Sinergi Peningkatan LTT, UPT Kementan gelar Rakor Brigade Pangan di Bengkulu
West Java`s Cinagara Animal Health Training Center Support Indonesian Farmers
Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani
Bengkulu Utara, Bengkulu (B2B) - Percepatan peningkatan produksi pangan terus dilakukan Kementerian Pertanian RI melalui penguatan koordinasi lintas sektor. Upaya tersebut ditempuh Penanggung Jawab (PJ) Brigade Pangan Provinsi Bengkulu, Inneke Kusumawaty pada Rapat Koordinasi (Rakor) BP di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Arga Makmur, Kabupaten Bengkulu Utara pada Rabu (11/3).
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty selaku PJ Brigade Pangan Provinsi Bengkulu mengatakan Rakor membahas sejumlah langkah strategis Percepatan Tanam dan penguatan peran Brigade Pangan mendukung target swasembada pangan nasional.
Rakor dihadiri oleh PJ Swasembada Pangan Provinsi Bengkulu, AM Idil Fitri; Kepala BBRMP, Shannora Yuliasari; Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Pemprov Bengkulu diwakili Kabid Tanaman Pangan, Rosmala Dewi; Plt Kepala Dinas TPHP Kabupaten Bengkulu Utara Juwita Abadi; Katimker Kabupaten Bengkulu Utara dan para Penyuluh Lapangan (PLL) wilayah Bengkulu Utara.
Upaya PJ Brigade Pangan Provinsi Bengkulu sejalan arahan Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman bahwa peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) menjadi strategi utama memperkuat produksi pangan nasional.
“Pemerintah terus mendorong Percepatan Tanam melalui Optimalisasi Lahan dan Peningkatan Indeks Pertanaman. Setiap potensi lahan harus dimanfaatkan maksimal, agar produksi pangan meningkat dan target swasembada pangan dapat tercapai,” katanya.
Mentan menekankan pentingnya sinergi seluruh pihak mengawal program lapangan. Keberhasilan swasembada pangan tidak bisa dicapai sendiri, diperlukan kolaborasi kuat pemerintah pusat dan daerah, penyuluh bersama petani agar program peningkatan produksi pangan berjalan efektif.
Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti mengingatkan bahwa keberhasilan program Brigade Pangan ditentukan oleh kekuatan pendampingan penyuluh dan sinergi antar pemangku kepentingan.
“Penyuluh pertanian memiliki peran strategis memastikan program-program Kementan berjalan efektif di lapangan. Pendampingan yang intensif, penyuluh mampu mengawal percepatan tanam, pemanfaatan sarana produksi dan penguatan kapasitas petani sehingga target peningkatan LTT tercapai,” ujar Santi.
BBPKH Cinagara
Kepala Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Inneke Kusumawaty selaku PJ Brigade Pangan Provinsi Bengkulu mengatakan bahwa pembentukan Brigade Pangan bertujuan meningkatkan indeks pertanaman dan percepatan tanam wilayah sentra produksi.
“Tujuan didirikannya Brigade Pangan, untuk mendorong peningkatan indeks pertanaman. Ketika sudah ada komitmen kerja sama, termasuk dengan dukungan Cetak Sawah Rakyat disingkat CSR," katanya.
Inneke Kusumawaty menambahkan, pembentukan Brigade Pangan perlu segera dilakukan agar dapat memprioritaskan pemanfaatan alat dan mesin pertanian (Alsintan) secara optimal.
Dia juga menekankan pentingnya peran penyuluh pertanian sebagai pendamping di lapangan, agar implementasi program dapat berjalan efektif.
“Pendampingan dari penyuluh menjadi kunci keberhasilan program. Penyuluh tidak hanya mendampingi Brigade Pangan dalam penerapan teknologi budidaya, juga mengawal pemanfaatan bantuan sarana produksi dan Alsintan agar mampu mendorong peningkatan produktivitas dan LTT," ungkap Inneke Kusumawaty.
Swasembada Pangan
Sementara PJ Swasembada Pangan Provinsi Bengkulu, AM Idil Fitri menekankan pentingnya pengawalan program di lapangan, khususnya pada wilayah yang memiliki potensi pengembangan luas tanam yang besar.
“Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Pulau Enggano, yang memiliki potensi pengembangan lahan sekitar 200 hektar," katanya.
Saat ini benih telah tersedia di wilayah tersebut, kata Idil Fitri, namun belum dapat dimanfaatkan karena masih menunggu kesiapan waktu tanam yang direncanakan pada Mei hingga Juni 2026.
Dia juga menyoroti perlunya pengawalan dalam proses serah terima bantuan antara Brigade Pangan dengan kelompok tani (Poktan) penerima, agar pemanfaatan sarana produksi dapat berjalan optimal.
“Dari sisi ketersediaan sarana produksi, pupuk dilaporkan dalam kondisi tersedia, namun tingkat serapan masih rendah, yakni baru sekitar 5 persen," ungkap Idil Fitri.
Meskipun pada tahun sebelumnya serapan pupuk di wilayah Bengkulu tercatat cukup baik, katanya, mencapai 80 persen pada 2025.
“Secara keseluruhan, target LTT Provinsi Bengkulu tahun 2026 mencapai 104.000 hektar dengan indeks pertanaman sekitar 2,5 kali dalam setahun. Sementara itu, Kabupaten Bengkulu Utara ditargetkan mencapai 7.827 hektar,” pungkas Idil Fitri.
Plt Kepala Dinas TPHP Kabupaten Bengkulu Utara, Juwita Abadi mengungkapkan bahwa Pulau Enggano saat ini belum memiliki Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) maupun Koordinator Penyuluh (Korluh).
"Oleh karena itu, diperlukan langkah koordinasi dengan BPPSDMP Kementan, untuk penempatan tenaga penyuluh guna mendukung percepatan program," katanya. [yudi/timhumas bbpkh cinagara]
North Bengkulu of Bengkulu [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers
The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.
Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.
“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.
He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.
He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.
"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.
