Melon Premium, P4S Banyulana Tanamkan Santri Kemandirian dan Ketahanan Pangan

West Java`s Lembang Agricultural Training Center Support Indonesian Farmers

Editor : M. Achsan Atjo
Translator : Dhelia Gani


Melon Premium, P4S Banyulana Tanamkan Santri Kemandirian dan Ketahanan Pangan
BBPP LEMBANG: Kabalai Lembang, Ahmad Dedy Syathori bersama Ketua P4S Banyulana, Darif Haidarifan [tengah] beserta jajaran BBPP Lembang di sela kunjungan pada keunikan P4S Banyulana, pada pengelolaan P4S yang melibatkan santri sebagai bagian utama dari kegiatan pertanian.

 

Ciamis, Jabar (B2B) - Budidaya melon premium menjadi salah satu langkah Pondok Pesantren Banyulana di Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, dalam upaya membangun kemandirian ekonomi sekaligus mengenalkan pertanian modern kepada para santri melalui Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Banyulana.

Potensi tersebut mengemuka pada kunjungan Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Ahmad Dedy Syathori bersama penyuluh Kabupaten Ciamis mengunjungi P4S Banyulana dan diterima oleh Ketua P4S Banyulana, Darif Haidarifan di kantornya, Rabu (14/10). 

Kabalai Lembang, Ahmad Dedy Syathori mengakui P4S Banyulana menjadikan pertanian tidak hanya menjadi sumber pendapatan, juga sarana pendidikan ketahanan pangan yang dikembangkan dari, oleh, dan untuk santri.

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat peran P4S sebagai wadah pembelajaran dan pengembangan kapasitas petani, khususnya generasi muda.

Menteri Pertanian RI (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa P4S memiliki peran strategis mencetak petani muda yang kompeten dan berdaya saing. 

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menekankan tentang pentingnya P4S sebagai ruang pembelajaran vokasi pertanian yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

BBPP Lembang
Kabalai Lembang Ahmad Dedi Syathori mengakui keunikan P4S Banyulana terletak pada pengelolaannya yang melibatkan santri sebagai bagian utama dari kegiatan pertanian. 

"Model tersebut membuka kesempatan bagi santri untuk memperoleh pengalaman langsung dalam proses produksi, mengenal teknologi budidaya hingga memahami nilai ekonomi dari hasil pertanian," katanya.

Menurut Ahmad Dedi Syathori, Pembelajaran tersebut juga menjadi cara untuk menanamkan kesadaran mengenai pentingnya ketahanan pangan sejak dini. 

"Santri tidak hanya belajar menghasilkan pangan, juga memahami bahwa sektor pertanian dapat menjadi pilihan usaha dan sumber penghidupan yang menjanjikan," katanya.

P4S Banyulana
Ketua P4S Banyulana, Darif Haidarifan mengatakan, Pondok Pesantren Banyulana berdiri sejak 1979, dan mulai mengembangkan budidaya melon premium pada 2021. 

"Sistem budidaya di dalam greenhouse, maka pesantren menghasilkan melon varietas Sweet Net yang menjadi salah satu komoditas unggulannya," katanya.

Menurutnya, pengembangan awal budidaya melon diinisiasi melalui kerja sama dan dukungan Bank Indonesia. 

Usaha budidaya melon kini memberikan kontribusi nyata bagi keberlangsungan pesantren. Pendapatan dari penjualan hasil panen mampu memenuhi hampir seluruh kebutuhan operasional pesantren sekaligus mendukung kebutuhan santri. 

"Capaian ini menunjukkan bahwa kegiatan pertanian dapat menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian lembaga pendidikan berbasis pesantren," kata Darif Haidarifan.

Cabai dan Kakao
Darif Haidarifan mengatakan, pengembangan P4S Banyulana terus dilakukan, baik dari sisi sarana maupun jenis komoditas. Selain melon premium, pesantren mengembangkan budidaya cabai dan kakao. 

Hasil panennya, dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, termasuk memasok komoditas ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). 

"Fasilitas pendukung seperti screen house otomatis dan rumah kompos turut dikembangkan untuk menunjang kegiatan produksi dan pembelajaran," katanya.

Dia menegaskan, P4S Banyulana tidak hanya berorientasi pada kegiatan produksi, juga menjadi tempat belajar bagi santri, pemuda tani, dan masyarakat sekitar.

“Sebagai wadah pelatihan, kini P4S ini melatih santri dari dalam maupun luar kota, pemuda tani, dan masyarakat sekitar. Teknologi budi daya modern hingga pertanian organik melalui kegiatan Ngaji Tani,” katanya saat ditemui Kamis (15/10).

P4S Madya
Diketahui, pada 2025, P4S Banyulana dikukuhkan sebagai P4S kelas Madya. Pengakuan tersebut menjadi bagian dari perkembangan kelembagaan yang terus memperkuat perannya menyelenggarakan pelatihan pertanian berbasis potensi dan kebutuhan masyarakat.

Kabalai Lembang Ahmad Dedi Syathori mengakui, melalui pengembangan P4S Banyulana, pesantren membuktikan bahwa pendidikan agama dan keterampilan pertanian dapat berjalan beriringan. 

"Dengan mengintegrasikan pembelajaran, produksi dan pemasaran, pertanian menjadi bekal bagi santri untuk membangun kemandirian sekaligus mengambil peran dalam regenerasi petani," katanya.

Ke depan, ungkap Ahmad Dedi Syathori, P4S Banyulana diharapkan terus berkembang sebagai pusat pembelajaran pertanian yang menginspirasi pesantren lain. 

Dari lingkungan pesantren, semangat bertani dapat tumbuh menjadi gerakan nyata untuk memperkuat kemandirian ekonomi, melahirkan petani muda, dan mendukung ketahanan pangan masyarakat. [dary/afriski/chetty/timhumas bbpplembang]

 

 

 

 

 

Ciamis of West Java [B2B] - The role of agricultural training center as the Technical Implementation Unit [UPT] of Indonesian Agriculture Ministry across the country such as the Agricultural Training Center or the BBPP seeks to improving the competence and welfare of Indonesian farmers

The objective of the Indonesia Agriculture Ministry or the Kementan is to increase production and productivity, increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reduce the effect of greenhouse gases, and increase the income of farmers in irrigated areas and swamp areas.

Indonesian Agriculture Minister Andi Amran Sulaiman stated that the government´s commitment to developing agriculture, especially in the development of advanced, independent and modern agricultural human resources.

“The goal is to increase the income of farming families and ensure national food security. Farmer regeneration is a commitment that we must immediately realize," Minister Sulaiman said.

He stated that increasing farmers´ knowledge and skills in implementing climate smart agriculture, reducing the risk of crop failure, reducing the greenhouse gas effect and increasing farmers´ income in irrigated areas and swamp areas.

He reminded about the important role of vocational education, to produce millennial farmers who have an entrepreneurial spirit.

"Through vocational education, we connect campuses with industry so that Polbangtan graduates meet their needs and are ready for new things," Sulaiman said.