Kartu Jakarta Pintar Dapat Diberlakukan Secara Nasional, kata Jokowi

Jokowi: Jakarta Smart Card Could be Imposing at National Level

Reporter : Roni Said
Editor : Cahyani Harzi
Translator : Dhelia Gani


Kartu Jakarta Pintar Dapat Diberlakukan Secara Nasional, kata Jokowi
Foto: kompas.com

Jakarta (B2B) - Program Kartu Jakarta Pintar (KJP) perlu diterapkan hingga tingkat nasional bukan sekadar masalah sekolah gratis melainkan mencakup seluruh biaya pendidikan. Pasalnya, siswa putus sekolah lantaran tidak sanggup membeli perlengkapan sekolah seperti baju seragam, buku dan sepatu.

Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi)
mengatakan dengan sistem KJP yang memberikan bantuan langsung untuk biaya pendidikan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga cukup besar yakni mencapai 20%.

"Saya kira dengan anggaran pendidikan yang 20 persen. Bisa dilakukan di tingkat nasional, karena kita lihat baik di SMP dan SD sangat dibutuhkan sekali," kata Jokowi, saat meninjau pelaksanaan KJP di SMPN 223, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (18/3).

Menurut Jokowi, banyak kalangan tidak memahami biaya pendidikan. Dicontohkan, anak tidak akan sekolah jika tidak memiliki seragam atau sepatu, meski uang sekolah sudah gratis.

"Itu yang saya temui di lapangan, banyak yang kelihatan tidak memahami biaya pendidikan. Banyak yang menyampaikan sekolah gratis tapi biaya sekolah banyak sekali, seperti tas, buku, sepatu, seragam," ujarnya.

Ditegaskan Jokowi, program KJP sangat bisa diterapkan di tingkat nasional. Permasalahannya hanya tinggal mau atau tidak mau saja. Terlebih, Jakarta sudah menjalankan terlebih dahulu dan bisa dijadikan percontohan.
"Sistem di kota, provinsi, atau nasional sama saja, hanya kita mau atau tidak mau saja. Artinya ada manajemen sistem nasional yang mendengar keinginan dari anak-anak yang tidak mampu," ucapnya.

Sementara itu, pada kesempatan kali ini Jokowi juga ingin memastikan bahwa distribusi KJP berjalan dengan lancar. Sebab, penyalurannya sempat tertunda lantaran molornya pengesahan APBD.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Lasro Marbun menambahkan, data sementara ada sebanyak 620 ribu siswa yang telah terverifikasi berhak mendapatkan KJP. Pihaknya terus melakukan pendataan sebab masih ada siswa yang mendaftarkan diri. Anggaran yang dibutuhkan untuk KJP tahun ini diperkirakan mencapai Rp 1,5 triliun.

 "Kalau tidak terpenuhi di anggaran sekarang, kita akan ajukan di APBD Perubahan," ucapnya.

Pihaknya, tambah Lasro, mengingatkan kepada masyarakat bahwa KJP hanya diperuntukan bagi yang membutuhkan. Ia pun mengatakan, selama ini KJP tidak salah sasaran, walaupun masih terdapat beberapa kekeliruan, namun masih dianggap wajar.

"Selama kita evaluasi tidak terlalu signifikan, kalau ada satu sampai dua itu wajar," tandasnya.

Jakarta (B2B) - Jakarta Smart Card (KJP) program could be imposed at the level of national. Besides free school problems, the entire cost of education is also important. Moreover, many children are not in school because they cannot buy school supplies, like uniforms.

Jakarta Governor, Joko Widodo disclosed KJP program that provides a direct service for education cost is much needed by public. The amount of the cost allocated to education sector on State Budget (APBN) is about 20 percent.

"KJP program can be using at national level, because the junior high school (SMP) and slementary school (SD) needs it," he stated, when reviewed KKP implementation at State SMP 223, Pasar Rebo, East Jakarta, Tuesday (3/18).

According to him, many people do not understand the cost of education. He cited the child would not go to school if they did not have school uniforms or shoes, even though its tuition has been free.

"I saw this problem in the field where people don`t understand the cost of education. There are lots of free schools, but its cost is expensive, like bags, books, shoes, uniforms," ??he expressed.

In addition, Jakarta has imposed such program at national level beforehand and can be used as a pilot.

"The system in the city, provincial, or national is same, but it depends on we want or not. That means there is a national system of management which heard the desire of the low-income people," he exclaimed.

On that occasion, Jokowi also wants to make sure that the KJP distribution has been running smoothly. The reason is its distribution had delayed due to the slow ratification of the budget.

Jakarta Education Department Head, Lasro Marbun added according to temporary data, 620 thousand of students that have been verified must enjoy the KJP service. His sub-department keeps collecting the date because of there are still found students who enroll. The fund required for KJP this year is predicted to reach Rp 1.5 trillion.

"If it`s not met, we will propose it in the amendment budget," he stressed.

He reminds residents that KJP is only intended to the needy. All this time, KJP is always right on target, despite there are still some errors but still considered normal.

"As long as we do evaluation, it is not very significant. If there is 1-2, it is normal," he finished.