Presiden RI ke-7, Media Asing Puji Dukungan Rakyat terhadap Jokowi
Joko Widodo Sworn in as Indonesia`s New President
Editor : Ismail Gani
Translator : Novita Cahyadi
JOKO Widodo melengkapi perjalanan hidupnya dari warga biasa yang hidup di bantaran kali ke istana presiden pada Senin (20/10), sorak-sorai puluhan ribu warga menyambut hari pelantikannya sebagai Presiden RI ke-7 di jalan-jalan utama di Jakarta, seakan menjawab dominasi kubu partai oposisi di parlemen, dengan dukungan kepercayaan rakyat Indonesia terhadap pemerintahan Jokowi-JK lima tahun ke depan.
Presiden termuda Indonesia berusia 53 tahun ini harus membuat keputusan penting dan berani, dan segera, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia, negara berpenduduk 250 juta jiwa. Para pendukung Jokowi-JK menyatakan dukungan terhadap reformasi di masa pemerintahannya yang diperkirakan mendapat tantangan hebat dari pihak oposisi yang dipimpin oleh mantan jenderal di era Soeharto, yang kalah dalam pemilihan presiden 9 Juli lalu.
Namun kekhawatiran adanya perlawanan oposisi terhadap pemerintahan Jokowi-JK dijawab oleh massa pendukung yang diorganisir oleh para relawan yang menyambutnya saat keluar dari gedung parlemen, yang pertama dalam sejarah Indonesia, menyambut pelantikan presiden. Setelah berjalan beberapa kilometer, kedua pemimpin baru Indonesia, turun dari mobil kepresidenan, lalu naik ke kereta kencana, menyambut sorak-sorai rakyat yang menyambut pelantikan Jokowi-JK sebagai pemimpin baru Indonesia, seperti dilansir MailOnline.
"Untuk nelayan, buruh, petani, pedagang, penjual bakso, para pedagang kaki lima, supir, akademisi, buruh, tentara, polisi, pengusaha dan profesional, saya katakan mari kita semua bekerja keras, bersama-sama, bahu-membahu, karena ini adalah saat bersejarah, "kata Joko Widodo dalam pidato pelantikannya, disaksikan oleh para pemimpin regional dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry.
Joko Widodo, yang akrab disapa Jokowi, terpilih dengan kemenangan 53% suara, dengan sebagian besar dukungannya berasal dari rakyat miskin, warga desa yang memilihnya karena sikapnya yang sederhana dan kinerja baik sebagai gubernur Jakarta.
Putra seorang pembuat mebel, yang dibesarkan di sebuah rumah sederhana di tepi sungai Kalianyar di Solo, sebuah kota di Pulau Jawa.
Dia adalah pemimpin Indonesia pertama yang bukan berasal dari warga terpandang, bukan dari kalangan yang cenderung korup, bukan dari kalangan politisi, terkait bisnis negara dan bukan dari elit militer.
"Saya tergugah ke sini setelah mendengar pidato pelantikan Jokowi pagi ini sebagai presiden, sesuatu yang melegakan," kata Rukasih Wanti, berdiri di bawah payung biru bersama kedua anaknya menanti kedatangan Jokowi setelah dilantik. "Dia layak untuk mendapatkan sambutan dari rakyat dan rakyat Indonesia belum pernah menyambut presidennya seperti ini, ini belum pernah terjadi di masa lalu."
Polisi memperkirakan bahwa 50.000 orang menghadiri pesta rakyat, yang membuat lalu lintas macet. Jumlah itu meningkat dua kali lipat saat warga menonton konser rakyat menyaksikan Jokowi berpidato dan memotong nasi tumpeng sebelum kembali ke istana untuk bertemu dengan para pemimpin negara-negara sahabat yang menghadiri pelantikannya.
