Tanaman Padi Berisiko Kekeringan pada September 2013
Rice Crop at Risk of Droughts in September 2013
Reporter : Gusmiati Waris
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Jakarta (B2B) - Memperhatikan anomali peningkatan curah hujan yang diprakirakan akan berakhir pada Agustus 2013, maka potensi bencana kekeringan maupun banjir dan organisme perusak tanaman (OPT) tanaman padi pada Musim Tanam (MT) III 2013 berkisar 3,4% hingga 15%.
"Harus tetap diwaspadai bahwa sebagian besar lahan sawah untuk tanaman padi memiliki risiko kekeringan pada September 2013, khususnya di Pulau Jawa," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian, Haryono kepada pers di kantornya di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Dia menambahkan, potensi kekeringan tertinggi menurut wilayah pulau adalah Pulau Jawa sekitar 6,6%, Sulawesi (5,3%), dan Kalimantan (3,3%) dari luas tanamnya. Meskipun demikian, dengan kondisi musim kering yang basah ini, potensi bencana kekeringan tersebut mengalami penurunan signifikan. Pada MT III 2013 masih ada wilayah yang berpotensi banjir terutama di Pulau Sulawesi sekitar 2,9% khususnya di Sulawesi Selatan.
Organisme perusak tanaman utama tanaman padi di Sulawesi adalah penggerek batang sekitar 1,8% dan tikus sawah (1,7%); di Jawa adalah wereng batang coklat (3,2%), penggerek batang dan tikus (1,5%). Sedangkan di Bali dan Nusa Tenggara adalah penggerek batang.
"Pada situasi kemarau basah ini, terjadi sedikit peningkatan serangan OPT tetapi kondisinya masih aman," ungkap Haryono.
Wilayah yang mempunyai peluang kekeringan pada pertanaman jagung, kata Haryono, yakni di Jawa, Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan dengan kisaran 0,2% di Kalimantan dan Jawa sekitar 24,3%. Sementara pada pertanaman kedelai tidak ditemukan wilayah yang mempunyai peluang mengalami kekeringan pada MT III.
"Dengan adanya peningkatan curah hujan pada musim kemarau 2013 ini, Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan mengungkapkan bahwa perkembangan OPT dan banjir serta kekeringan ada peningkatan tapi masih dalam taraf aman. Kemarau basah memicu petani untuk menanam padi pada MT III, namun pada kondisi ini perlu mewaspadai serangan wereng batang coklat," ungkap Haryono.
Jakarta (B2B) - Noting the increase of rainfall anomalies are predict to end in August 2013, the potential for drought and flooding, and plant destructive organisms (PDO) on rice planting season (PS) III in 2013 approximately 3.4% to 15% .
"Must remain aware that most of the rice field to rice crop at risk droughts in September 2013, particularly in Java," the Head of Indonesian Agency for Agricultural Research and Development Ministrty of Agriculture (IAARD), Haryono told reporters at his office in the Ragunan, South Jakarta, recently.
He added that the potential for the highest droughts by region is approximately 6.6% of Java, Sulawesi (5.3%), and Borneo (3.3%) from planting area. However, with the dry season wet conditions, the potential of the drought has decreased significantly. On PS III in 2013 there are still potential flood areas, especially around 2.9% in Sulawesi, South Sulawesi in particular.
Organisms main crop rice stem borer in Sulawesi is about 1.8%, and the field mouse (1.7%); in Java is the brown plant hopper rod (3.2%), stem borer and rat (1.5%) . While in Bali and Nusa Tenggara is the stem borer.
"In this situation of wet dry, there was a slight increase in the pest attack but conditions are still safe," Haryono said.
Areas that have a chance of droughts on maize crop, said Haryono, namely in Java, Sulawesi, Sumatra and Kalimantan, with a range of 0.2% in Kalimantan, and Java around 24.3%. While the soybean is not found in the area of ��potential droughts PS III.
"With the increase rainfall during the dry season in 2013, the Directorate of Food Crop Protection revealed that the development of PDO and floods and droughts but still there is an increase in the standard safe. Drought wet triggered farmers to to plant rice on PS III, but in these conditions need to be wary of attacks brown plant hopper rod, "said Haryono.
