Kuningan ke Kapuas: Kementan Percepat Tanam CSR & Oplah Antisipasi El Nino
Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s SMKPPN Banjarbaru
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Kuningan, Jabar (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) senantiasa mempercepat pemanfaatan lahan hasil program Cetak Sawah Rakyat (CSR) dan Optimalisasi Lahan (Oplah) untuk mendukung peningkatan produksi pangan nasional. Diupayakan Kementan melalui Gerakan Tanam (Gertam) Serempak, mendorong lahan yang telah dibangun dan disiapkan segera ditanami agar produktif.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa percepatan tanam merupakan langkah strategis untuk menjaga momentum produksi nasional sekaligus memperkuat fondasi swasembada pangan berkelanjutan.
Menurut Amran, setiap lahan yang telah mendapatkan dukungan program pemerintah harus segera dimanfaatkan secara optimal agar mampu menghasilkan produksi yang berdampak langsung terhadap ketahanan pangan nasional.
Gertam Serempak berlangsung di Desa Kertaungaran, Kecamatan Sindangagung, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat (Jabar) Sabtu (7/11) menargetkan penanaman 5.000 hektar pada 15 provinsi melalui Program CSR 2025 dan 2026.
Kegiatan dihadiri Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti; Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Tedy Dirhamsyah; Kepala Balai Besar Pelatihan Manajemen Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) Ciawi, Sukim Supandi; Kepala Museum Tanah dan Pertanian Anes Nasrullah, serta jajaran pemerintah daerah, Brigade Pangan, kelompok tani, dan petani sementara Tenaga Ahli Menteri (TAM) Bidang Alsintan, Astu Unadi turut hadir secara daring.
Kuningan hingga Kapuas
Selain Kabupaten Kuningan di Jabar dan wilayah lainnya, Gertam Serempak juga berlangsung di Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), yang merupakan wilayah kerja dari Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan Negeri (SMK PPN) Banjarbaru.
Ada pun Gertam Serempak CSR dan Oplah 2026 wilayah Kalteng dipusatkan di Desa Petak Batuah A2, Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas.
Dihadiri Kepala SMK PPN Banjarbaru, Angga Tri Aditya Permana memimpin Gertam Serempak di lokasi CSR Kapuas dilaksanakan pada lahan 5 hektar dengan bibit padi unggul lokal, Nyai Undang.
Mengutip arahan Mentan Amran Sulaiman, Angga Tri A. P menegaskan bahwa Kementan berharap Gertam Serempak mempercepat pemanfaatan lahan, meningkatkan indeks pertanaman, dan memperkuat produksi pangan nasional menuju swasembada pangan berkelanjutan.
Target 15 Provinsi
Kabadan Santi mengatakan, Kuningan dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki lahan Oplah dan CSR, Gertam Serempak dilaksanakan di 15 provinsi, menargetkan penanaman seluas 5.000 hektare secara keseluruhan.
“Untuk gerakan tanam serempak hari ini, kita targetkan 5.000 hektare,” katanya.
Untuk 2026, kata Santi, Program Oplah menargetkan 298.783 hektare, dengan kontrak konstruksi 255.240 hektar dan penyiapan lahan 49.303 hektar.
"Sementara itu, CSR 2026 menargetkan 90.221 hektar, dengan kontrak konstruksi 93.839 hektar dan penyiapan lahan 24.836,39 hektar," ungkapnya.
Hingga 4 November 2026, realisasi tanam CSR 2026 tercatat mencapai 3.794,48 hektar dari total lahan yang telah disiapkan.
Antisipasi El Nino
Mengantisipasi dampak El Niño, Kabadan Santi mengatakan, Kementan berupaya memanfaatkan peluang hujan yang mulai turun pada sejumlah wilayah berdasarkan data Badan Metrologi Klimatologi Geofisika (BMKG).
“Kita tidak dapat melawan alam, tetapi antisipasi dengan memanfaatkan peluang. Dari data BMKG, beberapa wilayah di Indonesia mulai turun hujan. Kita segera lakukan pertanaman pada November dan Desember ini,” katanya.
Santi mengingatkan bahwa kondisi pada Desember 2026 berpotensi berbeda, dengan meningkatnya risiko banjir. Percepatan tanam perlu dilakukan sejak sekarang agar lahan dapat dimanfaatkan sebelum kondisi berubah.
Kabadan SDM juga mendorong Brigade Pangan untuk menggarap lahan dan mengoptimalkan penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan).
Penyesuaian penggunaan Alsintan diperlukan sesuai kondisi lahan di Pulau Jawa yang berbeda dengan hamparan luas di Papua dan Kalimantan.
Titik Serah Pupuk
Dalam kesempatan tersebut, Kabadan SDM Santi turut menyampaikan informasi kerja sama PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) dan Agrinas Pangan yang akan memanfaatkan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai titik serah pupuk bersubsidi.
"Perlu koordinasi untuk membagi wilayah layanan antara titik serah yang sudah ada dan KDMP. Hal ini sejalan dengan fungsinya, sebagai tempat penyaluran berbagai program pemerintah, termasuk pupuk bersubsidi," katanya.
Sementara itu, TAM Bidang Alsintan, Astu Unadi yang hadir secara daring menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan tahun ini. Untuk menjaga dan meningkatkan produksi, Kementan terus mendorong penerapan metode PM-AAS.
Astu Unadi menjelaskan, hasil evaluasi di empat provinsi, yakni Lampung, Kalimantan Barat (Sambas), Sulawesi Selatan (Soppeng) dan Jawa, menunjukkan metode PM-AAS mampu meningkatkan produktivitas.
"Produksi yang sebelumnya berkisar 5 ton per hektar dapat meningkat hingga 11 ton per hektar setelah penerapan metode tersebut," katanya.
Dia juga mendorong penyuluh untuk mengajukan CPCL serta kebutuhan alsintan dan irigasi perpompaan untuk mendukung percepatan produksi.
Sesi Dialog
Dalam sesi dialog, Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Pemanfaatan Sumber Daya Lahan Marginal, Anny Mulyani, hadir di lokasi Gerakan Tanam Serempak di Papua Selatan.
Dialog membahas kondisi pertanaman di wilayah tersebut, termasuk prediksi hujan dari BMKG yang mulai turun, meski belum merata di lapangan.
Sementara itu, perwakilan Asahan, Sumatera Utara, melaporkan hujan mulai sering turun. Sebelum Gertam Serempak dilaksanakan, lahan di lokasi masih tergenang sehingga perlu dikeringkan dengan bantuan pompa.
Menanggapi kondisi tersebut, Kabadan SDM Santi menekankan pentingnya antisipasi terhadap cuaca ekstrem, baik saat kekeringan maupun ketika curah hujan berlebihan hingga menyebabkan banjir.
Dia mengingatkan, perlunya koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan direktorat jenderal terkait untuk mendukung tata kelola air.
Gertam Serempak di Kuningan merupakan kegiatan ke-16 secara keseluruhan dan menjadi kegiatan kedua pada periode Oktober 2026 hingga September 2027. [Tim Ekpos SMKPPN Banjarbaru/Sumber Humas BPPSDMP Kementan]
Kuningan of West Java [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
