Kunjungi BB Pustaka, Mentan Amran Atensi pada Buku Antiquriat terbitan Abad 16
The Agricultural Library Support Indonesian Farmers to Attain Food Self-sufficiency
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Kota Bogor, Jabar (B2B) - Koleksi Antiquariat (buku kuno) berjudul Historia Generalis Plantarum karya Jacques Dalechamps, naturalis asal Lyon, Prancis pada abad ke-16 menjadi salah satu literasi penting tentang pertanian Indonesia. Buku langka terbitan 1586, kini tersimpan baik di Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) lingkup Kementerian Pertanian RI (Kementan).
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menaruh perhatian khusus pada buku kuno sekaligus langka berjudul Historia Generalis Plantarum, karya botani komprehensif dua volume, saat mengunjungi BB Pustaka di Kota Bogor, Jawa Barat, didampingi Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho DP; Karo Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kementan, Mochammad Arief Cahyono serta sejumlah pejabat Kementan pada Sabtu (21/2).
"Buku Historia Generalis Plantarum merupakan salah satu karya botani terlengkap pada zamannya, mencakup deskripsi mendalam dan ilustrasi ribuan spesies tanaman, yang layak menjadi referensi pertanian Indonesia," kata Mentan Amran.
Diketahui, buku Historia Generalis Plantarum karya Jacques Dalechamps (1513 - 1588) pertama kali diterbitkan pada 1586 terdiri atas 18 buku (libros 18) yang disusun berdasarkan kelas-kelas tertentu.
Mentan Amran menambahkan, buku Historia Generalis Plantarum adalah karya penting, sebagai salah satu ensiklopedia botani Renaisans paling rinci, menggabungkan pengetahuan klasik dengan pengamatan lapangan baru.
Sementara istilah Historia Plantarum juga digunakan untuk karya John Ray (1686) dan karya klasik Theophrastus, namun Historia Generalis Plantarum terbitan tahun 1586 secara khusus dikaitkan dengan Dalechamps.
"Literasi pertanian bukan sekadar aktivitas membaca atau mengakses informasi. Literasi harus diposisikan sebagai instrumen pembangunan, sarana menghubungkan ilmu pengetahuan, kebijakan dan praktik pertanian di lapangan," ungkap Mentan Amran.
Tujuannya, ungkap Mentan, menjadikan literasi sebagai bagian dari strategi besar mendukung swasembada pangan nasional. Literasi pertanian menjadi guidance pembangunan pertanian menuju swasembada pangan.
Berdiri Abad 19
Di tempat terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengingatkan tentang eksistensi BB Pustaka yang berdiri pada abad 19 di era kolonial Hindia Belanda, tepatnya pada Mei 1842.
Kabadan SDM mendorong BB Pustaka senantiasa berupaya melahirkan inovasi yang berawal dari sebuah refleksi sebagai penanda arah baru lembaga ini.
"Mengapa inovasi di BB Pustaka penting? Perpustakaan pertanian tidak bisa lagi berjalan sendiri, terpisah dari dinamika literasi dan kebutuhan lapangan, namun menjadi bagian penting dari dinamika pembangunan pertanian nasional," ungkap Santi, sapaan akrab Kabadan SDM Kementan.
Hal senada dikemukakan Kepala BB Pustaka Kementan, Eko Nugroho Dharmo Putro bahwa literasi pertanian bukan sekadar aktivitas membaca atau mengakses informasi.
"Literasi diposisikan sebagai instrumen pembangunan, sarana memperpendek jarak antara ilmu pengetahuan, kebijakan dan praktik pertanian di lapangan," katanya.
Transformasi yang dilakukan, ungkap Eko Nugroho, bertujuan memperluas akses informasi, meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh serta menyesuaikan layanan dengan perkembangan teknologi digital.
"Dalam konteks swasembada pangan, literasi menjadi fondasi pengambilan keputusan yang lebih tepat dan berkelanjutan," katanya lagi. [ferdi/zuhdi/shinta/timhumas bbpustakakementan]
Bogor City of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
