Antisipasi Wabah, Kementan Perkuat Jejaring Lab Kesehatan Hewan

Indonesian Govt Anticipates African Swine Fever and Anthrax

Reporter : Gusmiati Waris
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Antisipasi Wabah, Kementan Perkuat Jejaring Lab Kesehatan Hewan
PENYAKIT INFEKSI BARU: Dirjen PKH Kementan, I Ketut Diarmita bersama peserta Pertemuan National Reference Coordinating Committee dan Jejaring Laboratorium Veteriner [Foto: Humas Ditjen PKH Kementan]

Jakarta [B2B] - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan - Kementerian Pertanian [Ditjen PKH] memperkuat jejaring dan kapasitas laboratorium kesehatan hewan [veteriner] untuk mengantisipasi ancaman wabah penyakit hewan secara cepat, tepat dan akurat penyebab wabah, termasuk penyakit infeksi baru/berulang [PIB].

Dirjen PKH Kementan, I Ketut Diarmita mengatakan penguatan kapasitas laboratorium veteriner merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 4/ 2019 [Inpres] tentang 'peningkatan kemampuan dalam mencegah, mendeteksi, dan merespons wabah penyakit, pandemi global, dan kedaruratan nuklir, biologi, dan kimia'.

“Inpres No 4 tahun 2019 harus diterjemahkan menjadi rencana kerja operasional dan terukur untuk mengatasi masalah aktual yang dihadapi saat ini, seperti African Swine Fever atau ASF di Sumatera Utara, Anthrax di Jawa Tengah dan DIY, serta antisipasi kemungkinan COVID-19 pada hewan," kata Ketut Diarmita saat menutup Pertemuan National Reference Coordinating Committee dan Jejaring Laboratorium Veteriner, belum lama ini.

Dia juga berharap bahwa peningkatan kapasitas laboratorium veteriner tersebut dapat berkontribusi langsung pada peningkatan daya saing komoditas peternakan dan obat hewan, serta mendukung Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks) sesuai arahan Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo. 

Di depan pimpinan laboratorium kesehatan hewan lingkup Kementan dan provinsi se-Indonesia, Dirjen PKH Kementan berpesan agar peningkatan kapasitas laboratorium veteriner dilakukan secara berkelanjutan sebagai upaya mendukung peningkatan kualitas sistem kesehatan hewan nasional yang memenuhi standar internasional. 

"Peningkatan kapasitas ini harus meliputi peningkatan kemampuan pengujian, manajemen sistem mutu, sistem manajemen biorisiko, jejaring kerja, dan sistem manajemen informasi," tegasnya.

Menurut Dirjen PKH, penguatan jejaring laboratorium veteriner dilakukan melalui penguatan laboratorium rujukan nasional penyakit hewan, penambahan ruang lingkup laboratorium rujukan nasional guna memenuhi kebutuhan pengujian ASF di Balai Veteriner Medan, COVID-19/SARS-CoV2 pada hewan di BBVet Wates, Toxoplasmosis di Balai Veteriner Lampung, serta Dourine dan Glanders di BBUSKP. 

"Perlunya laboratorium rujukan nasional memperluas parameter pengujian keamanan pangan produk hewan, keamanan pakan dan obat hewan, serta berpartisipasi dalam jejaring laboratorium one health bersama jejaring laboratorium kesehatan masyarakat dan jejaring laboratorium universitas one health," katanya.

Saat ini, hampir 100% laboratorium veteriner di bawah Kementan terakreditasi ISO/IEC SNI 17025:2017, namun untuk tingkat provinsi baru 19. "Kita coba akselerasi agar pada 2024 seluruh laboratorium veteriner terakreditasi ISO/IEC SNI 17025:2017."

Ketut kemudian meminta agar jejaring laboratorium veteriner juga melaksanakan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 101 Tahun 2018 tentang Standar Teknis Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan Minimal Sub-Urusan Bencana Daerah Kabupaten/Kota yang dapat dijadikan kerangka untuk penguatan kapasitas mencegah, mendeteksi dan merespon zoonosis pada pemerintah daerah.

Terakhir, ia berpesan agar laboratroium veteriner mengoptimalkan penerapan iVLab guna memperkuat sistem manajemen informasi di unit pelaksana teknis lingkup Kementan dan laboratorium veteriner provinsi. 

Jakarta [B2B] - The Indonesian government seeks to anticipate the potential spread of the African Swine Fever disease outbreak to Indonesia, which is anticipated early by the Indonesian Directorate General of Livestock and Animal Health at the Agriculture Ministry since the notification of a similar outbreak in China, September 2018, according to the senior official of the agriculture ministry.