Bunga di Tepi Lahan
Sekutu Petani Lawan Hama
Prof. Dr. Ir. ACHMAD SUSILO, MS.
Ir. DWIE RETNA SURYANINGSIH, MP
Pemerhati Pertanian
DI TENGAH hamparan tanaman kedelai, kacang tanah, atau selada, kehadiran bunga-bunga di tepi lahan sering kali dianggap tidak penting.
Bunga bahkan kadang dipandang sebagai tanaman pengganggu yang mengambil ruang dan berpotensi menjadi pesaing tanaman utama.
Kendati demikian, di balik tampilan yang sederhana, tanaman berbunga tertentu justru dapat menjadi ´sekutu´ petani menghadapi serangan hama.
Bunga-bunga tersebut dapat ditanam sebagai refugia, yaitu tanaman yang sengaja dihadirkan di sekitar atau di antara lahan budidaya untuk menyediakan tempat berlindung, sumber makanan, terutama nektar dan polen, serta lingkungan yang mendukung keberadaan musuh alami hama.
Dengan demikian, pengendalian hama tidak hanya mengandalkan pestisida, juga memanfaatkan kekuatan alam melalui keseimbangan ekosistem.
Gagasan ini sederhana: jika petani ingin memiliki musuh alami yang cukup untuk membantu mengendalikan hama, maka lingkungan yang mendukung kehidupan musuh alami tersebut harus tersedia.
Sahabat Petani
Dalam ekosistem pertanian sebenarnya terdapat berbagai organisme yang saling berinteraksi. Tidak semua serangga yang ditemukan pada tanaman merupakan hama.
Sebagian justru berperan sebagai predator atau parasitoid yang memangsa atau memarasit serangga hama.
Ada kumbang yang memangsa kutu daun, laba-laba yang menangkap berbagai jenis serangga, kepik predator yang memangsa telur dan nimfa hama, serta berbagai jenis parasitoid yang berkembang dengan memanfaatkan tubuh serangga hama sebagai inangnya.
Kehadiran organisme-organisme tersebut merupakan salah satu bentuk pengendalian hayati yang berlangsung secara alami.
Masalahnya, lingkungan pertanian modern sering kali kurang memberikan ruang bagi musuh alami tersebut.
Penggunaan pestisida secara berlebihan, hilangnya vegetasi di sekitar lahan, dan sistem budidaya yang terlalu seragam dapat mengurangi sumber makanan dan tempat berlindung bagi berbagai organisme yang sebenarnya bermanfaat bagi petani.
Di sinilah refugia memainkan peran penting.
Refugia bukan sekadar ´tanaman bunga tambahan´. Refugia merupakan bagian dari strategi pengelolaan agroekosistem.
Tanaman refugia dapat menyediakan nektar bagi serangga dewasa tertentu, polen sebagai sumber nutrisi, tempat berlindung, tempat bertengger, bahkan mikrohabitat yang mendukung keberlangsungan musuh alami.
Dengan kata lain, petani tidak hanya berusaha membunuh hama, juga berusaha membangun lingkungan yang membuat musuh alami mampu bertahan dan berkembang.
Kendalikan Hama
Bagi manusia, bunga identik dengan keindahan, sementara bagi sebagian serangga, bunga adalah sumber kehidupan.
Nektar dan polen yang tersedia pada bunga dapat menjadi sumber makanan bagi serangga dewasa tertentu, termasuk kelompok parasitoid.
Ketika masih dalam fase larva, sebagian parasitoid tersebut hidup dengan memanfaatkan serangga hama sebagai inangnya.
Dengan menyediakan tanaman berbunga, petani dapat membantu mempertahankan populasi parasitoid di sekitar pertanaman.
Hal yang sama berlaku bagi beberapa kelompok predator. Vegetasi di sekitar pertanaman dapat memberikan tempat berlindung dan lingkungan yang lebih sesuai bagi predator seperti laba-laba, kumbang predator, kepik predator, dan kelompok serangga bermanfaat lainnya.
