Petani Bawang Merah Pilih Pestisida Ketimbang Perangkap Hama Ramah Lingkungan

Indonesian Govt Socialize the Use of Pest Traps Instead Pesticides

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Petani Bawang Merah Pilih Pestisida Ketimbang Perangkap Hama Ramah Lingkungan
Petani bawang merah Brebes menancapkan perangkap hama likat kuning, Dirjen Spudnik Sujono memperagakan likat kuning dan feromon seks (inset atas) tim khusus Ditjen Hortikultura di Brebes (inset bawah) Foto2: B2B/Mac

Brebes, Jawa Tengah (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mensosialisasikan pemanfaatan peralatan sederhana sebagai perangkap hama ramah lingkungan seperti likat kuning dan feromon seks yang telah diperkenalkan sejak lama oleh pemerintah kepada para petani bawang merah di seluruh Indonesia, namun mereka lebih memilih pestisida untuk memberantas hama karena dinilai lebih praktis meskinya harganya lebih mahal.

Dirjen Hortikultura, Spudnik Sujono mengatakan perangkap hama telah diperkenalkan sejak lama oleh Kementan untuk mengatasi serangan hama dan penyakit, kekurangan unsur mikro dan keadaan iklim yang dapat menyebabkan produksi bawang merah menurun.

Menurutnya, perhatian Presiden RI Joko Widodo terhadap gangguan hama seperti ditemukan pada dialog dengan petani bawang merah di Desa Luwung Gede, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah menunjukkan perhatian kepala negara pada peran bawang merah sebagai komoditas hortikultura unggulan yang diusahakan petani secara intensif.

"Komoditas ini tergolong padat modal dan padat karya karena merupakan sumber pendapatan bagi petani dan masyarakat di sekitarnya. Lihat saja puluhan buruh tani yang tinggal di sekitar sini yang bekerja menanam bawang merah, mereka dibayar Rp30 ribu per orang dalam satu hari kalau bekerja dari pagi hingga pukul 12 siang," kata Spudnik kepada pers di Brebes pada Senin pagi (18/4).

Spudnik menambahkan, setelah tim dari Ditjen Hortikultura mendukung pengendalian hama dengan perangkap sederhana maka frekuensi penyemprotan pestisida menurun dari 14 kali semprot sepekan menjadi tujuh kali saja dalam tujuh hari.

"Dari pengamatan kami, kalau dengan pestisida saja maka frekuensi serangan hama ke tanaman bawang merah mencapai 16,4 persen atau satu petak lahan yang ditanami 30 rumpun bawang, yang terkena hama mencapai 16,4 persen. Setelah pestisida dikombinasi dengan likat kuning dan feromon seks maka frekuensinya turun hingga 6,83 persen, minggu berikutnya turun lagi hingga 3,6 persen sampai panen di hari keenam puluh," kata Spudnik.

Keberhasilan mengatasi hama bawang merah seperti diinstruksikan Presiden Jokowi, menurutnya akan diterapkan pula di seluruh Indonesia oleh Ditjen Hortikultura seperti feromon seks. Fungsinya, menarik perhatian serangga jantan masuk ke toples feromon yang diisi dengan minyak kelapa, setelah masuk perangkap di toples langsung jatuh ke minyak kelapa lalu mati. Serangga jantan pun berkurang sehingga yang betina tidak bisa kawin, hama pun berkurang, dan feromon seks dapat dapat dipakai selama masa tanam atau 60 hari.

"Kalau likat kuning harus diganti setiap pekan karena selembar seng berukuran 10 x 15 cm akan penuh oleh serangga yang terjerat lem tikus," kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Yanuardi MM yang mendampingi Spudnik Sujono bersama tim oranye mendampingi petani di Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes.

Pengendalian Hama Terpadu
Konsepsi pengendalian hama terpadu (HPT) merupakan pendekatan ekologi yang bersifat multidisiplin untuk mengelola populasi hama dan intensitas serangan penyakit dengan memanfaatkan beragam taktik pengendalian yang kompatibel dalam suatu kesatuan koordinasi pengelolaan.

