Sinergi HKTI & PTI, UPT Pelatihan Kementan Sertifikasi Juru Sembelih Halal

West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Sinergi HKTI & PTI, UPT Pelatihan Kementan Sertifikasi Juru Sembelih Halal
BBPKH CINAGARA: Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty [tengah batik Korpri] bersama Kapuslat Teddy Dirhamsyah [tengah], Asesor Senior Ahmad Junaidi, para asesor dan widyaiswara serta 69 Juleha kader HKTI dan PTI.

 

Bogor, Jabar (B2B) - Sertifikasi Kompetensi Juru Sembelih Halal (Juleha) yang digelar Kementerian Pertanian RI khususnya Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat resmi ditutup oleh Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty pada Jumat (17/4).

Kegiatan Sertifikasi Kompetensi Juleha diikuti 69 kader Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan DPP Pemuda Tani Indonesia (PTI) resmi ditutup setelah berlangsung tiga hari, 15 - 17 April 2026, di BBPKH Cinagara.

Penutupan oleh Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty dihadiri Kepala Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan)Teddy Dirhamsyah, Asesor Senior Ahmad Junaidi, para asesor dan widyaiswara.

Sertifikasi Kompetensi Juleha sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa penguatan SDM menjadi kunci menjaga kualitas dan daya saing sektor pertanian nasional. 

"Setiap proses produksi, termasuk penyembelihan hewan, harus dilakukan sesuai standar agar menghasilkan produk yang aman, berkualitas dan sesuai ketentuan," katanya.

Pendapat senada dikemukakan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP)Idha Widi Arsanti bahwa Sertifikasi Kompetensi merupakan instrumen penting untuk meningkatkan profesionalisme pelaku sektor pertanian dan peternakan. 

"Juleha yang kompeten dinilai memiliki peran strategis menjamin kehalalan dan keamanan produk pangan asal hewan serta memperkuat kepercayaan masyarakat," katanya.

BBPKH Cinagara

Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty mengatakan kegiatan Sertifikasi Kompetensi Juleha diselenggarakan atas kerjasama Kementan oleh BBPKH Cinagara dengan HKTI dan PTI dalam upaya meningkatkan kompetensi SDM sektor peternakan.

"Kebutuhan juru sembelih halal terus meningkat seiring tingginya kesadaran masyarakat terhadap produk halal, aman, dan berkualitas," katanya.

Kendati demikian, ungkap Inneke Kusumawaty, jumlah Juleha saat ini diperkirakan masih kurang dari 20% dari kebutuhan nasional, karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas melalui pelatihan, sertifikasi dan uji kompetensi.

Dia berharap para peserta yang telah dinyatakan kompeten dapat berperan aktif di masyarakat, tidak hanya menjalankan tugas secara profesional, juga menjadi agen edukasi tentang pentingnya penyembelihan halal dan aman.

Praktik Penyembelihan

Kapuslat Kementan, Teddy Dirhamsyah menyoroti bahwa sebagian besar praktik penyembelihan hewan di Indonesia masih dilakukan di luar Rumah Potong Hewan (RPH). 

"Bahkan saat Idul Adha, penyembelihan di luar RPH bisa lebih dari 1,6 juta ekor atau sekitar 90 persen," katanya.

Hal ini menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bagi para juru sembelih halal untuk memastikan proses tetap memenuhi standar kehalalan, keamanan, dan kesejahteraan hewan.

Asesor Senior Ahmad Junaidi menegaskan bahwa profesi Juleha memiliki peran strategis dan mulia bagi sistem pangan nasional. 

"Mereka berkontribusi menyediakan pangan asal hewan yang memenuhi prinsip ASUH atau Aman, Sehat, Utuh, dan Halal," katanya.

Kesejahteraan Hewan

Inneke Kusumawaty menambahkan, selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan materi dan uji kompetensi.

"Hal itu meliputi pemahaman syariat, teknik penyembelihan yang benar, higienis dan sanitasi, serta penerapan prinsip kesejahteraan hewan," katanya.

Melalui kegiatan ini, ungkap Inneke Kusumawaty, BBPKH Cinagara bersama mitra berharap dapat terus mencetak juru sembelih halal yang kompeten, profesional, dan berintegritas.

"Guna memperkuat jaminan ketersediaan pangan asal hewan yang ASUH bagi masyarakat Indonesia," katanya lagi. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]

 

 

 

 

Bogor of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.

Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.