Karena itu, konsep refugia sesungguhnya berangkat dari prinsip ekologis yang sangat sederhana: keanekaragaman hayati yang dikelola dengan baik dapat membantu menciptakan ekosistem pertanian yang lebih seimbang.
Tentu saja, refugia bukan berarti membuat hama hilang sama sekali. Tujuannya adalah membantu menjaga populasi hama agar tetap berada pada tingkat yang tidak menimbulkan kerugian ekonomi serius.
Dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), keberadaan hama tidak selalu harus dimusnahkan. Hal terpenting adalah menjaga populasi hama di bawah tingkat yang merugikan secara ekonomi.
3 Tanaman 1 Strategi
Strategi pemanfaatan refugia dapat diterapkan pada berbagai komoditas pertanian. Kedelai, kacang tanah, dan selada merupakan contoh tanaman yang dapat dibudidayakan dengan pendekatan pengelolaan organisme pengganggu tanaman yang lebih ramah lingkungan.
Pada tanaman kedelai, berbagai jenis serangga dapat menyerang tanaman sejak fase vegetatif hingga pembentukan polong.
Kehadiran musuh alami di sekitar pertanaman dapat membantu menekan perkembangan populasi beberapa kelompok hama.
Refugia yang ditanam di sekitar lahan dapat menjadi sumber makanan dan tempat berlindung bagi predator maupun parasitoid.
Pada kacang tanah, keberadaan organisme pengganggu tanaman juga perlu diperhatikan sejak awal pertumbuhan.
Pengelolaan lahan yang tidak hanya berorientasi pada tanaman utama, juga memperhatikan organisme bermanfaat, dapat menciptakan kondisi agroekosistem yang lebih mendukung pengendalian hayati.
Sementara itu, selada memiliki karakteristik tersendiri. Sebagai sayuran yang dikonsumsi dalam kondisi relatif segar, perhatian terhadap penggunaan pestisida menjadi semakin penting.
Pengelolaan hama dengan mengutamakan monitoring, konservasi musuh alami, dan teknik pengendalian yang tepat dapat menjadi pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pestisida.
Ketiga komoditas tersebut memang berbeda, tetapi prinsip pengelolaannya dapat memiliki benang merah yang sama: membangun agroekosistem yang mampu membantu dirinya sendiri dalam menghadapi gangguan hama.
Manfaat Refugia
Refugia bukan sekadar menanam bunga. Ada satu hal yang perlu diluruskan. Tidak semua tanaman berbunga otomatis menjadi refugia yang efektif.
Pemilihan jenis tanaman refugia perlu mempertimbangkan berbagai aspek, antara lain jenis musuh alami yang ingin dipertahankan, waktu berbunga, ketersediaan nektar dan polen, kesesuaian dengan lingkungan setempat dan kemungkinan tanaman tersebut menjadi inang alternatif bagi hama.
Penempatan refugia juga perlu direncanakan. Tanaman refugia dapat ditempatkan di tepi lahan, pada batas petakan, atau pada lokasi tertentu di sekitar pertanaman dengan tetap memperhatikan kebutuhan tanaman utama.
Prinsipnya bukan sekadar memperindah lahan, tetapi menciptakan habitat yang mendukung organisme yang diharapkan.
Refugia juga harus dikelola. Tanaman yang terlalu rimbun, tidak terawat, atau justru menjadi sumber organisme pengganggu perlu dikendalikan. Penerapan refugia membutuhkan pengamatan secara berkala.
Petani perlu melihat lahan bukan hanya dari sudut pandang tanaman produksi, tetapi sebagai sebuah ekosistem kecil yang di dalamnya terdapat tanaman, hama, musuh alami, mikroorganisme, tanah, air, dan lingkungan sekitar yang saling berhubungan.
Ubah Cara Pandang
Salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian hama adalah cara pandang. Ketika melihat serangga di tanaman, reaksi pertama yang sering muncul adalah keinginan segera menyemprotkan pestisida padahal, tidak semua serangga adalah musuh.
Petani perlu belajar membedakan antara hama dan organisme yang justru membantu tanaman.
Kumbang predator, laba-laba, kepik predator, parasitoid, dan organisme bermanfaat lainnya perlu dikenali dan dilindungi.
