Ketika Pangan Kota

hanya Datang dari Pasar


Ketika Pangan Kota

RUDI HARTONO

Mahasiswa Doktoral 
Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan 
IPB University



SEORANG ibu muda dengan tampilan modis, membeli sayuran dari tukang sayur keliling komplek. Dia menyenangi yang mulus-mulus dan tidak mau kalau ada yang bolong-bolong bekas serangan hama. 

Fenomena ini sangat umum di masyarakat perkotaan yang masih acuh terhadap proses produksi pertanian yang sehat. 

Di sisi lain, insidensi penyakit seperti kanker dan alzheimer pada masyarakat perkotaan salah satu pemicunya disinyalir berhubungan dengan akumulasi residu pestisida dalam darah manusia.

Masyarakat perkotaan menganggap bahwa semakin modern sebuah kota, maka semakin mudah penduduknya memperoleh pangan. 

Urbanisasi pun meningkat, masyarakat senang hidup diperkotaan dengan banyaknya kemudahan mengakses pangan dari pasar tradisional, supermarket, minimarket, hingga aplikasi digital membuat hampir semua kebutuhan pangan dapat dibeli dalam hitungan menit. 

Kendati demikian, di balik kemudahan tersebut, terdapat kerentanan yang jarang dibicarakan: masyarakat kota semakin jauh dari proses produksi pangan yang mereka konsumsi.

Kita membeli cabai, tomat, bayam, wortel, beras, buah dan berbagai bahan pangan lainnya tanpa pernah tahu bagaimana semuanya diproduksi. 

Apakah menggunakan pestisida? Berapa kali disemprot? Kapan terakhir diaplikasikan sebelum panen? Dari mana air yang digunakan berasal? Bagaimana produk tersebut dipanen, dicuci, dikemas, diangkut dan disimpan?

Sebagian besar kita acuh dan tidak memiliki jawabannya. Padahal kita perlu menyimpulkan bahan pangan yang kita konsumsi apakah sehat atau tidak.

Persoalannya bukan berarti semua pangan yang dijual di pasar berbahaya. Justru sebagian besar pangan yang beredar telah melalui berbagai mekanisme pengawasan dan memenuhi standar yang berlaku. 

Persoalannya adalah konsumen sering tidak memiliki informasi yang cukup untuk membedakan pangan yang diproduksi dan ditangani dengan baik dari pangan yang berisiko.

Inilah bentuk kerentanan baru masyarakat kota: bukan kekurangan pangan, melainkan ketergantungan terhadap pangan yang sumber dan proses produksinya semakin tidak terlihat.

Kota Makan dari Desa
Urbanisasi kian meningkat sejalan dengan lapangan pekerjaan yang banyak di perkotaan.  Kita bisa melihat itu dari jumlah pemudik ketika hari raya Idul Fitri yang pulang ke kampung halamannya. 

Awalnya cari kerja, menikah dengan membawa istri atau anak tinggal di kota kemudian menjadi satu keluarga tinggal di kota. 

Angka tersebut menunjukkan perubahan mendasar dalam hubungan masyarakat dengan pangan. Bagi sebagian besar masyarakat kota, pertanian bukan lagi aktivitas yang mereka lihat setiap hari. 

Sawah, kebun sayuran, peternakan dan proses produksi pangan berada jauh dari ruang hidup mereka. Pangan datang ke kota melalui jaringan distribusi yang panjang dan kompleks. 

Kota pada akhirnya menjadi konsumen besar, sedangkan desa dan kawasan pertanian menjadi pemasok.

Tidak seperti Terlihat
Kita menggunakan mata untuk menentukan apakah pangan layak dikonsumsi. Sayuran yang mulus dianggap lebih baik daripada yang bolong-bolong bekas gigitan serangga. Padahal, keamanan pangan tidak selalu dapat dilihat dengan mata. 

Residu pestisida sebagai salah satu bahaya kimia dalam pangan. Bagi konsumen bahaya tersebut juga bukan hanya residu, tetapi juga jenis senyawa, konsentrasi, pola konsumsi, dan tingkat paparan. 

Residu pestisida masih ditemukan baik itu sayuran yang dijual di pasar tradisional maupun modern market, meskipun dalam ambang batas yang masih ditoleransi. 

Keberadaan residu tidak otomatis berarti pangan tersebut berbahaya. Akan tetapi menjadi persoalan jika kadarnya berada dalam ambang batas maksimal yang dapat diterima oleh tubuh dan apakah senyawa pestisida tersebut kategorinya berbahaya bahkan sudah dilarang penggunaannya. 