"PHT merupakan suatu sistem pengendalian yang menggunakan pendekatan ekologi, maka pemahaman tentang biologi dan ekologi hama dan penyakit menjadi sangat penting," kata Kepala Subdirektorat Aneka Cabai dan Sayuran Buah Ditjen Hortikultura, M Agung Sunusi di Brebes.

Menurutnya, pelaksanaan PHT sebaiknya dilakukan mulai sejak perencanaan tanam sampai pascapanen, termasuk di dalamnya adalah pemilihan lahan, benih, pemeliharaan tanaman, pengamatan organisme pengganggu tanaman (OPT), keputusan pengendalian, panen, dan pascapanen.

"Penerapan dan pengembangan teknologi PHT dilandasi oleh empat prinsip yakni budidaya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan rutin dan melatih petani sebagai ahli PHT. Dalam kegiatan pengendalian juga, OPT sasaran harus kita ketahui terlebih dahulu agar tindakan yang kita lakukan tepat sasaran," kata Agung.

Brebes, Central Java (B2B) - The Indonesian Agriculture Minister through the Horticulture Directorat-General socialize equipment utilization simple as pest traps are environmentally friendly with sticky yellow and sex pheromones that have been introduced long ago by the government to the farmers onions, but they preferred pesticides to eradicate pest because it was considered more practical although more expensive.

Indonesia`s Horticulture Director-General Spudnik Sujono said pest traps have been introduced by the ministry since a long time to overcome pests and diseases, micronutrient deficiencies and climatic conditions that can cause the production of shallots declined.

According to him, the attention of President Joko Widodo against pests which he was found after dialogue with shallot farmers in Luwung Gede village of Larangan subdistrict in Brebes district of Central Java Province showed concern heads of state on the shallots as an important commodity that intensively cultivated by farmers.

"Shallots is a commodity capital-intensive and labor-intensive as a source of income for farmers and surrounding communities. Look at the farm laborers who live around here who plants or harvest, they paid 30 thousand rupiah per person a day, working from morning until 12 noon," Mr Sujono told the press here on Monday morning (4/18).

He added after a special team from the directorate general support pest control with simple trap, spraying pesticides was reduced from 14 times a week to seven times in one week.

"Having observed if the pesticides alone, the frequency of pest reached 16.4 percent in the area planted with 30 clumps of shallots, the affected pest reaches 16.4 per cent. After a pesticide combined with the sticky yellow and sex pheromones, turned out the frequency of pest attack down until 6.83 percent, down again to 3.6 per cent in the next week until the harvest on the sixtieth day," Mr Sujono said.

The success of overcome pests shallots such as instructed by President Widodo, according to him, will be applied in across Indonesia by the Directorate General of Horticulture such as sex pheromones. Function, to attract male insects enter the pheromone jar filled with coconut oil, after entering the trap in a jar fell to the coconut oil and die. Male insects also reduced and sex pheromones can be used during the planting season or 60 days.

"If the sticky yellow should be changed every week because of a piece of tin size 10 x 15 cm will be filled by insects are trapped by glue rat," the Director of Vegetable and Medicinal Plants, Yanuardi MM who was accompanied Mr Sujono and orange team assist farmers in Larangan subdistrict of Brebes subdistrict.

Integrated Pest Management
The conception of integrated pest management (PHT) is an ecological approach to multidisciplinary to manage pest populations and intensity of attacks of disease by utilizing a variety of tactics that are compatible control into a unified management coordination.

"The PHT is a control system that uses an ecological approach, the understanding of the biology and ecology of pests and diseases is very important," Deputy Head of the Sub-variety of Chili and Vegetables, M Agung Sanusi.

According to him, the implementation of the PHT conducted from planning planting of shallots until post harvest, including the election of land, the seeds, maintenance of plants, observation of plant pests, decision control, the harvest and post-harvest.

"Implementation and development of IPM technology is guided by four principles ie the cultivation of healthy plants, the use of natural predators, routine and training farmers. In the control activities as well, the target pests should be known in advance so that the right target," Mr Sunusi said.