Penguatan FETP - FETPV 2027, Kementan Siapkan SDM Epidemiologi Veteriner
West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : Ismail Gani
Translator : Novita Cahyadi
Bogor, Jabar (B2B) - Penguatan kapasitas tenaga epidemiologi menjadi langkah penting, untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit, termasuk zoonosis yang dapat menular antara hewan dan manusia.
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan, dalam upaya tersebut, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara berperan aktif mendukung pengembangan Field Epidemiology Training Program (FETP) dan Field Epidemiology Training Program for Veterinarians (FETPV) tahun 2027.
Peran tersebut diwujudkan melalui partisipasi BBPKH Cinagara pada Pertemuan Koordinasi Persiapan Penguatan FETP -FETPV 2027 yang berlangsung pada 14 - 16 Oktober 2026 di Aston Hotel Bogor Nirwana Residence, Bogor, Provinsi Jawa Barat (Jabar).
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam konteks penguatan sektor peternakan, menekankan pentingnya kesehatan hewan sebagai fondasi produktivitas ternak dan ketahanan pangan.
Upaya meningkatkan kapasitas SDM, memperkuat deteksi dini, serta mendorong respons cepat terhadap penyakit perlu menjadi bagian dari strategi perlindungan sektor peternakan.
“Penguatan kesehatan hewan harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas SDM. Kesiapsiagaan menghadapi penyakit menjadi faktor penting untuk melindungi ternak, menjaga produktivitas peternakan dan mendukung ketahanan pangan nasional,” katanya.
Senada hal itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian - Kementerian Pertanian RI (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya peningkatan kompetensi SDM pertanian melalui pelatihan yang terarah, adaptif, dan sesuai kebutuhan lapangan.
“SDM yang kompeten merupakan kunci menghadapi tantangan sektor pertanian, termasuk ancaman penyakit hewan," katanya.
Mentan Amran menambahkan, penguatan program pelatihan epidemiologi veteriner diharapkan mampu menghasilkan tenaga terampil melakukan surveilans, investigasi, deteksi dini, dan penanganan penyakit secara tepat.
BBPKH Cinagara
Kabalai Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan, Koordinasi Persiapan Penguatan FETP -FETPV 2027 menjadi wadah koordinasi lintas sektor, untuk membahas arah pengembangan program, penyelarasan kompetensi dan penguatan kolaborasi menghadapi ancaman penyakit.
Pertemuan tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan antara lain Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian PPN/Bappenas, organisasi profesi, institusi akademik, serta mitra pembangunan, termasuk FAO Indonesia, WHO Indonesia, CDC, Epic-GHS, STRIDES, DFAT Health Unit, dan Kita Sehat.
Pada hari kedua pertemuan, Widyaiswara Ahli Madya BBPKH Cinagara, Heris Kustiningsih memaparkan pengalaman implementasi FETPV atau Program Epidemiologi Lapangan Veteriner Indonesia (PELVI) periode 2019 - 2026.
"Program tersebut dilaksanakan melalui pelatihan PELVI Frontline dan PELVI Intermediate untuk mendukung pengembangan kompetensi epidemiologi veteriner," katanya.
Pengalaman penyelenggaraan PELVI menjadi salah satu bahan pembelajaran merumuskan penguatan FETP–FETPV 2027. Pembahasan mencakup penyesuaian kurikulum, pemetaan kebutuhan kompetensi, ketersediaan mentor dan calon peserta, penentuan institusi pelaksana, serta mekanisme koordinasi antarsektor.
Epidemiologi Veteriner
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, menegaskan bahwa penguatan kompetensi epidemiologi veteriner merupakan bagian penting membangun kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit.
“Pengembangan SDM epidemiologi veteriner tidak cukup hanya melalui penguasaan teori, juga harus didukung kemampuan teknis di lapangan," katanya.
Pengalaman pelaksanaan PELVI menjadi modal penting untuk menyempurnakan pelatihan agar semakin relevan dengan kebutuhan dan tantangan kesehatan hewan.
Penguatan program FETP–FETPV juga diarahkan pada penerapan pendekatan One Health, yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan dan lingkungan.
"Pendekatan tersebut mendorong penyelarasan kompetensi lintas sektor ke dalam kurikulum dan modul pelatihan sesuai kebutuhan masing-masing bidang," katanya lagi.
Tenaga Epidemiologi
Kabalai Cinagara, Inneke Kusumawaty mengingatkan, integrasi kesehatan manusia dengan hewan dan lingkungan penting untuk memperkuat kemampuan tenaga epidemiologi menjalankan surveilans, mendeteksi dini potensi wabah, melakukan investigasi, serta merespons ancaman penyakit secara terpadu.
"Kolaborasi antara sektor kesehatan manusia dan kesehatan hewan menjadi unsur penting dalam membangun sistem kewaspadaan yang lebih tangguh," katanya.
Menurutnya, melalui keterlibatan pada Pertemuan Koordinasi Persiapan Penguatan FETP -FETPV 2027, BBPKH Cinagara berkontribusi mendukung pengembangan SDM epidemiologi veteriner yang kompeten dan adaptif.
"Pengalaman pelaksanaan PELVI diharapkan menjadi masukan bagi penyempurnaan program pelatihan ke depan, sehingga tenaga epidemiologi semakin siap menghadapi dinamika ancaman penyakit dan mendukung perlindungan kesehatan hewan di Indonesia," ungkap Inneke Kusumawaty. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]
Bogor of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
