Perkuat Swasembada, Kementan Gertam Serentak di Lahan CSR Kapuas Kalteng
Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s SMKPPN Banjarbaru
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Kapuas, Kalteng (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) terus mempercepat upaya penguatan swasembada pangan melalui Gerakan Tanam (Gertam) Serentak seluas 50 ribu hektare di 25 provinsi.
Langkah tersebut menjadi strategi cepat menjaga produksi pangan nasional sekaligus mengantisipasi ancaman musim kemarau 2026 dan pemulihan lahan terdampak bencana.
Kepala SMKPPN Banjarbaru, Angga Tri Aditia Permana mengatakan kegiatan Gertam Serentak yang digelar Kamis (30/4) salah satunya pada lokasi Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Desa Lupak Timur, Kecamatan Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng).
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang hadir secara daring menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat mulai pemerintah daerah, petani, penyuluh, hingga aparat.
“Terima kasih pada gubernur, bupati, petani, penyuluh, hingga jajaran aparat. Ini adalah komitmen bersama memperkuat swasembada pangan. Kita terus dorong tanam serentak di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Mentan Amran menegaskan bahwa pengembangan areal tanam baru melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan akan terus diperluas sebagai bagian dari strategi peningkatan produksi nasional.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi menekankan bahwa percepatan tanam menjadi langkah kunci mengantisipasi potensi kekeringan musim kemarau 2026 yang diperkirakan mencapai puncak pada Agustus mendatang.
“Langkah mitigasi sudah kami siapkan, mulai dari pemantauan iklim, pemetaan wilayah rawan kekeringan, percepatan tanam, pompanisasi hingga penguatan infrastruktur air,” katanya.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menjelaskan bahwa Gertam Serentak mencakup total luasan 50 ribu hektar.
Luas 50 ribu hektar terdiri Oplah tahun 2024 seluas 20.000 hektare, Oplah tahun 2025 seluas 23.000 hektare, CSR tahun 2025 seluas 5.000 hektare, serta rehabilitasi lahan terdampak bencana seluas 2.026 hektare.
“Percepatan tanam harus dikawal secara optimal di lapangan. Peran penyuluh dan petani sangat penting untuk memastikan lahan yang siap dapat segera ditanami dan menghasilkan produksi maksimal,” ujarnya.
Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Kementan, Muhammad Amin, menegaskan pentingnya optimalisasi lahan program CSR dalam meningkatkan produksi padi.
SMKPPN Banjarbaru
Kepala SMKPPN Banjarbaru, Angga Tri Aditia Permana mengatakan Gertam Serentak pada lokasi CSR di Desa Lupak Timur, Kecamatan Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, Kalteng dengan pendekatan modernisasi pertanian, penguatan SDM dan generasi muda melalui Brigade Pangan.
"Berbagai strategi turut didorong antara lain percepatan tanam di penghujung musim hujan untuk memaksimalkan ketersediaan air," katanya.
Diikuti pompanisasi secara masif, kata Angga Tri, optimalisasi lahan rawa bertujuan menjaga produktivitas saat lahan tadah hujan mengalami kekeringan.
"Selain itu, penggunaan benih tahan kekeringan dan pembangunan infrastruktur air seperti embung, long storage, dan sumur bor juga diperkuat untuk menjaga ketahanan produksi di lapangan," katanya.
Pemanfaatan alat dan mesin pertanian (Alsintan) menjadi faktor penting mendukung percepatan tanam seperti penggunaan rice transplanter, mist blower hingga drone pertanian.
“Pemanfaatan teknologi akan meningkatkan efisiensi dan membantu petani menghadapi keterbatasan tenaga kerja,” ungkap Angga Tri.
Sinergi Pusat Daerah
Kepala SMKPPN Banjarbaru, Angga Tri apresiasi sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, Kementan optimistis Gertam Serentak mampu meningkatkan produksi, menjaga ketersediaan pangan nasional, serta memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim.
Kegiatan Gertam Serentak di Kapuas, Kalteng dihadiri oleh Direktur Polbangtan Malang, Setya Budhi Udrayana, Kapolsek Kapuas Kuala Dwi Heru, Penjabat Kepala Desa Lupak Timur, serta anggota Brigade Pangan Semangat Karya Pemuda dan Brigade Pangan Muda Maju Bersama. [Tim Ekpos SMKPPN Banjarbaru]
Kapuas of Central Borneo [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