Indonesia adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dan sekitar 90 persen penduduknya adalah Muslim. Setelah puluhan tahun berada di bawah pemerintahan diktator Soeharto, Indonesia mengalami reformasi pada 1998 dan jatuhnya rezim Orde Baru. Sejak saat itu, terjadi transisi menuju sistem demokrasi. Sementara sebagian rakyatnya tetap miskin dan ketimpangan sosial yang meningkat, Indonesia juga surga bagi kelas menengah yang berkembang pesat.
Presiden sebelumnya, Susilo Bambang Yudhoyono sibuk melakukan konsolidasi demokrasi dan melawan Islam militan. Namun pertumbuhan ekonomi tidak diimbangi kemampuan menghasilkan komoditas pangan di dalam negeri, dan pembangunan terhambat oleh lemahnya infrastruktur, dan korupsi yang merajalela.
Jokowi menargetkan pertumbuhan ekonomi 7% pada tahun-tahun mendatang. Untuk mewujudkan target tersebut, dia harus berani melakukan reformasi untuk menarik investasi asing, serta kondisi eksternal yang kondusif. Masalah utamanya ke depan adalah menyikapi kebijakan ekonomi AS menyangkut suku bunga The Fed, yang dapat menyedot devisa negara, tekanan terhadap rupiah, dan kekhawatiran pasar.
Para ekonom mengatakan Jokowi harus segera memutuskan rencana pemotongan subsidi BBM yang menyedot APBN hingga US$30 miliar tahun ini. Langkah kenaikan harga BBM dikhawatirkan memicu protes dari para lawan politiknya dan dapat memicu demonstrasi.
Dia juga bakal mengundang perlawanan dari pihak oposisi yang masih kesal akibat kalah dalam Pilpres terhadap calon presiden yang mereka usung, Prabowo Subianto. Koalisi oposisi terhadap Jokowi berhasil meraih sebagian besar posisi penting di parlemen dan bulan lalu memilih untuk mengakhiri pilkada langsung, kunci transisi demokrasi di negara itu sejak Soeharto digulingkan pada tahun 1998.
Prabowo Subianto menghadiri pelantikan Jokowi sebagai presiden di Senayan pada Senin dan bertemu dengan Joko Widodo pekan lalu untuk menawarkan dukungan yang memenuhi syarat bagi pemerintahannya.
Banyak ketidakpastian terhadap cara efektif Jokowi untuk bernegosiasi dengan oposisi, dan berapa besar kekuatan oposisi mengganggu pemerintahannya kelak. Penolakan awal Prabowo Subianto untuk menerima hasil pemilu dan komentar-komentar dari beberapa pendukungnya menimbulkan spekulasi di kalangan analis bahwa ia akan berusaha untuk menggulingkan Widodo di tengah pemerintahannya.
Dalam pidato pelantikannya, Jokowi berjanji untuk mempertahankan kebijakan luar negeri "bebas dan aktif" di Indonesia, sikap penting untuk perlahan-lahan mengambil lebih banyak peran kepemimpinan di Asia Tenggara. Bekerja keras untuk menghentikan aliran pejuang asing ke Irak dan Suriah, mengelola hubungan dengan China dan menjaga hubungan yang rentan dengan Australia.
"Saya sangat tergugah oleh segala tindakan Presiden Jokowi. Dia jelas seorang tokoh karismatik dan inspiratif," kata Perdana Menteri Australia Tony Abbott, yang terbang ke Jakarta untuk menghadiri pelantikan presiden. "Saya pikir ada gelombang kepercayaan dan pembaharuan menyapu Indonesia sekarang."
JOKO Widodo completed a journey from riverside shack to presidential palace on Monday, cheered through the streets following his inauguration by tens of thousands of ordinary Indonesians in a reminder to the opposition-controlled parliament of the strong grass-roots support that swept him to power.
The 53-year-old must make tough decisions, and soon, to stand a chance of boosting economic growth in Indonesia, a sprawling nation of 250 million people. Supporters have already expressed concerns any reforms he tries to enact could be blocked by a hostile opposition led by the Suharto-era general he defeated in July's election.