Petani Tidak Boleh dijadikan Kambing Hitam
Ketika membicarakan residu pestisida, mudah sekali kita menunjuk petani sebagai penyebab. Padahal, realitas di lapangan jauh lebih rumit. 

Petani menghadapi berbagai masalah dalam menghasilkan pangan seperti serangan OPT, perubahan cuaca, ketidakpastian harga, kebutuhan kualitas produk, biaya produksi, dan risiko kegagalan panen. 

Pestisida dalam banyak situasi menjadi teknologi pengendalian yang tersedia dan dianggap efektif. Saat ini pengembangan pestisida nabati, pestisida hayati, dan penggunaan musuh alami masih sangat terbatas sehingga pestisida kimia masih menjadi pilihan utama para petani. 

Masalah muncul ketika penggunaan pestisida kimia ini tidak tepat dosis, tidak tepat sasaran, terlalu sering, atau tidak memperhatikan interval waktu antara aplikasi terakhir dan panen. 

Persoalannya bukan ‘petani menggunakan pestisida atau tidak’, melainkan ‘bagaimana pestisida digunakan dan bagaimana risikonya dikelola sepanjang rantai pangan.’ 

Termasuk kita sebagai konsumen akhir memiliki kecurigaan terhadap residu, sehingga kita bisa melakukan langkah-langkah preventif untuk mengurangi residu minimal dengan mencuci pada air mengalir.

Haruskah Kota Mulai Bertani?
Jawabannya bukan berarti setiap warga kota harus menjadi petani, namun, masyarakat kota perlu kembali mengenal pertanian. 

Pengenalan tersebut bisa diinisiasi dengan menumbuhkan kebun komunitas urban farming seperti kebun sekolah, kebun dinas, kebun desa dan kebun rukun warga/rukun tetangga (RT/RW). 

Kegiatan pertanian perkotaan tersebut, bukan sekadar bertujuan menghasilkan sayuran, juga berkaitan dengan solidaritas sosial, akses pangan dan literasi pangan. 

Ketika masyarakat mencoba menanam sendiri, mereka mulai memahami bahwa tanaman dapat terserang hama sehingga perlu upaya pengendalian dan pestisida sebagai salah satu solusi tercepat. 

Literasi pangan menjadi penting, masyarakat kota sudah harus mulai merubah pertanyaan bukan hanya bertanya “Berapa harga cabai hari ini?” akan tetapi bertanya juga “Dari mana cabai ini berasal?”; “Bagaimana cabai ini diproduksi?”; dan “Apakah petaninya menggunakan pestisida secara bijaksana?”

Ketergantungan menjadi Sistem Rantai Pangan Sehat
Tidak mungkin mengharapkan masyarakat kota menanam untuk mencukupi kebutuhan pangannya sendiri. Ketergantungan pada pasar akan tetap menjadi bagian dari kehidupan modern di perkotaan. 

Kota membutuhkan pasar, petani membutuhkan kota, konsumen membutuhkan petani, dan petani membutuhkan konsumen. 

Hubungan tersebut dibangun bukan hanya melalui transaksi, tetapi melalui kepercayaan yang didukung informasi dan sistem pengawasan yang transparan. 

Kendati demikian, hal yang lebih penting adalah bagaimana agar pangan yang tersedia aman, bergizi, dan terjangkau bagi konsumen juga bagaimana agar pangan dapat diproduksi secara berkelanjutan dan memberikan pendapatan layak bagi yang memproduksinya. 

Oleh karenanya jika semua pangan masyarakat kota datang dari pasar, maka memastikan pasar menjadi bagian dari sistem pangan yang sehat menjadi sebuah keharusan. 

Ada pilihan segmentasi pasar yang sudah bekerjasama dengan petani memastikan produk bebas residu pestisida. 

Masyarakat perkotaan terus diedukasi akan pentingnya pangan yang sehat dan semakin tinggi kesadarannya akan meningkatkan pendapatan bagi pelaku pasar maupun petani. Masyarakat mengonsumsi pangan yang sehat, pedagang dan petani pun sejahtera.

 

 

 

 

Disclaimer : B2B adalah bilingual News, dan opini tanpa terjemahan inggris karena bukan tergolong berita melainkan pendapat mewakili individu dan/atau institusi. Setiap opini menjadi tanggung jawab Penulis