Kementan Dukung Polri Latih Warga Binaan Densus 88 geluti Agribisnis Peternakan
West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Bogor, Jabar (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara bersama Kepolisian RI (Polri) pada Direktorat Identifikasi dan Sosial (Idensos) Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror mengadakan ´Pelatihan Kewirausahaan Agribisnis Kambing dan Domba´ di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat (Jabar) pada Selasa (30/6).
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan Kementan berkomitmen terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia (SDM) pertanian melalui program pelatihan berbasis kewirausahaan peternakanm di antaranya Warga Binaan dari Densus 88 Antiteror Polri.
Kegiatn pelatihan sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengembangan SDM merupakan fondasi utama mewujudkan pertanian maju, mandiri, dan modern.
"Sektor pertanian harus mampu menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya pelaku usaha baru yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Mentan Amran menambahkan, Kementan terus mendorong lahirnya SDM pertanian yang tidak hanya terampil secara teknis, juga memiliki jiwa kewirausahaan.
"Dengan demikian, sektor pertanian dapat menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus membuka peluang usaha yang berkelanjutan bagi masyarakat," katanya.
Senada hal itu , Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengatakan bahwa pelatihan vokasi harus mampu menghasilkan SDM yang adaptif terhadap perkembangan usaha pertanian.
"Pelatihan tidak hanya membekali peserta dengan keterampilan teknis, juga kemampuan mengelola usaha, membaca peluang pasar, dan menciptakan nilai tambah sehingga mampu menjadi pelaku usaha pertanian yang tangguh dan mandiri," katanya.
BBPKH Cinagara
Pelatihan dibuka secara resmi oleh Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty, dihadiri Kepala Subdirektorat Integrasi Koordinasi Direktorat Idensos Densus 88 AT Polri juga Kepala Satuan Tugas Wilayah Jawa Barat Densus 88 AT Polri, Kombes Bogiek Sugiarto serta Ketua Tim Kerja (Katimker) Pengembangan Teknik dan Metode Pelatihan pada Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) Risweki Deflita, yang hadir mewakili Kepala Pusat Pelatihan Pertanian.
Pelatihan diikuti oleh 30 peserta yang merupakan warga binaan Densus 88 AT Polri dari sejumlah wilayah, yakni Satgas Jawa Barat sebanyak 9 orang, Jakarta (8), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 3 orang, Sumatera Selatan (2), Jambi (1) dan 7 pendamping dari satuan tugas wilayah.
"Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membekali peserta dengan kompetensi teknis sekaligus jiwa kewirausahaan agribisnis agar mampu membangun usaha peternakan yang produktif dan berkelanjutan." kata Inneke Kusumawaty.
Dalam sambutannya, Inneke Kusumawaty mengatakan bahwa subsektor peternakan ruminansia kecil saat ini memiliki prospek yang sangat menjanjikan.
"Kebijakan pemerintah membatasi impor kambing dan domba hidup maupun karkas merupakan bentuk keberpihakan terhadap peternak lokal, sekaligus membuka peluang pasar yang semakin luas bagi produk dalam negeri," katanya.
Swasembada Daging
Inneke Kusumawaty mengingatkan, Indonesia telah mencapai swasembada kambing dan domba. Kini tantangan Indonesia bukan lagi sekadar meningkatkan populasi ternak, tetapi bagaimana menciptakan nilai tambah melalui hilirisasi.
"Peternak harus mampu menguasai rantai usaha dari hulu hingga hili. Mulai dari pembibitan, penyediaan pakan, pengelolaan kesehatan ternak, sistem pemotongan modern, hingga pemasaran berbasis teknologi digital," katanya.
Menurutnya, pelatihan kewirausahaan tersebut dirancang untuk membangun pola pikir peserta agar tidak hanya menjadi peternak, juga menjadi wirausahawan yang mampu mengembangkan usaha secara profesional.
"Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya. Kuasai teknologi budidaya, pengolahan pakan fermentasi, manajemen kesehatan ternak, hingga analisis bisnisnya," ungkap Inneke Kusumawaty.
Setelah kembali ke daerah masing-masing, para peserta pelatihan diharapkan mampu membangun usaha secara mandiri maupun berkolaborasi melalui kelompok usaha atau koperasi sehingga memiliki daya saing lebih kuat.
Densus 88 Polri
Kombes Bogiek Sugiarto mewakili Direktur Identifikasi dan Sosial Densus 88 Polri, menilai pelatihan tersebut menjadi bagian penting dalam penguatan kapasitas dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
"Keterampilan di bidang agribisnis peternakan dapat menjadi bekal untuk membangun kehidupan yang lebih produktif," katanya.
Kombes Bogiek Sugiarto mengakui, pelatihan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk berkembang dan membangun kemandirian ekonomi.
Densus 88 Polri, katanya, berharap seluruh peserta pelatihan memahami proses agribisnis kambing dan domba secara menyeluruh. Mulai dari pembibitan, pemeliharaan, kesehatan ternak hingga pemasaran dan hilirisasi.
"Dengan bekal tersebut, mereka memiliki peluang untuk membangun usaha yang berkelanjutan," ujarnya.
Inneke Kusumawaty menambahkan, melalui kolaborasi BBPKH Cinagara dan Direktorat Idensos Densus 88 AT Polri, Kementan berharap lahir pelaku-pelaku usaha baru di subsektor peternakan yang memiliki kompetensi, daya saing, serta mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian keluarga dan masyarakat.
"Sinergi lintas sektor ini juga menjadi wujud nyata komitmen pemerintah memperkuat pembangunan SDM pertanian sebagai pilar menuju pertanian yang maju, mandiri, dan modern. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]
Bogor of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
