Supervisi Ogan Ilir, Kementan Perkuat Sinergi Percepatan CSR Sumsel
West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Ogan Ilir, Sumsel (B2B) - Upaya percepatan perluasan areal tanam melalui program Cetak Sawah Rakyat (CSR) terus diperkuat melalui kegiatan ´Supervisi dan Monitoring´ pada sejumlah daerah, salah satunya dilaksanakan di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel) pada Senin (20/4).
Kegiatan Supervisi dan Monitoring dipimpin oleh Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Inneke Kusumawaty selaku Penanggung Jawab (PJ) Brigade Pangan wilayah Sumsel.
Upaya tersebut dilakukan Kementerian Pertanian RI (Kementan) untuk memastikan progres pelaksanaan Program CSR berjalan sesuai target, sekaligus memperkuat koordinasi lintas sektor di daerah.
Langkah Kementan sejalan dengan arahan Menteri Pertanian RI (Kementan) Andi Amran Sulaiman tentang pentingnya percepatan Program CSR sebagai langkah konkret memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Cetak sawah dan percepatan tanam harus berjalan paralel. Tidak boleh ada lahan yang sudah siap namun tidak segera ditanami. Kita kejar waktu untuk memastikan produksi meningkat dan kebutuhan pangan nasional terpenuhi,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti, yang menekankan pentingnya peran penyuluh dan Brigade Pangan bagi keberhasilan program tersebut.
“Penguatan kapasitas SDM pertanian menjadi kunci melalui kolaborasi di tingkat lapangan, termasuk pemanfaatan Co Working Space Penyuluh. Kita dorong penyuluh dan petani lebih adaptif, inovatif serta mampu mengoptimalkan setiap potensi lahan yang ada,” ungkapnya.
BBPKH Cinagara
Dalam kegiatan tersebut, Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty selaku PJ Brigade Pangan wilayah Sumsel melakukan supervisi langsung di lapangan.
Langkah tersebut ditindaklanjuti koordinasi bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Ogan Ilir dan Co Working Space Penyuluh Pertanian Kabupaten Ogan Ilir sebagai pusat kolaborasi penyuluh pertanian di wilayah tersebut.
“Inisiatif percepatan cetak sawah tidak hanya membutuhkan kesiapan lahan, juga kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, penyuluh, dan petani," kata Inneke Kusumawaty.
Menurutnya, koordinasi menjadi kunci utama untuk memastikan program tersebut berjalan efektif.
Inneke Kusumawaty menegaskan, Brigade Pangan memiliki peran strategis sebagai penggerak di lapangan, khususnya dalam mengawal setiap tahapan kegiatan mulai dari persiapan lahan, pengolahan tanah, hingga percepatan tanam.
Kehadiran Brigade Pangan diharapkan mampu menjembatani kebutuhan teknis petani dengan dukungan program pemerintah.
Co Working Space
Keberadaan Co Working Space Penyuluh Pertanian menjadi instrumen penting mempercepat diseminasi inovasi dan teknologi pertanian.
Inneke Kusumawaty mengingatkan, ruang kolaborasi diharapkan mampu memperkuat koordinasi, meningkatkan kualitas pendampingan, serta mempercepat respons terhadap berbagai tantangan di lapangan.
Kegiatan supervisi dan monitoring juga menjadi sarana identifikasi berbagai kendala, seperti kesiapan infrastruktur, kondisi lahan, hingga kebutuhan alat dan mesin pertanian (Alsintan).
"Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar dalam merumuskan langkah percepatan lanjutan," ungkap Inneke Kusumawaty.
Dengan sinergi antara pemerintah pusat, katanya, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani, program Cetak Sawah Rakyat di Kabupaten Ogan Ilir diharapkan dapat berjalan optimal.
Inneke Kusumawaty menambahkan, sinergi dan koordinasi lapangan memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi padi di Sumatera Selatan, sekaligus mendukung pencapaian swasembada pangan nasional. [yudi/timhumas bbpkhcinagara]
Ogan Ilir of South Sumatera [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
