MPLS 2026 Perkuat Regenerasi SDM Pertanian di SMK PPN Kementan
Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s SMKPPN Sembawa
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Banyuasin, Sumsel (B2B) - Kementerian Pertanian RI terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) pertanian melalui pendidikan vokasi yang adaptif dan inovatif serta selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) di antaranya melalui pendidikan vokasi pada Sekolah Menengah Kejuruan - Pembangunan Pertanian Negeri (SMKPPN) Sembawa di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).
Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso mengatakan, komitmen tersebut diwujudkan melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di SMKPPN Sembawa yang diikuti 244 siswa baru dari lima program studi unggulan.
Kegiatan MPLS sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa regenerasi petani menjadi salah satu kunci mewujudkan ketahanan pangan nasional.
“Masa depan pangan bangsa ini berada di tangan generasi muda yang menguasai teknologi. Kita membutuhkan smart farmer yang mampu mengelola pertanian secara modern, efisien, dan berdaya saing sehingga sektor pertanian menjadi pilihan profesi yang menjanjikan,” katanya.
Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran strategis mencetak SDM pertanian yang unggul dan profesional.
“Keberhasilan pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh kualitas SDM. Melalui MPLS, kami berharap para siswa mulai menumbuhkan karakter disiplin, semangat belajar, serta jiwa agropreneur sejak hari pertama mereka menjadi bagian dari SMK PPN Sembawa,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menegaskan pentingnya pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri.
“Pendidikan vokasi harus benar-benar link and match dengan dunia usaha dan dunia industri. Kami berharap para siswa memanfaatkan kesempatan belajar sebaik-baiknya agar nantinya menjadi tenaga kerja profesional, tersertifikasi, maupun wirausahawan muda yang mampu mendorong kemajuan sektor pertanian Indonesia,” katanya.
SMKPPN Sembawa
Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso mengatakan, MPLS berlangsung enam hari, 13 - 18 Juli 2026, sebagai langkah awal membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan belajar, budaya sekolah, dan kehidupan berasrama.
´Kegiatan MPLS juga menjadi sarana pembentukan karakter, disiplin, dan motivasi belajar bagi calon SDM pertanian masa depan," katanya.
Selama MPLS, kata Budi Santoso, siswa menerima berbagai materi yang mendukung pengembangan akademik dan karakter, antara lain etika, penguatan karakter diri, pencegahan perundungan, strategi belajar efektif, bahaya narkoba dan tertib berlalu lintas.
Tak kalah penting, pengenalan pertanian modern melalui tema ´Petani Itu Keren´, wawasan kebangsaan, bahaya judi online, pengenalan Kurikulum Merdeka di SMK PPN Sembawa serta tata tertib sekolah dan asrama.
Regenerasi Pertanian
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ruhil Fida mewakili Kepala SMK PPN Sembawa, Budi Santoso secara resmi membuka kegiatan MPLS seraya menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta didik baru.
“MPLS bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerbang awal bagi para siswa untuk mengenal budaya belajar yang disiplin, adaptif, dan berkarakter," katanya.
Kementan ingin membentuk lulusan yang tidak hanya kompeten, juga memiliki integritas, kemandirian, dan siap menghadapi dunia kerja.
Pada kesempatan tersebut, Pengawas SMK Kabupaten Banyuasin, Belvi Yuliana, hadir sebagai narasumber utama. Ia menyampaikan bahwa Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan pelaksanaan MPLS harus berlangsung aman, nyaman dan menyenangkan tanpa perpeloncoan, kekerasan, maupun pungutan liar.
Prinsip Utama MPLS
Belvi Yuliana menjelaskan Empat Prinsip Utama MPLS yakni menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang aman dan ramah, menciptakan lingkungan bebas kekerasan dan perpeloncoan dan membangun budaya anti-bullying melalui sikap saling menghormati dan toleransi,
"Memperkuat pendidikan karakter agar siswa berakhlak mulia, menghormati guru dan orang tua, hidup rukun, dan memiliki semangat belajar tinggi," katanya.
Tantangan dunia kerja saat ini menuntut lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, juga memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, serta mampu memecahkan masalah.
"Jadikan MPLS sebagai awal untuk menyusun tujuan dan merancang masa depan kalian,” pesannya.
Dalam kessmpatan terpisah, Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso mengingatkan, melalui MPLS yang edukatif, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan karakter, SMK PPN Sembawa optimistis mampu mencetak generasi muda pertanian yang berintegritas.
"Adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta siap menjadi motor penggerak pembangunan pertanian Indonesia di masa depan," katanya lagi [wulan/titin/timhumas smkppnsembawa]
Banyuasin of South Sumatera [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
