Hadapi Era Digitalisasi, Kementan Siapkan Kreator Konten Pertanian
The Agricultural Library Support Indonesian Farmers to Attain Food Self-sufficiency
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Kota Bogor, Jabar (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) menggelar ´Workshop Pembuatan Video Konten Promosi Perpustakaan Pertanian´ pada Selasa (28/4) di Gedung Perpustakaan dan Pengetahuan Pertanian Digital (P3D) di Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas SDM memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi layanan perpustakaan sekaligus penyebarluasan informasi pertanian kepada masyarakat luas.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemanfaatan pengetahuan digital pada dasarnya bertujuan mengoptimalkan teknologi untuk memperkuat komunikasi, penyuluhan, serta diseminasi inovasi kepada petani melalui kelembagaan kelompok tani dan peran penyuluh.
Digitalisasi juga berperan mempercepat arus informasi mulai teknologi budidaya, pemupukan, hingga pengendalian hama dan penyakit, termasuk penyampaian kebijakan pemerintah agar diterima petani lebih cepat dan menjangkau wilayah yang lebih luas”, ucapnya.
Sementara, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BBPSDMP) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa penyuluh memiliki peran strategis sebagai fasilitator utama informasi digital,
"Tidak hanya mendampingi petani mengakses informasi, juga membantu pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan kapasitas dan kinerja usaha tani," katanya.
BB Pustaka
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro diwakili Ketua Tim Kerja (Katimker) Layanan Perpustakaan, Sutarsyah menyampaikan agar informasi dan aktivitas Pustaka disebarluaskan secara masif melalui media yang dekat dengan masyarakat, salah satunya video pendek.
"Video dinilai lebih menarik, komunikatif dan memiliki daya jangkau luas, sehingga efektif untuk mengenalkan layanan perpustakaan serta menyampaikan pesan pembangunan pertanian," ungkapnya.
Kegiatan ini juga sejalan dengan peran strategis BB Pustaka dalam mendukung agenda swasembada pangan nasional melalui penyebaran teknologi, inovasi, dan pengetahuan pertanian secara intensif," tambahnya.
Sutarsyah menambahkan, workshop bertujuan meningkatkan keterampilan peserta dalam membuat video konten promosi perpustakaan pertanian dan mendorong pemanfaatan media digital dalam meningkatkan akses dan pemanfaatan layanan perpustakaan, serta mendukung penyebaran informasi pertanian kepada masyarakat.
Media Komunikasi
Hadir sebagai narasumber, Irsa Hutama Sasmita praktisi produksi video yang berpengalaman dalam penyusunan konsep, pengambilan gambar, hingga editing yang menggunakan perangkat profesional maupun smartphone.
Dalam pemaparannya, Irsal menekankan bahwa video bukan sekadar dokumentasi, melainkan media komunikasi untuk menyampaikan pesan secara menarik, jelas, dan mudah dipahami.
“Materi workshop ini meliputi dasar-dasar membuat video, mulai dari menyiapkan ide konten seperti storytelling dan wawancara, teknik pengambilan gambar, proses editing dengan aplikasi, hingga cara mempublikasikan dan menyebarkan konten agar lebih luas jangkauannya,” jelasnya.
Dalam kegiatan ini para peserta mempelajari tiga unsur penting video, yaitu opening untuk menarik perhatian, isi konten yang memuat nilai informasi, serta closing berupa ajakan untuk mengikuti, berkomentar, mencoba, atau membagikan informasi.
Sesi Praktik
Dalam sesi praktik, peserta dibagi ke dalam kelompok produksi untuk membuat video edukatif dengan format storytelling, wawancara, dan tips.
Mereka mempraktikkan alur produksi mulai dari pengembangan ide, penyusunan skenario, pembagian peran, pengambilan gambar, editing, hingga persiapan publikasi.
Peralatan yang digunakan pun sederhana dan mudah dijangkau, seperti smartphone, tripod, mikrofon, LED lighting, serta aplikasi editing CapCut. Sesi praktik shooting dan editing berlangsung interaktif dan penuh antusiasme.
Peserta aktif mengajukan berbagai pertanyaan berdasarkan pengalaman langsung saat mengedit video menggunakan CapCut, mulai dari teknik memotong gambar, menyusun alur video, menambahkan teks, memilih transisi, mengatur audio, hingga membuat tampilan video lebih menarik untuk dipublikasikan di media sosial.
Pada akhir workshop, setiap kelompok mempresentasikan hasil video yang telah dibuat. Narasumber kemudian memberikan masukan perbaikan terkait alur video, durasi, kualitas gambar, audio, teks, transisi, serta kesesuaian pesan dengan tujuan promosi perpustakaan.
Sesi ini menjadi ruang evaluasi bersama agar peserta dapat memahami kekuatan dan hal-hal yang perlu disempurnakan dalam produksi video berikutnya.
Melalui kegiatan ini, BB Pustaka berharap peserta semakin terampil memproduksi konten digital yang kreatif, informatif, dan menarik.
Diharapkan video-video hasil produksi internal menjadi media promosi layanan perpustakaan sekaligus sarana efektif penyebaran informasi pertanian kepada masyarakat luas. [shinta/timhumas bbpustakakementan]
Bogor City of West Java [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
