Gertam Serempak Lebak, Langkah Nyata menuju Swasembada Pangan Banten

The Agricultural Library Support Indonesian Farmers to Attain Food Self-sufficiency

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Gertam Serempak Lebak, Langkah Nyata menuju Swasembada Pangan Banten
BB PUSTAKA: Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho D.P. [tengah] memimpin Gertam Serempak di Desa Rahong, Kecamatan Malimping, Kabupaten Lebak di Provinsi Banten dengan luas tanam yang direalisasikan mencapai 20 hektare dengan menggunakan varietas unggul Inpari 32.

 

Lebak, Banten (B2B) - Upaya mewujudkan swasembada pangan nasional terus diperkuat melalui pelaksanaan Gerakan Tanam (Gertam)  Serempak yang digelar secara serentak di 25 provinsi pada Sabtu (18/7/2026). Gertam yang dipusatkan di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur ini  menjadi simbol komitmen bersama dalam mempercepat peningkatan produksi pangan Indonesia.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa percepatan tanam menjadi salah satu strategi utama dalam mencapai target swasembada pangan. Menurutnya, seluruh lahan produktif harus dimanfaatkan secara optimal agar produksi pangan nasional terus meningkat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara mandiri.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa Gerakan Tanam Serempak merupakan langkah konkret Kementerian Pertanian untuk meningkatkan produksi pangan melalui optimalisasi lahan, peningkatan Indeks Pertanaman (IP), serta penguatan sinergi berbagai pemangku kepentingan.

"Gerakan Tanam Serempak ini bukan hanya kegiatan menanam, tetapi juga wujud ikhtiar bersama dalam mempercepat peningkatan produksi pangan nasional," katanya.

Kabadan SDM mengajak penyuluh, Brigade Pangan, pemerintah daerah, dan para petani untuk terus mempercepat tanam, mengoptimalkan pemanfaatan lahan, serta memanfaatkan teknologi pertanian guna mewujudkan swasembada pangan.

Gertam Banten
Di Provinsi Banten, semangat Gertam menggema melalui pelaksanaan tanam padi serempak yang melibatkan berbagai unsur pertanian, mulai dari petani, penyuluh pertanian, Brigade Pangan (BP), hingga pemerintah daerah. 

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya percepatan tanam, optimalisasi pemanfaatan lahan, dan peningkatan produksi pangan di Provinsi Banten.

Kepala Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka), Eko Nugroho Dharmo Putro menegaskan bahwa keberhasilan program swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sarana produksi dan teknologi, juga oleh kemampuan petani dalam mengakses serta memanfaatkan informasi dan pengetahuan pertanian secara tepat.

"Gerakan Tanam Padi Serempak ini menunjukkan semangat kolaborasi seluruh insan pertanian dalam mendukung swasembada pangan. "Kami juga mendorong petani untuk menerapkan metode tanam PM-AAS sebagai upaya peningkatan produktivitas hingga 10 ton/Ha," ungkapnya.

"BB Pustaka berkomitmen memperkuat literasi pertanian melalui penyediaan informasi, teknologi, dan pengetahuan yang mudah diakses oleh petani, penyuluh, maupun Brigade Pangan. 

Dengan literasi yang kuat, petani dapat mengambil keputusan budidaya yang lebih tepat, meningkatkan produktivitas, dan mampu beradaptasi terhadap berbagai tantangan di lapangan," tambahnya.

Literasi Pertanian
Menurutnya, penguatan literasi pertanian menjadi bagian penting dalam transformasi pertanian modern. Melalui akses terhadap informasi yang berkualitas dan pemanfaatan teknologi digital, petani diharapkan mampu meningkatkan efisiensi usaha tani, memperluas wawasan, serta menghasilkan produksi yang lebih optimal dan berkelanjutan.

"Kami berharap Gerakan Tanam Serempak ini tidak hanya meningkatkan luas tanam dan produksi padi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat budaya belajar dan berbagi pengetahuan di kalangan petani. Ketika teknologi, literasi, dan semangat gotong royong berjalan bersama, maka target swasembada pangan akan semakin cepat terwujud," tegas Eko.

Gertam dilaksanakan di Desa Rahong Kec. Malimping Provinsi Banten dengan luas tanam yang direalisasikan mencapai 20 hektare dengan menggunakan varietas unggul Inpari 32. 

Varietas ini dipilih karena memiliki produktivitas yang tinggi, adaptif terhadap berbagai kondisi lahan, serta mampu mendukung peningkatan hasil panen. 

Peran Penyuluh
Dari pertanaman tersebut diperkirakan akan menghasilkan produksi sekitar 6 ton per hektare, sehingga diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi padi di wilayah Banten.

Sedangkan penyuluh pendamping BP, Aat Afiati menyampaikan bahwa keberhasilan program swasembada pangan memerlukan sinergi yang kuat antara petani, penyuluh, BP, dan pemerintah. Menurutnya, pendampingan yang intensif serta penerapan teknologi budidaya yang tepat menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas lahan.

"Melalui Gerakan Tanam Padi Serempak ini, kami ingin membangun semangat bersama untuk terus meningkatkan produksi pangan. Penyuluh akan terus mendampingi petani dan BP mulai dari persiapan lahan, penanaman, hingga panen agar hasil yang diperoleh dapat optimal," kata Aat.

"Kami optimistis dengan penerapan teknologi dan pengelolaan budidaya yang baik, target peningkatan produksi padi di Provinsi Banten dapat tercapai." 

Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen seluruh insan pertanian di Provinsi Banten dalam mendukung program swasembada pangan nasional melalui percepatan tanam, peningkatan produktivitas, dan optimalisasi pemanfaatan lahan pertanian.

Gertam Serempak di Provinsi Banten dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian, termasuk petani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), BP serta perwakilan instansi terkait yang bersama-sama mendukung peningkatan produksi pangan daerah.

Melalui Gertam Serempak ini, diharapkan semangat gotong royong seluruh insan pertanian semakin kuat dalam mengoptimalkan musim tanam, meningkatkan produktivitas padi, serta memperkokoh ketahanan pangan nasional menuju swasembada pangan berkelanjutan. [shinta/timhumas bbpustaka]

 

 

 

 

 

Lebak of Banten [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.

Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.