Jemput Bola Layani Petani, Kementan Kenalkan Asam Humat Penyubur Tanah

West Java`s Lembang Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Jemput Bola Layani Petani, Kementan Kenalkan Asam Humat Penyubur Tanah
BBPP LEMBANG: Kabalai Lembang, Ahmad Dedy Syathori [insert, kiri atas] mengatakan salah satu materi utama yang diperkenalkan adalah pemanfaatan asam humat sebagai bahan pembenah tanah untuk membantu memperbaiki kondisi tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman, disampaikan oleh para Widyaiswara BBPP Lembang.

 

Kota Bandung, Jabar (B2B) - Kesuburan tanah menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan budidaya hortikultura. Guna membantu petani, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang menghadirkan layanan Konsultasi Agribisnis Keliling (KAK) pada Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Mengger di Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat (Jabar) pada Kamis (5/11).

Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan kegiatan diikuti 50 petani urban farming hortikultura dari Kecamatan Babakan Ciparay, Bandung Kidul, Regol, Buahbatu, dan Bojongloa Kaler didampingi para penyuluh pertanian. 

Salah satu materi utama yang diperkenalkan adalah pemanfaatan asam humat sebagai bahan pembenah tanah untuk membantu memperbaiki kondisi tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman.

Langkah tersebut sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menegaskan pentingnya peran penyuluh dalam pembangunan pertanian. “Penyuluh adalah pertahanan kita,” ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menempatkan penyuluh sebagai mitra strategis petani. “Penyuluh adalah guru sekaligus sahabat bagi petani,” katanya.

Konsultasi Agribisnis Keliling merupakan salah satu layanan publik BBPP Lembang dengan pendekatan jemput bola. Melalui kegiatan ini, widyaiswara hadir langsung di tengah petani dan penyuluh untuk memberikan konsultasi, berbagi pengetahuan, serta membantu mencari solusi atas berbagai persoalan usaha tani yang dihadapi di lapangan.

BBPP Lembang
Kepala BBPP Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengatakan melalui Konsultasi Agribisnis Keliling, BBPP Lembang berupaya memastikan transfer pengetahuan dan teknologi pertanian dapat menjangkau petani secara langsung. 

"Tidak sekadar menjadi forum berbagi informasi, kegiatan diharapkan mendorong penerapan teknologi yang tepat di lahan, memperbaiki pengelolaan usaha tani, serta meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani," katanya.

Menurut Ahmad Dedy Syathori, BBPP Lembang akan terus memperkuat layanan konsultasi dan pendampingan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan pertanian.

Koordinator Penyuluh BPP Mengger, Risti Lestari, mengapresiasi pelaksanaan KAK karena memberikan kesempatan kepada petani dan penyuluh untuk memperoleh informasi serta berkonsultasi langsung dengan widyaiswara yang memiliki keahlian sesuai bidangnya.

Asam Humat
Kegiatan dibuka oleh Widyaiswara BBPP Lembang, Bayu Sumantri. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa KAK merupakan wujud komitmen BBPP Lembang memberikan pelayanan kepada masyarakat pertanian sekaligus memperluas akses petani terhadap informasi dan teknologi pertanian.

Materi utama disampaikan Widyaiswara BBPP Lembang, Chesara Novatiano, yang mengupas pengenalan asam humat, manfaatnya bagi tanah dan tanaman, hingga proses pembuatannya. Asam humat merupakan senyawa organik yang terbentuk melalui proses dekomposisi bahan organik. 

Senyawa ini berperan dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, serta membantu meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman.

Dalam pemaparannya, peserta juga dikenalkan dengan prinsip dasar pembuatan bahan humat dari sumber bahan organik, seperti kompos matang atau leonardit. 

Proses ekstraksi dilakukan menggunakan larutan basa untuk melarutkan fraksi humat, kemudian dilanjutkan dengan penyaringan dan pemisahan sesuai karakteristik senyawa yang dihasilkan. 

Wawasan Petani
Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai asam fulvat, fraksi bahan humat yang memiliki ukuran molekul lebih kecil dan karakteristik kelarutan berbeda dari asam humat.

Pengetahuan tersebut diharapkan dapat membuka wawasan petani mengenai alternatif pengelolaan kesuburan tanah yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lahan. 

Pemanfaatan bahan organik dan pembenah tanah secara tepat menjadi bagian penting dalam mendukung budidaya hortikultura yang produktif dan berkelanjutan.

Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab mengenai berbagai persoalan budidaya, khususnya tanaman cabai. Dipandu Widyaiswara Cece Mulyana, peserta menyampaikan kendala yang mereka temui di lahan masing-masing untuk mendapatkan penjelasan dan rekomendasi teknis.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan materi agribisnis serta diskusi bersama Bayu Sumantri mengenai pemanfaatan asam humat dan asam fulvat dalam mendukung pengelolaan usaha tani. [dary/afriski/chetty/timhumas bbpplembang]

 

 

 

 

Bandung City of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.