Sinergi Pengembangan Peternakan Nasional, UPT Kementan gelar Workshop Akselerasi Regenerasi Peternak
West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Bogor, Jabar (B2B) - Swasembada pangan asal hewan tidak hanya ditentukan oleh peningkatan populasi dan produktivitas ternak, tetapi juga oleh kualitas SDM yang memiliki kompetensi teknis, manajerial, kewirausahaan, serta kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan dinamika pasar.
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan dalam upaya mendukung program prioritas Kementerian Pertanian RI (Kementan) menuju Swasembada Pangan asal hewan nasional, diperlukan pelibatan generasi muda yang adaptif teknologi dan penguatan kapasitas SDM sektor peternakan dan kesehatan hewan
Untuk itu, Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Workshop bertajuk ´Akselerasi Regenerasi Peternak dan Kelembagaan Peternak yang Mandiri dan Berdaya Saing´ pada Rabu (25/02) sebagai bagian dari dukungan terhadap program prioritas Kementan menuju Swasembada Pangan asal hewan nasional.
Kegiatan workshop sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa Kemandirian Pangan Nasional hanya dapat dicapai melalui penguatan produksi dan SDM secara bersamaan.
“Kita harus membangun pertanian dan peternakan berbasis teknologi dan SDM unggul. Regenerasi adalah kunci. Tanpa anak muda yang mau masuk ke sektor ini, swasembada tidak akan berkelanjutan. Pemerintah akan terus hadir memberikan dukungan penuh bagi petani dan peternak,” katanya.
Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti dalam paparannya menekankan pentingnya regenerasi peternak sebagai agenda strategis pembangunan pertanian berkelanjutan.
“SDM pertanian merupakan fondasi utama mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Regenerasi peternak harus melibatkan generasi muda yang adaptif terhadap teknologi, inovatif serta mampu mengelola usaha peternakan secara profesional dan modern,” tegasnya.
BBPKH Cinagara
Kegiatan Workshop bertajuk ´Akselerasi Regenerasi Peternak dan Kelembagaan Peternak yang Mandiri dan Berdaya Saing´
berlangsung secara hybrid pada Rabu (25/02).
Workshop dibuka oleh Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty yang dihadiri 130 peserta partisipasi aktif (offline) dan 1.500 peserta hadir secara daring (online).
Hadir sejumlah narasumber di antaranya Tenaga Ahli (TA) Mentan Bidang Pembinaan Petani Muda, RS Suroyo, Jr; TA Mentan Bidang Percepatan Peningkatan Produksi Pertanian, Muhammad Arsyad, TA Mentan Bidang Pengembangan Kelembagaan dan Pembiayaan Pertanian, Mat Syukur sebagai narasumber.
Inneke Kusumawaty mengatakan, sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup BPPSDMP Kementan, BBPKH Cinagara berkomitmen memperkuat pelatihan vokasi berbasis kompetensi.
“Workshop menjadi forum strategis untuk menyusun arah sinergi kelembagaan, pembiayaan dan penguatan kompetensi SDM secara terintegrasi guna mendukung percepatan swasembada protein hewani nasional,” katanya.
Inneke Kusumawaty menambahkan, transformasi peternakan merupakan investasi strategis bagi masa depan Indonesia. Oleh karena itu, sektor peternakan harus menjadi ruang tumbuh bagi inovasi dan kewirausahaan.
"Perlu adanya kerja sama, sinergi dan kolaborasi untuk membangun fondasi kokoh bagi terwujudnya peternakan Indonesia berdaya saing dan berkelanjutan," ungkapnya.
Keberhasilan transformasi, ungkap Inneke Kusumawaty, dapat ditunjukkan melalui meningkatnya persentase peternak usia di bawah 40 tahun, bertambahnya rata-rata skala kepemilikan ternak, meningkatnya produktivitas per ekor, menurunnya rasio impor protein hewani dan meningkatnya margin usaha peternak.
“Apabila sistem peternakan tetap berjalan secara tradisional dan tidak efisien, tentu generasi muda tidak akan tertarik terjun ke sektor ini. Sebaliknya, apabila sistem dibangun secara modern, efisien dan menguntungkan maka proses regenerasi peternak akan terjadi alami,” pungkasnya.
Brigade Ternak
TA Mentan Bidang Percepatan Peningkatan Produksi Pertanian, Muhammad Arsyad menekankan pentingnya penguatan kompetensi dan kelembagaan.
“Strategi penguatan SDM peternakan harus difokuskan pada peningkatan kompetensi teknis dan manajerial yang adaptif terhadap teknologi serta penguatan kelembagaan agar peternak memiliki akses pembiayaan dan pasar yang jelas,” katanya.
TA Mentan Bidang Pembinaan Petani Muda, RS Suroyo Jr memaparkan strategi penguatan SDM dan kelembagaan peternak, salah satunya terkait pola Brigade Pangan yang dinilai cukup relevan jika diterapkan pada sektor peternakan menjadi Brigade Ternak.
“Program Brigade Pangan terbukti menjadi salah satu model efektif mendorong regenerasi petani. Pola Brigade Pangan dinilai berhasil, karena mampu membangkitkan motivasi generasi muda melalui dukungan nyata. Mulai dari pembinaan, pendampingan, hingga fasilitasi alat dan mesin pertanian sehingga risiko usaha dapat ditekan," katanya.
Konsep tersebut, ungkapnya, juga sangat relevan untuk dikembangkan di sektor peternakan melalui pembentukan Brigade Ternak. Brigade Ternak dapat menjadi wadah regenerasi peternak muda yang terorganisir, profesional, dan berbasis kawasan” tambahnya.
Sementara TA Mentan Bidang Pengembangan Kelembagaan dan Pembiayaan Pertanian, Mat Syukur menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor.
“Penguatan SDM peternakan membutuhkan sinergi multi stakeholder yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah, lembaga pelatihan, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga pembiayaan, serta kelembagaan peternak. Kolaborasi yang akan mempercepat lahirnya peternak mandiri dan berdaya saing,” katanya.
Inneke Kusumawaty mengharapkan, workshop diharapkan menjadi wadah konsolidasi kebijakan sekaligus langkah konkret memperkuat sinergi kelembagaan dan peningkatan kapasitas SDM secara berkelanjutan.
"Dengan partisipasi ratusan peserta dari sejumlah pemangku kepentingan, kegiatan workshop menjadi momentum penting memperkuat komitmen bersama menuju peternakan Indonesia yang maju, mandiri dan modern. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]
Bogor of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
