Economic Outlook 2026, Mentan Paparkan Strategi Swasembada Pangan

Indonesian Govt Supports the Modernization of Agricultural Productivity

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Economic Outlook 2026, Mentan Paparkan Strategi Swasembada Pangan
BPPSDMPP KEMENTAN: Mentan Amran Sulaiman mengatakan. Dalam satu tahun terakhir, pemerintah menerbitkan 13 Peraturan Presiden [Perpres] di sektor pertanian dan mencabut sekitar 500 regulasi internal yang dinilai menghambat percepatan program strategis pertanian.

 

Jakarta (B2B) - Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman memaparkan strategi swasembada pangan sebagai fondasi stabilitas ekonomi nasional di hadapan pelaku usaha dan ekonom dalam Indonesia Economic Outlook 2026 pada Jumat (13/2) di Wisma Danantara Indonesia, Jakarta.

Menurut Mentan Amran, terdapat dua langkah utama yang menjadi pilar percepatan swasembada pangan, yaitu deregulasi dan transformasi pertanian dari tradisional menuju modern.

“Langkah kami ada dua untuk mencapai swasembada, yaitu deregulasi dan transformasi pertanian dari tradisional ke modern,” tegasnya.

Dalam satu tahun terakhir, pemerintah menerbitkan 13 Peraturan Presiden di sektor pertanian, jumlah terbanyak sepanjang sejarah serta mencabut sekitar 500 regulasi internal yang dinilai menghambat percepatan program. 

Deregulasi ini memangkas rantai birokrasi, mempercepat distribusi sarana produksi, dan menurunkan biaya produksi petani.

Reformasi paling signifikan terjadi pada tata kelola pupuk. Jika sebelumnya distribusi pupuk melibatkan ratusan regulasi dan persetujuan berlapis lintas daerah, kini mekanisme dipangkas menjadi jalur langsung dari Kementan ke Pupuk Indonesia hingga ke petani. 

Dampaknya, biaya pupuk turun hingga 20 persen dan volume meningkat 700 ribu ton tanpa tambahan beban anggaran.

“Dulu petani sudah mau tanam, pupuk belum tiba. Sekarang distribusi langsung, cepat, dan tepat sasaran,” ujarnya.

Lompatan Produktivitas

Transformasi modernisasi pertanian juga mempercepat lompatan produktivitas. Mekanisasi memungkinkan efisiensi tenaga kerja hingga 90 persen, mempercepat panen, dan mendorong indeks pertanaman dari satu menjadi tiga kali tanam per tahun. 

Efisiensi tersebut menurunkan biaya produksi hingga 50 persen dan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani.

Nilai Tukar Petani kini mencapai 125 — tertinggi sepanjang sejarah — diperkuat kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah Rp6.500 per kilogram yang menghasilkan perputaran ekonomi hingga Rp132 triliun di tingkat petani.

Capaian ini, lanjut Mentan, tercermin pada stok pangan nasional yang berada pada posisi tertinggi sepanjang sejarah. 

Presiden Prabowo dalam forum yang sama menegaskan produksi beras 2025 mencapai 34,7 juta ton, naik 13 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan cadangan Bulog menembus 4,2 juta ton.

Program optimalisasi lahan rawa turut menjadi strategi ekspansi produksi jangka panjang. Pemerintah memulai revitalisasi 200 ribu hektare lahan di Kalimantan dengan sistem irigasi modern sebagai tahap awal pengembangan kawasan pangan baru.

Melalui kombinasi deregulasi, modernisasi, dan penguatan kebijakan harga petani, pemerintah menempatkan sektor pangan sebagai jangkar stabilitas ekonomi nasional sekaligus fondasi swasembada berkelanjutan.

 

 

Jakarta [B2B] - The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.

Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.