But those thoughts were put aside momentarily Monday when Widodo and his deputy traveled from the parliament building to the presidential palace in an organized public party, the first in the country's history following an inauguration. After a few kilometers (miles), he left his car and took a horse and cart, flashing victory signs and shaking countless hands.
"To the fishermen, the workers, the farmers, the merchants, the meatball soup sellers, the hawkers, the drivers, the academics, the laborers, the soldiers, the police, the entrepreneurs and the professionals, I say let us all work hard, together, shoulder to shoulder, because this is a historic moment," Widodo said in his inauguration speech, witnessed by regional leaders and U.S. Secretary of State John Kerry.
Widodo, better known by his nickname of Jokowi, was elected with 53 percent of the vote, with most of his support coming from poor, non-urban Indonesians attracted by his simple demeanor and record of hard work as Jakarta governor.
The son of a furniture maker, he grew up in a rented bamboo shack on the banks of the river Kalianyar in Solo, a town on Java Island.
He is the first Indonesian leader not to come from the country's super rich, and often corrupt, political, business and military elite.
"I was moved by Jokowi's inauguration speech this morning, it was so beautiful," said Rukasih Wanti, standing under a blue umbrella with her two kids waiting for the president. "He deserves to get the people's respect and a celebration the likes of which has never happened in the past."
Police estimated that 50,000 people attended the street party, which brought traffic to a standstill. Around twice that many attended an evening concert where Widodo made a speech and cut the top of a traditional cone of rice before returning to the palace for meetings with visiting leaders.
Indonesia is the biggest economy in Southeast Asia, and about 90 percent of its people are Muslims. After years of dictatorship, the country was convulsed by political, ethnic and religious unrest in the late 1990s and early 2000s. Since then, it has consolidated its democratic transition. While most of the country remains poor and inequality is rising, it is home to a rapidly expanding middle class.
Outgoing President Susilo Bambang Yudhoyono's two terms in office saw democratic consolidation and a focused fight against Islamist militancy. But economic growth on the back of a commodities boom has slowed, and a recovery is being hampered by weak infrastructure, rampant corruption and red tape.
Widodo is targeting 7 percent growth in the coming years. To get close to that, he will need bold reforms to attract foreign investment, as well as favorable external conditions. A looming problem is expected hikes next year in what are record-low U.S. interest rates, which could suck funds from the country, pressurizing the rupiah and spooking the markets.
Economists say Widodo must soon decide how much to cut subsidies on fuel that unless trimmed will cost the government a budget-busting $30 billion-plus this year. The move will likely stoke protests from political opponents and could trigger street demonstrations.
He also can expect resistance from opposition parties still smarting from the election defeat of their candidate, Prabowo Subianto. The coalition against Widodo already has captured most of the important positions in parliament and last month voted to end direct regional elections, a key plank of the country's democratic transition since Suharto was ousted in 1998.
Subianto attended Monday's inauguration ceremony and met with Widodo last week to offer qualified support for his administration.
Much uncertainty remains over how effective Widodo will be in negotiating with the opposition, and how much of a disruptive role it will play. Subianto's initial refusal to accept the election results and the comments of some of his supporters led to speculation among analysts that he would seek to topple Widodo midterm.
In his inauguration speech, Widodo pledged to maintain the country's "free and active" foreign policy, a stance that has seen it slowly taking up more of a leadership role in Southeast Asia. Working to stop the flow of foreign fighters to Iraq and Syria, managing relations with China and keeping often testy ties with Australia on an even keel will be key tasks.
"I'm very encouraged by everything that President Jokowi has said up until now. He's obviously a charismatic and inspirational figure," said Australian Prime Minister Tony Abbott, who flew to Jakarta for the ceremony. "I think there's a wave of confidence and renewal sweeping Indonesia right now."
