Pertanian Terpadu, P4S Ternak Jaya Contoh Sukses Sistem Zero Waste

West Java`s Lembang Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Pertanian Terpadu, P4S Ternak Jaya Contoh Sukses Sistem Zero Waste
BBPP LEMBANG: Ketua P4S Ternak Jaya, Roja´i didampingi widyaiswara [kanan atas] sebagai narasumber pada Webinar BoC bertema Zero Waste yang dibuka oleh Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika [kanan bawah] turut hadir Kapuslat Tedy Dirhamsyah [kiri atas]

 

Bandung Barat, Jabar (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) mendorong penerapan Pertanian Terpadu (Integrated Farming) dengan konsep utama, memanfaatkan limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi melalui pendekatan Zero Waste, sebagai strategi meningkatkan produktivitas sekaligus mewujudkan swasembada pangan.  

Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Ajat Jatnika mengatakan pengembangan Pertanian Terpadu dinilai mampu menekan biaya produksi seraya meningkatkan pendapatan petani melalui pemanfaatan sumber daya secara optimal dan berkelanjutan.

Pengembangan Pertanian Terpadu mengemuka pada Webinar Bertani on Cloud (BoC) yang dibuka oleh Kabalai Ajat Jatnika secara daring, Kamis pekan lalu (16/4) dengan menghadirkan Ketua Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Ternak Jaya, Roja´i yang tergolong sukses mengembangkan Pertanian Terpadu dan Zero Waste.

Pengembangan Zero Waste sebagai output dari Pertanian Terpadu sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman tentang pentingnya kemandirian di sektor pangan sebagai bagian dari kekuatan nasional.

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, termasuk melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi.

“Kementan mendorong intensifikasi melalui peningkatan produktivitas, penggunaan benih unggul serta penerapan teknologi dan inovasi,” katanya.

BoC BBPP Lembang
Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika menilai bahwa konsep Pertanian Terpadu merupakan solusi nyata menuju kemandirian petani.

“Dengan pendekatan ekonomi sirkular dan optimalisasi hubungan antara pertanian dan peternakan, sistem ini memberikan keuntungan berkelanjutan bagi petani,” ujarnya.

Ajat Jatnika menambahkan, penerapan Pertanian Terpadu diharapkan dapat menjadi model yang direplikasi secara luas, sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di berbagai daerah. 

"Kunci sukses dari sistem Pertanian Terpadu adalah efisiensi dan peningkatan nilai tambah. Intinya, bagaimana pengeluaran petani berkurang, tetapi pendapatan meningkat," ungkapnya lagi.

Kabalai Ajat Jatnika merujuk pada pengembangan Pertanian Terpadu yang diterapkan P4S Ternak Jaya, mengintegrasikan sektor pertanian dan peternakan, dengan komoditas utama padi, jagung, serta ternak sapi dan kambing.

P4S Ternak Jaya
Ketua P4S Ternak Jaya, Roja’i menjelaskan bahwa konsep utama Pertanian Terpadu adalah memanfaatkan limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi melalui pendekatan Zero Waste.

“Keuntungan yang kami rasakan adalah biaya produksi bisa ditekan dan hasil usaha meningkat,” ujarnya.

Limbah peternakan, seperti feses dan urin, diolah menjadi pupuk organik padat dan cair. Selain itu, limbah tersebut juga dimanfaatkan sebagai pestisida nabati karena memiliki sifat antiparasit dan antibakteri.

Roja’i juga mengembangkan probiotik dari rumen sapi untuk mengurangi bau amonia dan gas metana, sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan peternakan.

Tak hanya itu, inovasi lain yang dikembangkan adalah pembuatan fungisida berbahan dasar belerang untuk mengatasi serangan jamur pada tanaman, terutama saat kondisi cuaca ekstrem. 

Dia mengombinasikan bahan alami tersebut dengan pupuk cair berbasis urin ternak untuk meningkatkan ketahanan tanaman.

Di bidang peternakan, Roja’i juga meracik jamu herbal dari bahan alami seperti jahe, temulawak, serai dan daun sirih yang difermentasi untuk menjaga kesehatan ternak.

Menurutnya, kunci utama dari sistem Pertanian Terpadu adalah efisiensi dan peningkatan nilai tambah. 

“Intinya bagaimana pengeluaran petani berkurang, tetapi pendapatan meningkat,” tegasnya saat sharing pada kegiatan BOC, Kamis (16/04/26). [chetty/afriski/timhumas bbpplembang]

 

 

 

West Bandung of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.