SDM Unggul, SMK-PP Kementan Gelar Penilaian Sumatif Semester Genap 2026
Millennial Farmers Development are the Target of Indonesia`s SMKPPN Banjarbaru
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani
Banjarbaru, Kalsel (B2B) - Kementerian Pertanian RI terus memperkuat pendidikan vokasi untuk mencetak sumber daya manusia (SDM) pertanian yang kompeten, produktif, dan berdaya saing. Pendidikan vokasi memiliki peran strategis karena didukung kemitraan erat dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) mulai proses pembelajaran, peningkatan kompetensi, penguatan SDM hingga penyerapan lulusan.
Menteri Pertanian RI (Mentan) Muhammad Amran Sulaiman menegaskan bahwa lembaga pendidikan vokasi pertanian seperti SMK-PP, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) dan perguruan tinggi vokasi pertanian memiliki peran penting dalam memajukan sektor pertanian Indonesia.
"Pertanian harus dikelola secara modern dan inovatif dengan dukungan SDM yang berkualitas," katanya.
Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa generasi milenial dan generasi Z akan menjadi penggerak utama pembangunan pertanian di masa depan.
“Kalian adalah motor penggerak pertanian Indonesia. Melalui kemampuan, kreativitas, dan inovasi yang dimiliki, kalian akan melanjutkan estafet pembangunan pertanian yang telah dirintis oleh generasi sebelumnya,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menegaskan bahwa penguatan kurikulum pendidikan vokasi terus dilakukan melalui pendekatan link and match dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).
“Kami mendorong lulusan SMK-PP tidak hanya siap memasuki dunia kerja, juga mampu menciptakan lapangan kerja dan menjadi wirausahawan muda di sektor pertanian,” tegasnya.
SMKPPN Banjarbaru
Kepala SMKPPN Banjarbaru, Angga Tri Aditia Permana mengatakan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) pendidikan vokasi di bawah BPPSDMP Kementan, SMK-PP Negeri Banjarbaru terus meningkatkan kualitas pembelajaran dan kompetensi peserta didik.
Salah satu upaya evaluasi yang dilakukan adalah melalui Penilaian Sumatif Semester Genap Tahun Pelajaran 2025/2026.
Penilaian sumatif diikuti 153 siswa kelas X dan XI, terdiri atas 89 siswa kelas X dan 64 siswa kelas XI. Sementara itu, seluruh siswa kelas XII telah menyelesaikan masa pendidikan dan dinyatakan lulus.
Peserta kelas X terdiri atas 40 siswa Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH), 29 siswa Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP), dan 20 siswa Agriteknologi Pengolahan Hasil Pertanian (APHP). Adapun peserta kelas XI terdiri atas 30 siswa ATPH, 24 siswa ATP, dan 10 siswa APHP.
Pelaksanaan penilaian berlangsung selama tujuh hari, mulai 2 hingga 10 Juni 2026, di Laboratorium Komputer dan Laboratorium Bahasa SMK-PP Negeri Banjarbaru. Seluruh ujian dilaksanakan berbasis teknologi informasi melalui sistem Computer Based Test (CBT) yang dikembangkan sekolah.
Mata pelajaran yang diujikan berjumlah 12 hingga 15 mata pelajaran, menyesuaikan tingkat kelas dan kompetensi keahlian masing-masing. Di antaranya Pendidikan Agama, PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Informatika, IPAS, PJOK, Sejarah, serta mata pelajaran kejuruan.
Kepala SMK-PP Negeri Banjarbaru, Angga Tri A.P., menjelaskan bahwa Penilaian Sumatif Semester Genap merupakan bagian dari evaluasi pembelajaran yang telah dilaksanakan selama satu semester.
“Penilaian sumatif ini bertujuan mengukur pencapaian kompetensi siswa, baik dari aspek pengetahuan maupun pemahaman terhadap materi yang telah dipelajari selama semester genap. Hasilnya akan menjadi salah satu indikator evaluasi akademik peserta didik,” jelas Angga Rabu(3/6/2026).
Ia menambahkan, rangkaian evaluasi diawali dengan ujian praktik untuk mengukur keterampilan siswa sesuai kompetensi keahlian masing-masing. Setelah seluruh ujian praktik selesai, kegiatan dilanjutkan dengan ujian teori berbasis CBT.
Melalui Penilaian Sumatif Semester Genap ini, siswa diharapkan mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Hasil evaluasi juga menjadi bahan bagi sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran dan menghasilkan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja maupun dunia usaha di sektor pertanian. (Tim Ekpos SMKPPN Banjarbaru)
Banjarbaru, Kalsel (B2B) - The role of agricultural vocational education in Indonesia such as the the Agricultural Development Polytechnic or the Polbangtan/SMKPPN to support Indonesian Agriculture Ministry seeks to maximize its efforts to produce millennial entrepreneur.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
The target is to increase cropping intensity through irrigation rehabilitation, revitalization and modernization activities, the realization of a sustainable irrigation system through the revitalization of irrigation management, increasing institutional strengthening, as well as increasing the capacity and competence of human resources in irrigation management and increasing production and productivity.
Increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
The main objective is to increase motivation for agricultural extension workers, agricultural extension centers, farmer groups, women farmer groups and farmer economic groups in agribusiness-oriented farming.
