Tanam Bersama Metode PM-AAS dan Benih Biosalin Dorong Produktivitas Sawah Pasang Surut di Banyuasin

Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s SMKPPN Sembawa

Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Tanam Bersama Metode PM-AAS dan Benih Biosalin Dorong Produktivitas Sawah Pasang Surut di Banyuasin
SMKPPN SEMBAWA: Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso [ke-2 kiri] bersama petani, penyuluh dan para pemangku kepentingan seusai Tanam Bersama metode PM-AAS dan Benih Biosalin di di Desa Kualo Puntian, Kabupaten Banyuasin, Sumsel.

 

Banyuasin, Sumsel (B2B) - Kementerian Pertanian RI (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) terus mendorong inovasi teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas lahan sawah pasang surut, termasuk melalui penerapan metode PM AAS dan penggunaan Benih Biosalin yang memiliki kemampuan adaptasi terhadap kondisi lahan dengan kadar garam tinggi.

Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso mengatakan upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Tanam Bersama Metode PM AAS pada Lahan Sawah Pasang Surut dengan Benih Biosalin untuk Demplot Benih Penangkar Tahan Air Asin yang dilaksanakan di Desa Kualo Puntian, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Jumat (4/9).

Kegiatan ini dihadiri oleh unsur pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, Brigade Pangan (BP), petani, serta berbagai pihak terkait yang memiliki perhatian terhadap pengembangan pertanian di wilayah lahan pasang surut.

Pelaksanaan tanam bersama ini menjadi bagian dari upaya memperkuat penerapan inovasi teknologi sekaligus memperkenalkan varietas atau benih yang mampu beradaptasi pada kondisi lingkungan spesifik, khususnya lahan sawah pasang surut yang menghadapi tantangan salinitas.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemanfaatan inovasi dan teknologi menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas pertanian, termasuk pada lahan-lahan yang memiliki tantangan khusus.

“Kita harus berani mengoptimalkan lahan yang ada dengan teknologi dan inovasi. Lahan pasang surut memiliki potensi besar untuk mendukung peningkatan produksi pangan apabila dikelola dengan tepat dan menggunakan benih yang sesuai dengan kondisi lahannya,” ujar Amran.

Menurutnya, pengembangan pertanian di lahan pasang surut juga harus diikuti dengan pendampingan yang kuat kepada petani agar teknologi yang diperkenalkan dapat diterapkan secara optimal dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produksi serta kesejahteraan petani.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya berorientasi pada tanam, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran dan penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian.

“Pengembangan lahan pasang surut membutuhkan pendekatan yang tepat, mulai dari teknologi budidaya, penggunaan benih yang adaptif, hingga penguatan kapasitas petani dan pendamping. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin memastikan inovasi dapat dipahami, diterapkan, dan dikembangkan secara berkelanjutan di tingkat lapangan,” jelas Idha.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Muhammad Amin juga menekankan pentingnya keterlibatan sumber daya manusia pertanian dalam mendukung percepatan adopsi teknologi.

“Pendidikan dan pelatihan pertanian harus mampu menjawab kebutuhan di lapangan. Penerapan metode budidaya dan benih yang sesuai dengan karakteristik lahan merupakan bagian penting dalam membentuk SDM pertanian yang adaptif, inovatif, dan mampu memberikan solusi terhadap tantangan pertanian,” ungkapnya.

SMKPPN Sembawa

Kepala SMKPPN Sembawa, Budi Santoso mengatakan, sebagai UPT BPPSDMP di Sumatera Selatan yang mengawal langsung pelaksanaan teknis di lapangan, Kepala SMK PPN Sembawa, Budi Santoso turut menyampaikan dukungan terhadap kegiatan pengembangan pertanian di lahan pasang surut. 

“Kami mendukung setiap upaya yang memperkuat inovasi pertanian sekaligus memberikan pengalaman nyata bagi generasi muda pertanian.

Sinergi antara pemerintah, penyuluh, petani, Brigade Pangan, dan lembaga pendidikan menjadi modal penting untuk mencetak SDM pertanian yang mampu mengelola potensi lahan secara produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta bersama-sama melakukan penanaman pada lahan demplot menggunakan Benih Biosalin sebagai bagian dari upaya pengembangan benih yang mampu beradaptasi pada kondisi air atau tanah dengan tingkat salinitas tertentu.

Demplot tersebut diharapkan dapat menjadi lokasi pembelajaran dan pengamatan bagi petani serta penyuluh untuk melihat penerapan teknologi budidaya pada lahan sawah pasang surut secara langsung. 

Hasil pengembangan demplot juga diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk mendukung pengembangan benih dan teknologi pertanian yang sesuai dengan karakteristik wilayah.

Melalui penerapan inovasi, pendampingan yang berkelanjutan, dan kolaborasi lintas sektor, Kementerian Pertanian terus mendorong agar lahan-lahan potensial dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap peningkatan produksi pangan dan penguatan ketahanan pangan nasional. [wulan/titin/timhumas smkppnsembawa]

 

 

 

 

 

 

Banyuasin of South Sumatera [B2B] - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.