Dalam konteks ini, refugia bukan hanya teknologi budidaya. Refugia juga merupakan alat pendidikan ekologis bagi petani.
Ketika petani melihat bahwa bunga di tepi lahan ternyata didatangi berbagai jenis serangga bermanfaat, cara pandang terhadap lingkungan pertanian dapat berubah.
Lahan tidak lagi dipandang sebagai tempat tanaman produksi semata, tetapi sebagai ekosistem yang memiliki mekanisme pengaturan secara alami.
Perubahan cara pandang inilah yang sangat penting untuk membangun pertanian yang berkelanjutan.
Musuh Alami
Pestisida tetap ada, tetapi harus digunakan secara bijaksana. Pemanfaatan refugia dan konservasi musuh alami bukan berarti pestisida harus ditinggalkan sepenuhnya.
Dalam kondisi tertentu, pestisida masih diperlukan apabila populasi hama telah mencapai tingkat yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi.
Yang perlu diubah adalah cara penggunaannya. Pestisida seharusnya tidak menjadi pilihan otomatis setiap kali ditemukan serangga pada tanaman.
Pengendalian harus didasarkan pada hasil pengamatan dan pertimbangan tingkat serangan.
Apabila pestisida memang diperlukan, pemilihan jenis, dosis, waktu, dan cara aplikasinya harus dilakukan secara tepat agar dampaknya terhadap organisme bukan sasaran, termasuk musuh alami, dapat ditekan.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip Pengendalian Hama Terpadu. Petani tidak berperang sendirian melawan hama.
Petani dapat memanfaatkan berbagai komponen pengendalian secara terpadu, termasuk teknik budidaya, pengendalian hayati, mekanis, fisik, dan penggunaan pestisida secara bijaksana bila diperlukan.
Agroekosistem Seimbang
Membangun pertanian berkelanjutan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang mahal dan rumit. Terkadang, perubahan dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: menanam bunga di tepi lahan dan membiarkan alam bekerja.
Refugia memang bukan solusi tunggal untuk seluruh persoalan organisme pengganggu tanaman.
Efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh jenis tanaman, kondisi lingkungan, jenis hama, keberadaan musuh alami, tata letak lahan, serta cara pengelolaan pertanian secara keseluruhan.
Kendati demikian, refugia menawarkan sebuah pendekatan yang menarik karena mengajak manusia bekerja bersama proses ekologis, bukan selalu melawannya.
Pada pertanaman kedelai, kacang tanah, dan selada, keberadaan refugia dapat menjadi salah satu komponen dalam membangun lingkungan pertanian yang lebih beragam.
Di dalam lingkungan tersebut, musuh alami memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan makanan, tempat berlindung, dan habitat yang mendukung kehidupannya.
Dengan demikian, bunga-bunga yang tumbuh di tepi lahan bukan lagi sekadar penghias.
Mereka dapat menjadi bagian dari strategi konservasi musuh alami dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Pada akhirnya, petani tidak harus selalu memilih antara produksi dan kelestarian lingkungan. Keduanya dapat berjalan bersama apabila agroekosistem dikelola secara bijaksana.
Bunga di tepi lahan mungkin terlihat sederhana. Akan tetapi ketika bunga tersebut mampu mengundang parasitoid, menyediakan tempat bagi predator, dan membantu menjaga keseimbangan populasi hama.
Sesungguhnya kita sedang melihat sebuah bentuk teknologi pertanian yang bekerja dengan memanfaatkan kekuatan alam.
Menanam refugia berarti memberi ruang bagi alam untuk membantu petani. Masa depan pertanian yang lebih sehat bukanlah pertanian tanpa serangga, melainkan pertanian yang mampu membedakan: mana yang harus dikendalikan dan mana yang justru harus dilindungi. [gusmi w]
Disclaimer : B2B adalah bilingual News, dan opini tanpa terjemahan inggris karena bukan tergolong berita melainkan pendapat mewakili individu dan/atau institusi. Setiap opini menjadi tanggung jawab Penulis
