Kemandirian Ekonomi, Kementan Bekali 67 Eks Jurnalis Keterampilan Beternak Ayam
West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Bogor, Jabar (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha peternakan skala rumahan. Program diharapkan membuka peluang usaha baru, menambah pendapatan keluarga, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan pangan secara mandiri.
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan, upaya tersebut diwujudkan melalui ´Workshop Budidaya Ayam Petelur´ bagi 67 eks jurnalis yang tergabung pada organisasi Agrijurno.
Kegiatan workshop diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara bersama Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor.
Workshop dibuka oleh Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto pada Rabu (14/10) di Aula Rajawali BBPKH Cinagara, Bogor, Jabar dihadiri Tenaga Ahli Menteri Pertanian (TA Mentan) Bidang Komunikasi Publik, Imam Wahyudi dan Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus mendorong pemanfaatan potensi sektor pertanian sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
"Budidaya ayam petelur skala rumahan dapat menjadi pilihan usaha yang relatif mudah dikembangkan secara bertahap, sekaligus membantu memenuhi kebutuhan protein hewani keluarga," katanya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya pengembangan kompetensi SDM pertanian agar mampu memanfaatkan potensi pertanian secara produktif.
"Pelatihan berbasis praktik menjadi salah satu pendekatan untuk membangun keterampilan teknis, jiwa kewirausahaan, dan kemampuan mengelola usaha secara mandiri," katanya.
Sementara TA Mentan Bidang Komunikasi Publik, Imam Wahyudi menegaskan bahwa program workshop tidak hanya bertujuan memberikan keterampilan usaha kepada eks jurnalis, juga mendorong kemandirian ekonomi sebagai salah satu penopang independensi profesi jurnalistik.
BBPKH Cinagara
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty dalam arahannya menegaskan, Workshop tersebut telah memasuki angkatan ketiga atau Batch 3. Materi pelatihan disusun untuk memberikan pemahaman menyeluruh, mulai aspek teknis pemeliharaan hingga pengelolaan usaha.
“Dalam pelatihan Batch 3, peserta dibekali pengetahuan manajemen kandang, pemberian pakan, pemeliharaan dan kesehatan ternak, hingga analisis usaha," katanya.
Dia berharap keterampilan tersebut menjadi modal bagi peserta untuk membangun usaha peternakan yang produktif dan berkelanjutan.
Dukungan berupa ayam, kandang, pakan, dan vitamin, ungkap Inneke Kusumawaty diharapkan membantu peserta menerapkan materi yang telah dipelajari. Kendati demikian, , keberhasilan usaha tetap bergantung pada kedisiplinan pemeliharaan, ketepatan pengelolaan pakan dan kesehatan ternak, serta kemampuan menghitung biaya dan peluang pasar.
"Kementan harapkan, anggota Agrijurno dapat memanfaatkan pengalaman jurnalistik mereka untuk memperluas literasi masyarakat mengenai bisnis peternakan," katanya.
Inneke Kusumawaty menambahkan, informasi yang disampaikan secara tepat diharapkan dapat mendorong masyarakat mengenal peluang usaha ayam petelur dan memahami langkah-langkah dasar untuk memulainya.
Polbangtan Bogor
Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto mengatakan bahwa Workshop dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta mengelola usaha peternakan.
"Praktik budidaya ayam petelur dengan sistem kandang baterai, peserta diharapkan memiliki bekal untuk memulai usaha dari skala kecil dan mengembangkannya sesuai kemampuan," katanya.
Yoyon Haryanto menambahkan, dari kegiatan pelatihan maka setiap peserta akan dibekali 10 ekor ayam, kandang dan pakan. Dari 10 ekor ayam ini, diharapkan usaha ternak ayam eks jurnalis berkembang menjadi 100 bahkan 1.000 ekor secara bertahap.
"Mudah-mudahan kegiatan ini juga memberikan dampak positif bagi ketahanan pangan keluarga, terutama di tengah kebutuhan telur ayam yang semakin meningkat,” katanya.
Yoyon Haryanto berharap, pengalaman peserta di bidang jurnalistik dapat menjadi modal untuk menyebarluaskan informasi mengenai peluang usaha peternakan.
"Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh tidak hanya bermanfaat bagi peserta, juga menjadi sumber edukasi bagi masyarakat yang ingin merintis usaha serupa," katanya.
Kemandirian Ekonomi
TA Mentan Bidang Komunikasi Publik, Imam Wahyudi menegaskan bahwa Workshop bagi eks jurnalis merupakan bagian dari upaya Kementan meningkatkan kapasitas SDM agar mampu mengoptimalkan potensi pertanian dan peternakan sebagai sumber penghidupan.
"Pengembangan usaha produktif di tingkat keluarga juga menjadi salah satu langkah, untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Program Workshop tidak hanya bertujuan memberikan keterampilan usaha epada mantan jurnalis, juga mendorong kemandirian ekonomi sebagai salah satu penopang independensi profesi jurnalistik.
“Tujuan kita mendorong teman-teman menjadi entrepreneur adalah agar mandiri secara ekonomi. Ketika ekonomi jurnalis sudah kuat, pemberitaan tidak lagi dijadikan alat mencari nafkah, melainkan murni panggilan passion untuk menjaga marwah jurnalistik yang sehat dan berimbang,” katanya.
Dia menegaskan, dukungan Kementan melalui pelatihan dan fasilitas usaha tidak boleh dimaknai sebagai tuntutan untuk menghasilkan pemberitaan yang selalu positif. Independensi, objektivitas, dan sikap kritis tetap menjadi prinsip utama dalam menjalankan profesi jurnalistik.
“Meskipun program ini mendapat dukungan fasilitas dan pelatihan dari Kementan serta Mentan Amran Sulaiman, jangan pernah berpikir teman-teman diminta membagus-baguskan berita," kata Imam Wahyudi.
"Silakan tetap menjadi jurnalis yang sejati dan kritis. Kalau ada hal yang tidak benar di sektor pertanian, beritakanlah fakta tersebut dengan cara yang benar.”
Belajar Disiplin
Imam Wahyudi menambahkan, bahwa pemberian 10 ekor ayam pada tahap awal merupakan sarana pembelajaran, untuk membangun kedisiplinan dan konsistensi dalam menjalankan usaha.
"Peserta yang menunjukkan kesungguhan dalam pemeliharaan dan pengelolaan usaha berpeluang mengikuti pengembangan usaha ke skala yang lebih besar," katanya.
Sepuluh ekor ayam pada angkatan pertama dan kedua, ungkap Imam Wahyudi, adalah media pembelajaran kedisiplinan.
"Mengurus sepuluh ayam saja membutuhkan konsistensi luar biasa. Dari sana, teman-teman yang serius kita naikkan kelasnya untuk mengelola 600 ekor ayam secara berkelompok per 10 orang,” ungkapnya lagi.
Melalui kolaborasi BBPKH Cinagara dan Polbangtan Bogor, Kementan berharap pelatihan ini menjadi langkah awal bagi peserta Agrijurno untuk membangun usaha peternakan yang produktif.
Dengan pengelolaan yang baik dan pengembangan secara bertahap, usaha ayam petelur diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan tambahan, membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga, serta menumbuhkan wirausaha baru di sektor peternakan. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]
Bogor of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
