dari pemantauan kondisi lahan Oplah dan CSR. 

"Pemerintah memastikan kesiapan lahan, dukungan irigasi, pendampingan penyuluh, serta kesiapan petani berjalan secara terpadu," katanya.

Hendri Sosiawan menambahkan, pengelolaan air menjadi salah satu faktor kunci menjaga produktivitas pertanian, terutama ketika memasuki periode yang berpotensi mengalami kekeringan. 

"Mitigasi harus dilakukan sebelum gangguan terhadap ketersediaan air berdampak pada kegiatan budidaya," katanya.

"Kita harus memastikan air tersedia dan dapat didistribusikan sampai ke lahan. Irigasi harus dikelola sejak awal sebagai bagian dari mitigasi kekeringan, sehingga petani tetap dapat menanam dan indeks pertanaman dapat dipertahankan.”

Pengelolaan Irigasi
Hendri Sosiawan mengingatkan, pengelolaan irigasi perlu dilakukan secara terpadu dengan pemantauan sumber air, kondisi jaringan, serta kebutuhan lahan. 

Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, instansi teknis, penyuluh dan petani menjadi penting agar potensi kekurangan air dapat diantisipasi lebih cepat.

"Selain penguatan irigasi, penerapan PM-AAS dalam gerakan tanam diarahkan untuk meningkatkan efisiensi budidaya dan mempercepat proses tanam," ungkap Hendri Sosiawan.

Menurutnya, optimalisasi teknologi dan mekanisasi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong peningkatan indeks pertanaman.

Pengawalan Pemerintah
Inneke Kusumawaty menambahkan, Gertam PM-AAS di Desa Air Bening, menjadi salah satu bentuk pengawalan pemerintah terhadap lahan pertanian yang masuk program Oplah dan CSR di Kabupaten Rejang Lebong. 

"Selain mempercepat tanam, juga menjadi momentum untuk memastikan kesiapan infrastruktur air dan langkah mitigasi kekeringan berjalan sejak awal," katanya.

Menurutnya, dengan pengelolaan irigasi lebih terencana, penerapan teknologi pertanian modern dan pendampingan intensif kepada petani, pemerintah mendorong lahan Oplah dan CSR dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produktivitas dan menjaga keberlanjutan produksi pangan. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]

 

 

 

 

 

Rejang Lebong of Bengkulu [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.